Pak Mili, Petani Cabai Jambi Yang Mampu Raup Untung Jutaan Rupiah

Jumat, 20 Oktober 2017 | 21:40:45 WIB


Di PHK dari pekerjaannya sebagai karyawan di perusahaan triplek yang terletak di Jambi Seberang, tak membuat Pak Mili (46 tahun) berhenti berusaha untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Bapak dua anak mulai bergelut dengan tanaman cabai lokal.

Dia dan 15 petani lainnya menanam komoditas yang terkadang harganya selangit itu diatas tanah seluas 11 hektar di Desa Mendalo Darat, kecamatan Jambi Luar Kota, kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Pak Mili mengaku bisa meraih untung cukup besar dari menanam cabai. Bahkan,  saat ini ia mampu menggaji 3 karyawan tetap.Satu kali tanam,  pohon cabai memiliki dua kali masa panen. 

"Kebun milik saya hanya seluas 1 hektar  dari jumlah keseluruhan 11 hektar hamparan kebun cabai ini.   Dalam seminggu bisa 2-3 kali panen dengan hasil 400 kilogram/hari. Dan upah panen karyawan kerja dari pukul 08.00-16.30 sebesar Rp 50.000 per orang,"ujar pak Mili, Kamis (19/10) saat dikunjungi di kebun cabai miliknya.

Menurut dia,  dari hasil taninya,  saat ini ia mampu membiayai anaknya sekolah bahkan kuliah. Satu orang anaknya di UNJA,  dan satu lagi masih SMA. "Biayanya ya dari bertani, " ungkapnya. 

Ketika musim panen saat ini, para pedagang yang mayoritas berasal dari pasar Angso Duo yang datang langsung mengambil cabai ke perkebunannya. Bisa dibilang tidak susah memasarkannya. Masa panen kali ini harga tertinggi yang pernah diperolehnya sebesar Rp 35.000 per kilogram. Sedang harga terendah mencapai Rp 17.000 per kilogram.

"Tergantung kualitas bibitnya, ada beberapa jenis yang saya tanam diantaranya cabai merah keriting, cabai hijau bahkan cabai varietas unggul tinggi batangnya bisa mencapai 150 cm dan menghasilkan sekitar 2 kilogram per batangnya, kalo urusan pemasaran tidak ada kendala sedikitpun. Karena pedagang yang langsung ambil ke kebun," ujarnya.

Pak Mili menuturkan, penyebab harga cabai naik di pasaran hingga Rp 100.000 per kilogram adalah cuaca dan tidak adanya stock cabai. Hal yang paling ditakutkan petani cabai adalah musim hujan, karena menyebabkan akar cabai membusuk dan mati.

"Menentukan hasil atau tidak itu cuaca. Mintanya sih panas terus. Alhamdulillah selama 10 tahun bertani cabai tidak pernah mengalami gagal panen dan mudah-mudahan jangan sampai terjadi. Walaupun ada sebagian cabai yang masih disiram manual karena belum terpasang pipa pengairan dibawah mulsa (plastik penutup tanah),"katanya.

Sebelum cabai ditanam, terlebih dahulu disemai di tempat khusus setelah berdaun 6 barulah dipindahkan ke lahan perkebunan. Tanah lahannya pun tidak sembarangan, diberi berbagai macam jenis pupuk penunjang denga pengolahan yang tepat supaya hasil cabainya bagus. Mili mengatakan, petani cabai di Jambi selain dari perkebunan Mendalo juga banyak di daerah Kumpeh.

"Sebagian dipasok dari perkebunan ini, dan suplai cabai di Angso Duo ada juga dari Kumpeh. Sekitar 20 an ha luas perkebunan cabai berada di Kumpeh dan termasuk daerah penghasil cabai terbesar di provinsi Jambi,"tandasnya. (Nur isnaini)


Advertisement

Komentar Facebook