Toyota Agya: Habis Manis Sepah Dibuang

Selasa, 28 Maret 2017 | 08:37:30 WIB


JAMBI - Peribahasa itu mudah melekat pada Astra Toyota Agya. Kala diluncurkan, janjinya begitu manis. Dengan harga ‘murah’ banderol di bawah Rp 100 jutaan. Masyarakat Indonesia pun dibuat penasaran dengan mobil berbasis Daihatsu A-Concept ini. Program Low Cost Green Car (LCGC) pun dirilis pemerintah untuk mengakomodir kebutuhan ini.

Agya TRD terlihat sporty

Kisahnya pun manis pada awal peluncuran. Bahkan ketika menutup tahun penuh pertamanya berjualan, yakni di 2014, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat tak kurang dari 67.000 unit terjual dalam fase wholesales. Jika diambil rata-rata, maka lebih dari 5 ribu unit LCGC berlambang Toyota terdistribusi.

Kerja sama antar PT Astra Daihatsu Motor (ADM) dilanjutkan dengan merancang model berikutnya di segmen LCGC, yakni Calya-Sigra. Tapi belum sampai duo mobil murah 7-seater ini dirilis, Agya sudah turun pamornya.

Rilis GAIKINDO yang mencatat penjualan tahun berikutnya (2015), sudah menunjukkan penurunan dari model city car dengan harga terjangkau itu. Hanya ada 57.646 unit Agya yang dilepas dari pabrik. Terburuknya, bahkan sempat menyentuh angka 3 ribuan unit di September.

Konon, dalih pabrikan saat itu adalah situasi ekonomi nasional yang memburuk. Memang terjadi penurunan secara keseluruhan di industri otomotif, namun tak seburuk yang dialami Agya. Meski demikian, di 2015, ia masih menjadi LCGC terlaris dibanding lainnya.

Tapi nasib itu ternyata terus memburuk. Lihat saja sekarang, pada 2017 Agya baru berjualan 4.100 unit dalam kurun waktu 2 bulan (Source : GAIKINDO Jan-Feb 2017). Angka ini tentu sangat suram dibanding saat momen pertama kehadirannya, 6.000 per bulan!

LCGC Makin Seru

Tapi jika ditilik, sebenarnya banyak faktor yang membuat penjualan Agya merosot drastis. Pertama, kian banyaknya kompetitor. Kelas LCGC kini makin ramai dan trendnya berpindah ke Calya-Sigra.

Fitur tambahan Calya

Pada data yang sama (GAIKINDO Jan-Feb 2017), Calya berhasil terjual sebanyak 19.280 unit. Kenaikannya pun terus terjadi tanpa henti hingga saat ini, sejak peluncurannya. Berbanding terbalik dengan Toyota Agya.

Bukan cuma kelas LCGC yang makin padat, namun di level harga Agya Rp 116-139 juta, makin banyak model yang ikutan tanpa membawa embel-embel LCGC. Lihat saja Renault KWID yang diimpor dari India, harganya hanya RP 117 juta. Sebelumnya, bahkan sempat muncul Kia Morning (versi murah Kia Picanto) dengan harga Rp 120 jutaan.

Hingga saat ini, Toyota Agya memang masih menggunakan platform yang sama. Belum ada perubahan berarti pada model LCGC berformat city car ini. Faktor ini juga sedikit banyak mempengaruhi penjualannya.

Beberapa sumber memang menyebutkan bahwa versi penyegaran dari mobil murah perdana Toyota ini akan meluncur pada 2017, dengan paras dan mesin baru. Tapi kami masih pesimis, bahwa penyegaran itu dapat memberikan kembali buah manis yang sempat dipetik pada awal kehadirannya.

Sebab, itu hanya satu PR (pekerjaan rumah), belum termasuk PR lainnya. Dengan terus berkembangnya kasta mobil murah, keberhasilan Calya-Sigra, maka tanpa menyelesaikan semua PR tersebut, nampaknya Toyota Agya hanya tersisa sepahnya saja.(ggs)


Sumber: oto.com
Advertisement

Komentar Facebook