OLEH: Ary Nu Manu Chairi, M.PD.I

Kajian Sejarah Arabiya Pra Islam

Selasa, 10 Januari 2017 | 17:06:59 WIB


Ary Nu Manu Chairi, M.PD.I
Ary Nu Manu Chairi, M.PD.I

Menurut bahasa, Arab artinya padang pasir, tanah gundul, dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada Jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal. Oleh karena sebagian besar tanah Arab berupa padang pasir dan gurun yang tandus, maka kebanyakan penduduknya hidup berpindah-pindah, hal ini menyebabkan timbulnya perselisihan antar satu suku dengan yang lainnya, karena memperebutkan lembah dan air.

Secara geografis, Jazirah Arab bentuknya memanjang, di sebelah barat dibatasi Laut Merah dan Gurun Sinai, disebelah timur dibatasi Teluk Arab dan sebagian besar negara Iraq di bagian selatan, di sebelah utara dibatasi Laut Arab yang bersambung dengan Lautan India, di sebelah utara dibatasi Negri Syam dan sebagian kecil dari negara Iraq, sekalipun mungkin ada sedikit perbedaan dalam penentuan batasan ini. Luasnya membentang antara satu juta mil sampai satu juta tiga ratus ribu mil. Secara letak geografis ini bangsa Arab terlindungi dari serangan dan penyerbuan penjajahan serta penyebaran Agama.

Jazirah Arab terletak di antara dua kebudayaan besar dunia, yaitu Romawi di Barat dan Persia di Timur. Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (Khurofat) keagamaan dan filosof yang saling bertentangan, sedangkan Romawi telah dikuasai sepenuhnya oleh semangat kolonialisme. Di Romawi kala itu terlibat pertentangan agama yang sangat luar biasa sehingga mengandalkan kekuatan militer untuk menjajah dan mereka sangat berambisi untuk mengembangkan agama Kristen ke seluruh dunia. Sementara itu, di jazirah Arab kehidupan dalam keadaan tenang, jauh dari hal-hal di atas, mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban seperti Persia yang memungkinkan mereka untuk kreatif dan mengembangkan ilmu filsafat, mereka juga tidak memiliki kekuatan militer seperti Romawi yang mendorong mereka untuk melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga, mereka juga tidak memiliki filosofi dan dialektika Yunani yang menjerat mereka menjadi bangsa mithos dan Khurofat. Karakteristik mereka (Bangsa Arab) seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain, masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong dan dermawan, hanya saja mereka tidak memiliki pengetahuan (Ma’rifat) yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu, sehingga mereka hidup dalam kegelapan dan kebodohan.

Akibatnya mereka (Bangsa Arab) sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaan dan lain sebagainya. Kemudian mereka gemar membunuh anak dengan dalih kemuliaan dan kesucian, memusnahkan harta kekayaan dengan alasan kedermawanan dan membangkitkan peperangan di antara mereka sendiri dengan alasan harga diri dan kepahlawanan. Sebelum datangnya Islam, sebagian besar suku Arab menyembah berhala, dengan bentuk yang berbeda-beda, jumlah berhala yang mereka sembah mencapai 360 berhala, yang seluruhnya terletak di sekitar Ka’bah dan mereka juga memenuhi Masjidil Haram dengan berbagai macam berhala dan patung. Tiap suku memiliki berhala sendiri, juga terdapat patung Nabi Ibrahim, Isa al-Masih, dan Hubal sebagai berhala suku Quraisy, berhala-berhala itu terbuat dari batu akik dan batu hitam. Begitulah kisah kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala, yang menjadi fenomena terbesar dari Agama orang-orang Jahiliyyah, yang menganggap dirinya berada pada Agama Ibrahim.


Advertisement

Komentar Facebook