HOT TOPICS:
#Nasional





Standar Kesalafian

Senin, 13 Maret 2017 | 14:10:43 WIB


 

Oleh Farid Numan Hasan
 
Ngelmu.id - Ada sebagian orang membuat standar kesalafian begitu sederhana. Hal-hal yang dijadikan standar itu bukanlah value utama seseorang disebut "salafi" yaitu mengikuti Al Quran, As Sunnah, dan pemahaman salafush shalih, tapi kesesuaian dengan mau dan kulturnya mereka.
 
Perbedaan pandangan fiqih pun sampai dijadikan sebab seseorang dikeluarkan dari zona salafi. Jelas, ini kezaliman terhadap manhaj salaf itu sendiri. Semoga yang seperti ini hanyalah perilaku orang-orang awamnya, yang baru kembali kepada agama, namun begitu nge-joss sehingga dia mudah membuat "branding"  kepada dirinya dan orang lain.

Di antaranya adalah:
 
📌 Seorang salafi tidak boleh isbal, jika isbal maka bukan salafi. #Padalah Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan mayoritas ulama tidak mengharamkan isbal, kecuali jika dibarengi kesombongan.

📌 Seorang salafi kalau turun dari ruku ke sujud adalah tangan dulu, bukan lutut dulu. #Padahal mayoritas ulama mengatakan lutut dulu, baru kedua tangan. Ini tenar di kitab-kitab fiqih.

📌 Salafi itu kalau wirid tidak pakai tasbih, pakai tasbih itu bidah. # Padahal Imam As Suyuthi mengatakan sejak masa salaf dan khalaf manusia menggunakannya, dan tidak memakruhkannya, bahkan Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Shalih Al Fauzan, membolehkannya.

📌 Salafi itu tidak menasihati pemimpin secara terang terangan, kalau terang terangan maka khawarij. # Padahal para masyayikh Salafiyin sendiri membolehkan menasihati secara terang-terangan jika memang membawa maslahat, seperti fatwa Syaikh Utsaimin, Syaikh Abdullah Al Quud, Syaikh Muqbil, dan lainnya. Dan, para salaf pun melakukannya.

📌 Salafi itu kalau warna pakaian muslimahnya gelap-gelap saja, kalau warna warni maka bukan akhwat salafiyah # Padahal masa nabi dijumpai para sahabiyah dan istri nabi yang memakai pakaian berwarna warni seperti merah, hijau, kuning, dan sebagainya, tentu hitam juga.

📌 Dan masih banyak lagi .., tentu yang lebih unik adalah jika standar kesalafiyan adalah jika seseorang sudah rajin mendengar kajian dari radio X, majalah X, ustadz X .. jika sudah seperti itu maka secara zahir sudah masuk standar komunitas .., ada pun ustadz ustadz lain yang tidak masuk daftar, maka bukan termasuk salafi, betapa pun dia begitu semangat mengikuti ajaran salaf ..

📌 Perilaku ashabiyah (fanatik kelompok)  dan hizbiyyah seperti ini tentu amatlah buruk, baik bagi pelakunya, juga bagi umat Islam

📌 Benih perpecahan dan buruk sangka kepada sesama umat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadi subur

📌 Al Wala (Loyalitas) yang syari adalah kepada Allah, Rasul, dan orang-orang beriman .. jangan diganti menjadi: Allah, Rasul, dan saudara sekelompok  sepengajian ..

📌 Resistensi yang sangat ketat, barikade dan proteksi fikrah,  membuat seolah standar kebenaran hanya ada pada kelompoknya, yang  lain tidak ..

📌 Ketika berbagai elemen umat bersatu melawan si Penista Al Quran, mereka sibuk sendiri dan nyinyir terhadap gerakan umat Islam ..

📌 Diakui atau tidak, suka atau tidak, ini yang terjadi .., dan semoga ini hanya terjadi pada oknum-oknum saja.

Laa haula walaa quwwwata illa  biillah (nge)

Advertisement

Komentar Facebook