Oleh : Wawan Novianto (Dosen DLB di IAIN STS Jambi Jurusan KPI dan Praktisi Media)

Popularitas dan Finansial Kunci Menang Pilwako Jambi?

Kamis, 19 Januari 2017 | 13:55:52 WIB


JUMLAH Daftar Pemilih Tetap (Kota Jambi) sekitar 400 ribuan. Berpenduduk heterogen, Kota Jambi menjadi kota yang unik dalam setiap gelaran politik.

Dalam teorinya, popularitas dan elektabilitas serta finansial menjadi penentu kemenangan di Pilkada. Apakah hal itu relevan dengan kondisi Kota Jambi?

Mari kita menilik hasil-hasil Pilwako dua edisi sebelumnya.

Pada Pilwako 2009, Bambang Priyanto yang merupakan kader PDIP berduet dengan M Sum Indra yang tak lain kader Partai Amanat Nasional (PAN). Hasilnya, Bambang-Sum dengan nomor urut 3 meraup sekitar 98.180 suara setara dengan 43,6 persen. Sementara PDIP mengusung Zulkifli Somad-Agus Roni nomor urut 1 dengan sekitar 27.533 suara (12,23%). PAN dan PDI ketika itu seolah bertukar kader. Zulkifli Somad yang PAN justru diusung PDIP. Pasangan lainnya, Pasangan nomor urut 4 Asnawi-Nuzul Prakasa yang berperahu Partai Golkar dan PKS meraih sekitar 77.043 suara (34,22 persen), Sutrisno-Effendi Hatta bernomor urut 2 dari Partai Demokrat dengan sekitar 22.405 suara (9,95%). 

Pilwako 2013, Pasangan nomor urut satu Bambang Priyanto‑Yeri Mutholib (Bayer) meraih suara dengan 26.660, selanjutnya pasangan Sum Indra‑Maulana (Simpatik) meraih suara dengan 85.394, pasangan Sy Fasha‑Abdullah Sani (FAS) meraih suara 88.464 dan selanjutnya pasangan Effendi Hatta dan Asnawi Ab (Fena) meraih suara 47.646.

Pada 2009, benarkah popularitas Bambang Priyanto tinggi? Bambang yang ketika itu hanya seorang dokter umum kebetulan seperti mendapat warisan pemilih dari Turimin, wakil Walikota yang tiba-tiba meninggal sebelum maju di Pilwako. Padahal, sosok Turimin sangat digadang-gadangkan kala itu. Selain popularitas yang tinggi, ia juga dikenal dekat dengan masyarakat. Belum lagi sebagai tokoh Jawa dan kala itu merupakan kader PDIP. Dimana PDIP memang Pileg pada 2009.

Pada Pilwako 2009, popularitas malah cenderung ada pada sosok Asnawi Ab. Saat itu, ia menjabat sebagai Sekda Kota Jambi. Sebagai tokoh seberang, ia memiliki kans yang sangat besar. Apalagi saat itu semua SKPD berada di bawah ketiaknya. Arifin Manap yang turun tahta, juga tentu bergerak, apalagi pasangan Asnawi adalah Nuzul Prakasa, yang tak lain adalah Keponakan Arifin Manap.

Namun nyatanya, popularitas dan hegemoni di SKPD tak mampu memenangkan Asnawi- Nuzul Prakasa.

Selanjutnya pada Pilwako 2013, siapa yang tidak kenal Bambang? Sebagai kandidat incumbent? Tentu popularitasnya tinggi. Ditanya soal finansial, apalagi. Salah satu alasan Zulkifli Nurdin rela meletakkan Sum Indra sebagai Wakil Bambang pada 2009 dikabarkan salah satunya karena finansial. Lalu, apakah setelah menjabat 5 tahun Bambang tidak bertambah kaya? Loh kok dia malah posisi ke tiga pada hasil Pilwako 2013? Kemana uang Bambang?

Selanjutnya lagi Sum Indra. Apa tidak populer dan tidak kaya pada 2013 itu? Sebagai Wakil Walikota, bahkan ia menggandeng Seorang Dokter yang punya rumah sakit sendiri, yakni Maulana. Nyatanya ia tak bisa mengungguli Sy Fasha yang pendatang baru di 2013.

Menilik kasus kekalahan Sum Indra dan Bambang dengan pasangannya masing- masing pada 2013.

Tentu ini banyak hal yang menjadi penyebabnya. Sum Indra sebagai perwakilan Keluarga Nurdin Hamzah, apa ia tak punya uang untuk membayar saksi? Rasanya mustahil. Menilik modal popularitas dan finansial mereka masing-masing, tentu kita heran kenapa bisa kalah dari Fasha.

Kemenangan kuda hitam pada dua kali Pilwako menurut penulis dilatari bayak hal. Pertama perpecahan suara ditingkat bawah. Banyaknya kandidat yang maju menjadi penyebab utama. Lihat saja, dalam dua edisi Pilwako, lebih dari tiga pasang calon yang maju.

Kandidat yang muncul selalu menggerus suara kandidat unggulan. Belum lagi jika terjadi perselingkuhan politik, dimana kandidat yang satu sengaja mempengaruhi kandidat yang lain.

Nyatanya, suara Asnawi banyak dimakan oleh suara Agus Roni dan Zul Zomad saat Pilwako edisi 2009.

Dan yang jelas terlihat, suara Sum Indra lebih banyak digerus oleh suara Efendi Hatta saat Pilwako 2013.

Bagaimana Pilwako 2018 nanti? Tampaknya pasangan Sy Fasha dan Abdullah Sani tak lagi mesra. Apakah Sy Fasha mampu mempertahankan hegemoninya? Atau ada tokoh baru yang ingin bertarung?

Ditunggu langkah politik para tokoh dan politisi yang ingin bertarung memperebutkan BH 1 AZ.(*)


Advertisement

Komentar Facebook