Antara Objektivitas dan Objek Politik

Selasa, 17 Oktober 2017 | 13:00:31 WIB


Sebenarnya saya tidak ingin masuk ke ranah ini, karena saya tahu betul-betul sangat sensitif dan serba tidak mengenakkan. Pengantar inipun tidaklah penting untuk ditulis, namun agar semuanya tahu bahwa ada kegelisahan yang mendalam di dalam diri saya sebagai salah satu putra asli Lubuk Landai.

Jalan santai Gubernur Jambi H Zumi Zola bersama masyarakat Dusun Lubuk Landai. Kedengarannya sangatlah baik, dari 151 dusun di Kabupaten Bungo, Lubuk Landai sudah untuk kedua kalinya orang nomor satu di Provinsi Jambi ini ikuti jalan santai di negeri Tuo Tengka ini. Sebenarnya lebih tepatnya bukan mengikuti, tapi membuat kegiatan jalan santai melalui orang-orang disekelilingnya.

Kamipun menaruh kebanggaan dan apresiasi setinggi-tingginya untuk Gubernur Jambi H Zumi Zola, meski kami tahu kedatangan bapak memiliki agenda tersendiri, jalan santai pertama jelas agenda politik sebagai calon Gubernur Jambi saat itu, dan agenda hari ini yang santer terdengar bahwa bapak ingin memenuhi janji yang pernah terucap. "Kalau saya jadi Gubernur saya akan kembali lagi ke Lubuk Landai dan jalan santai ini akan kita buat lebih besar lagi" begitulah janji kampanye saat itu kira-kira.

Tapi agak berbeda dengan moment kehadiran pak gubernur yang kedua ini, dan direncanakan pada hari Jumat 20 Oktober 2017, pukul 14.30 WIB. Kehadiran bapak kali ini diboncengi kepentingan lain dari beberapa orang yang bisa terlihat jelas di gambar, spanduk yang beredar di media sosial maupun di jalan-jalan.

Tidaklah heran, momentum ini sangat pas dimanfaatkan oleh pembonceng menghadapi moment politik 2019, meskipun berlindung dibalik moment HUT Bungo ke 52.

Keresahan ini tentu tidak hanya dirasakan oleh saya sendiri sebagai putra asli Lubuk Landai, dan telah menjadi perbincangan hangat kami generasi muda Lubuk Landai meskipun belum ada langkah kongkrit dalam menyikapi kegiatan tersebut.

Antara Objektifitas dan Objek Politik, dua tahun kepemimpinan Gubernur Jambi H Zumi Zola, belum ada sentuhan pembangunan yang langsung dirasakan kami di Lubuk Landai, tapi sentuhan politik begitu terasa. Hanya kabar akan membangun bronjong yang telah lama diimpikan, karena makin hari masjid utama di Dusun Lubuk Landai makin mengkhawatirkan dengan posisi tepat di pinggir sungai Batang Tebo. Tapi itu baru kabar burung, dua tahun sudah berlalu mengapa tidak tahun lalu di anggarkan, atau tahun ini..?? Mungkinkah Objektivitas yang di ingat atau mengingat Lubuk Landai hanya objek politik.

Begitupun tokoh-tokoh politik yang terlihat membonceng atau bisa juga disebut sebagai pengendara mengarahkan ke objek politik ini, tidak terlihat peran dan aksi nyata dalam pembangunan di tanah kelahiran kami tersebut. Jadi bagaimana kami bisa berfikir objektif..???

Bosan dan muak saja melihat masyarakat kami dijadikan objek politik, bersembunyi dibalik baleho yang menampilkan kepedulian, tapi dibalik itu ada kepentingan yang ketika kepentingan itu tercapai nanti masyarakat akan kembali di tinggalkan, tidak dipedulikan, ketika kepentingan itu sudah dekat maka masyarakat kami didatangi lagi dengan seolah tanpa punya rasa salah.

Tidak salah sepenuhnya bapak-bapak yang ada di spanduk semuanya, ini juga salah kami generasi muda yang belum mampu memberikan pemahaman objektif, ataukah kami generasi muda yang terlalu sensitif. Tidak salah sepenuhnya bapak-bapak yang menjadikan Lubuk Landai sebagai objek politik, tapi kami sadar masih saja ada diantara kami yang membuka ruang tersebut, mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok diatas kepentingan masyarakat banyak.

Sadar atau tidak, celah yang dibuka seluas-luasnya inilah yang selama ini terus memupuk ketidak kompakan kami terhadap pandangan politik.

Apapun dan bersembunyi dibalik apapun kami tetap tahu belang dan siapa yang berada di balik persembunyian tersebut.

Tulisan ini saya tujukan kepada keluarga besar kami dan anak keturunan Lubuk Landai. Dan saya persilahkan untuk didiskusikan jelang hari H jalan santai yang akan di gelar satu minggu kedepan.


Oleh: Akhmad Ramadhan


Advertisement

Komentar Facebook