Oleh : Zainal Arifin MSc

Prespektif Koperasi Global dan Lokal

Kamis, 20 Juli 2017 | 14:25:43 WIB


Oleh : Zainal Arifin MSc

 

Sejarah berdirinya koperasi, banyak dipengaruhi oleh perjalanan historis suatu bangsa. Sebagai contoh berdirinya sistem ekonomi koperasi dunia mulai tumbuh dan berkembang di Inggris sekitar tahun 1844, yang dipelopori oleh Charles Howard di wilayah Rochdale. Gerakan koperasi ini sebenarnya diinspirasi oleh masyarakat golongan ekonomi lemah (terutama kaum buruh/karyawan), akibat terjadinya revolusi industri yang cenderung menerapkan ekonomi kapitalis. Sistem ekonomi koperasi oleh kaum buruh dimanfaatkan untuk memecahkan permasalahan kebutuhan ekonominya, yang disebabkan tekanan dari pemilik perusahaan yang menjadikan perekonomiannya makin terpuruk.

Setelah berkembang di daratan Inggris, gerakan koperasi menyebar ke berbagai negara di daratan Eropa, Amerika, dan Asia termasuk ke Indonesia. Gerakan koperasi masuk ke Indonesia sekitar tahun 1896, Namun secara resmi gerakan koperasi baru diakui eksistennsinya dan keberadaannya pada saat diselenggarakan kongres Koperasi Indonesia yang pertama di Tasik Malaya Jawa Barat, tanggal 12 Juli 1947. Selanjutnya tanggal tersebut ditetapkan oleh Pemerintah sebagai hari jadi gerakan koperasi. Komitmen pemerintah pusat untuk mendorong koperasi menjadi soko guru perekonomian nasional, tergambar dengan dibentuknya departemen/kementrian koperasi.

Geliat Koperasi di Manca negara
Di Inggris, pada awalnya koperasi Rochdale, hanya bergerak dalam bidang usaha pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Kemudian mengembangkan sayapnya ke sektor-sektor produktif, seperti toko-toko kecil, memdirikan pabrik, menyediakan perumahan bagi anggotanya hingga menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan untuk menigkatkan pengetahuan anggota dan pengurus koperasi. Guna memperkuat gerakan koperasi, maka pada tahun 1962, koperasi-koperasi konsumsi di Inggris membentuk wadah persatuan menjadi pusat koperasi pembelian (Coperative Wholesole Society/CWS)

Di Perancis, pelopor gerakan gerakan koperasinya yaitu Charles Fouries, Luois Blanc dan Ferdinand Lasalle. Melihat fakta bahwa setelah terjadinya revolusi Perancis dan Revolusi Industri ternyata menimbulkan kesenjangan antara buruh/karyawan dan pemilik perusahaan. Untuk meperbaiki nasib rakyat, mereka membangun koperasi yang bergerak di bidang produksi, bersama-sama dengan pengusaha kecil. Hingga saat di Perancis terdapat gabungan koperasi konsumsi nasional, yang dalam bahasa Perancis disebut Federation Nationale Dess Cooperative de Consummtion. Lembaga ini mewadahi 476 unit koperasi, 9.900 unit toko, 3.460.000 orang anggota, dengan jumlah perputaran anggota 3.600 miliar Franc/tahun.

Di Denmark, kegiatan koperasi yang sangat menonjol di negeri Skandinavia ini adalah koperasi pertanian. Meskipun lahan pertanian di negeri ini sempit, namun koperasinya berhasil mempersatukan usaha-usaha pertanian yang berskala kecil itu. Pada tahun 1952 jumlah anggota di negeri ini mencapai 1 juta orang atau 30% jumlah penduduk Denmark. Dalam perkembangannya, koperasi di negeri ini tidak hanya bergerak di bidang konsumsi yang didistribusikan untuk anggotanya, melainkan juga peralatan sektor pertanian. Petani di negeri ini, rata-rata memiliki lahan 45 Ha setiap kepala keluarga, semua pekerjaan mengolah tanah dikerjakan oleh mesin. Setiap petani selain bercocok tanam gandum dan sayuran, juga memelihara ternak sapi. Untuk mengembangkan usaha pertaniannya, koperasi petani di sini, mampu menunjuk dan membayar petugas penyuluah pertanian atau yang disebut dengan Farmer Adviser. Di Denmark ini juga berkembang koperasi konsumsi, yang umumnya didirikan oleh serikat pekerja yang bermukim di daerah perkotaan.

Di Jepang, gerakan koperasi di negeri sakura ini lahir sekitar tahun 1900 atau 33 tahun setelah diluncurkannya program pembaharuan oleh Kaisar Meiji (Restorasi Meiji), dimana pada saat itu diberlakukan Undang-undang Koperasi Industri Kerajinan. Meskipun berdiri dibawah nama Koperasi Industri Kerajinan, namun pada prakteknya kegiatan pertanian dan konsumsi. Gerakan koperasi di Jepang cikal bakal kelahirannya dimulai, saat perekonomian dengan alat tukar mata uang, dikenal olah masyarakat yang tinggal di pedesaan, yang mata pencahariannya dari sektor pertanian. Kegiatan pembelian sarana dan prasarana produksi serta pemasaran hasil panen, membuat mereka disatukan dengan kepentingan yang sama, untuk bersatu padu membentuk koperasi. Sekitar tahun 1030-an, koperasi pertanian jepang mengalami kemajuan yang sangat pesat, sehingga hampir semua petani Jepang adalah anggota koperasi.

Komunitas Koperasi Dunia.
Gerakan koperasi dunia yang disebut International Cooperative Alliance (ICA) didirikan pada Kongres Koperasi sedunia tahun 1895 di London Inggris, Adapun negara yang menjadi pelopor berdirinya ICA yaitu Inggris, Australia, Belgia, Perancis, Jerman, Belanda, Italia, Swiss dan Rumania. Hingga saat ini ICA merupakan satu-satunya organisasi gerakan koperasi seluruh dunia, yang secara khusus memfokuskan kepada pengembangan koperasi, sesuai dengan prinsip yang dianutnya yaitu untuk menggantikan sistem yang hanya mencari keuntungan semata, dengan suatu sistem koperasi yang diorganisir untuk kepentingan anggota dan seluruh masyarakat. Hingga tahun 1986, jumlah anggota ICA tercatat 72 negara anggota, dengan total anggota perorangan sebanyak 498,5 juta orang, yang tersebar di empat benua (Asia, Eropa, Amerika dan Australia).

Gerakan koperasi tidak hanya berdiri secara internasional, melainkan di ASEAN (Association of South East Asia Nation atau Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggaa) juga membentuk organisasi kerjasama antar koperasi tingkat regional, yang populer dengan nama Asean Cooperative Organization (ACO). Sedangkan tujuan pendirian ACO adalah untuk mengembangkan kerjasama antar gerakan koperasi yang ada di negara-negara Asean, dengan tidak menutup kemungkinan untuk menjalin kerjasama di bidang usaha yang bersifat kejasama (joint venture).

Koperasi di Indonesia

Sejarah telah membuktikan bahwa ketika terjadi krisis moneter pada tahun 1998, krisis finansial global pada tahun 2008, ternyata lembaga ekonomi yang bertahan dari terpaan krisis tersebut adalah koperasi. Koperasi merupakan wadah perekonomian yang bersifat kerakyatan, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejehtraan rakyat Indonesia. Koperasi sebagai sokoguru perekonomian bangasa merupakan manifestasi dari demokrasi ekonomi sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 1, yaitu ” Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan” Berdasarkan prinsip di atas, mengandung makna bahwa koperasi merupakan pengejawantahan institusional dari gerakan anti kapitalisme, yang merupakan dampak langsung dari globalisasi. Hal tersebut amatlah relevan dengan definisi yang dihasilkan dari Kongres Koperasi Se-dunia di Manchester Inggris tahun 1995 yaitu: “A cooperative is an autonomous association of person united voluntari ly to meet their common economic, sosial, and culture, controlled interprise” (Koperasi adalah organisasi yang mandiri yang dibentuk sekolompok orang secara sukarela untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial dan budaya yang dikontrol secara manajemen perusahaan).

Pengertian koperasi di Indonesia merujuk kepada Undang-undang nomor 25 tahun 1992, tentang perkoperasian yaitu Badang usaha yang beranggotakan orang-seseorang atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan. Sedangkan tujuannya untuk memajukan kesejahtraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional, dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.



*) Saat ini penulis sebagai Ketua KPN KOSUP Dinas Kelautan dan Perikanan Prov Jambi, Bekerja sebagai Fungsional Perencana Madya pada Bappeda Prov Jambi, Bekerja di Bappeda Provinsi Jambi.

 


Advertisement

Komentar Facebook