HOT TOPICS:
#Nasional





Panti Asuhan Ditutup Karena Jual Bayi Di India Timur

Rabu, 22 Februari 2017 | 08:47:17 WIB


CHENNAI - Polisi di bagian timur India telah menutup satu panti asuhan dan menangkap pemiliknya karena menjual bayi-bayi secara ilegal ke pasangan-pasangan yang tak memiliki anak.

Pihak berwajib juga menyidik apakah kegiatan adopsi itu adalah bagian dari operasi perdagangan manusia, kata para pejabat pada Selasa.

Panti asuhan itu yang berada di kota Jalpaiguri, Bengal Barat, dikelola oleh organisasi nirlaba, menjual sedikitnya dua puluhan anak untuk diadopsi, kata polisi.

"Apa yang mengagetkan ialah kepala panti asuhan itu juga mengelola sebuah tempat bagi wanita papa dan menjual bayi-bayi mereka," kata Rashmi Sen, dari Kementerian Pembangunan Perempuan dan Anak-Anak negara bagian Bengal Barat kepada Thomson Reuters Foundation.

"Investigasi yang sedang berlangsung juga akan memeriksa apakah para wanita itu diperdagangkan ke panti asuhan tersebut agar bisnis adopsi anak-anak berlangsung." Operasi-operasi yang dilakukan akhir pekan itu terjadi tiga bulan setelah 13 bayi diselamatkan dan kerangka dua bayi lainnya ditemukan dekat kota pelabuhan Kalkuta.

Delapan belas orang, termasuk sejumlah dokter, bidan dan para pemilik panti sosial dan klinik, ditangkap. Mereka menjadi tersangka karena mengambil anak-anak bayi dari wanita-wanita segera setelah mereka bersalin dan memberitahu bahwa anak-anaknya tak bertahan hidup.

"Sedikitnya 17 anak-anak ditampung di panti itu (di Jalpaiguri) yang tak dapat dilacak," kata Subodh Bhattacharjee dari Komite Kesejahteraan Anak-Anak Jalpaiguri kepada Thomson Reuters Foundation.

"Mereka memberikan anak-anak untuk diadopsi tanpa sepengetahuan kami, melanggar peraturan-peraturan." Polisi menyatakan panti usahan Bengal Barat menggunakan dokumen-dokumen, stempel dan sertifikat palsu untuk menjual bayi-bayi dan telah diperingatkan berkali-kali oleh pemerintah di masa lalu.

Bayi-bayi itu dijual seharga 100.000-200.000 rupee (1.500-2.000 dolar AS). (ant)


Advertisement

Komentar Facebook