Logika Kepahlawanan

Jumat, 10 November 2017 | 11:26:23 WIB


Opini - Sejatinya kita mengenal pahlawan indonesia dalam buku sejarah-sejarah yang populer diajarkan disekolah-sekolah, sebut saja ; Pattimura, Imam Bonjol, Teuku Umar, Buya Hamka, dan lain sebaginya. Namun banyak sisi lain dari kepahlawanan yang dapat kita nilai menjadi bagian terpenting dari pahlawan itu sendiri. Secara harfiah pengertian pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Definisi ini dapat dipandang global dan dimaknai secara luas oleh masing-masing perspektif manusia. Sehingga Pemerintah membuat peraturan bahwa yang dapat digolongkan sebagai pahlawan yakni hanya tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, dengan ketentuan dan berakhir atas pengesahan Presiden. Tentu penyematan gelar pahlawan ini tidak bisa disembarangkan boleh disematkan pada seseorang, sebagaimana polemik gelar kepahlawanan Gusdur dan Soeharto yang pernah tersiar beberapa tahun belakangan ini.


Namun, jika ditelaah secara pemaknaan, ketentuan dalam Undang-undang terlalu menyempitkan makna dari Pahlawan itu sendiri, yang membuat golongan pahlawan itu menjadi lebih sempit dan sulit untuk kita bayangkan hadir dalam benak pikiran kita, kecuali bagi pemerhati sejarah dan ilmuwan sejarah yang benar-benar paham nasionalisme.
Point penting yang ingin dititik beratkan penulis pada kali ini yaitu pemaknaan pahlawan pada seseorang yang pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar, setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara, serta selama masa hidupnya dia pernah memimpin dan melakukan perjuangan. Yang dijadikan pertanyaan, pasca merdeka setelah tahun 1945, apakah kita dapat menemukan Pahlawan yang ideal, untuk memenuhi kriteria point penting tersebut.?. Di sisi lain yang kita lawan saat ini adalah bukan penjajah, melainkan warna negara sendiri yang berkhianat, memanfaatkan jabatannya, dan kewenangannya untuk memenuhi kepentingan pribadi yang berdampak pada kerugian negara, bahkan perbuatan trend saat ini yang mengarah pada ketidak adilan dan keberpihakan pada suatu golongan.


Sosok Soe Hok Gie misalnya, melalui film karya Mira Lesmana dan Riri Riza, yang mencoba mengangkat kembali kisahnya dalam Film Gie yang merujuk pada Buku Catatan Seorang Demonstran, membuat aktivis-aktivis menjadi lebih mengenal sosok Soe Hok Gie dengan segala aktivitas-aktivitas ala mahasiswa yang pemberani, netral, dan nasionalisme tinggi. Dimana pada tahun 1960-an era Soekarno, dia memandang kerap terjadinya ketidakadilan, kesenjangan sosial, hingga adanya golongan-golongan yang menunggangi mahasiswa pada akhirnya untuk kepentingan politik para penguasa. Sementara para pejabat terlalu sibuk dengan selir-selir dan kemewahan istana didalam sana, dan merasa nyaman dengan hidupnya. Hal ini dinilai Gie harus diperjuangankan melalui tulisan-tulisannya yang mengkritik pemerintah secara tajam, audiensi dengan pejabat, hingga demo besar-besaran yang dia ikuti bersama mahasiswa untuk menjatuhkan kekuasaan Soekarno dimasa itu. Adapun statement yang terkenal dari Gie yakni, “Lebih baik terasingkan daripada menyerah akan kemunafikkan”, dan “Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka Terjunlah“. Kedua statement ini bernada keras, tajam sangat provokatif untuk seorang muda seperti Gie. Pemikiran seperti inilah yang sulit kita temukan pada generasi saat ini. Sehingga membuat perbuatan-perbuatan yang menentang azas keadilan, kesenjangan sosial, korupsi, masih merajalela di Negeri ini.
Selain itu, Wiji Tukul, yang kita kenal bergeliat sejak tahun 1990-an, dengan menentang kekuasaan Soeharto. Melalui puisi-puisi karyanya, sangat membuka mata dan pikiran para aktivis saat itu untuk dapat bergerak dan menyampaikan aspirasinya dalam Gerakan Reformasi Tahun 1998. Beberapa penggalan puisi Wiji Tukul yakni ‘apa gunanya ilmu kalau hanya untuk mengibuli apa guna baca buku kalau mulut kau bungkam melulu’, apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: lawan!. Namun keberanian Tukul ini, membuat dia terancam karena keresahan pemerintah yang tidak dapat mengkomunikasikan secara efektif tindak-tanduk Tukul melalui karyanya, sehingga jalan keluar dengan melarikan diri dan menghilang entah dimana keberanaannya hingga saat ini pun menjadi solusi bagi Tukul.


Dapat kita petik dari kisah perjuangan kedua tokoh itu adalah satu sikap yang pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar, setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara, serta selama masa hidupnya dia pernah memimpin dan melakukan perjuangan. Namun apakah relavan mereka dijadikan sosok Pahlawan ?. tentu pemerintah menjawabnya dengan tegas “Tidak”. Akan tetapi sebagai sosok muda yang ingin mengetahui sisi baik buruknya pendirian bangsa hingga seperti saat ini, kisah kedua tokoh ini dapat dijadikan pelajaran dan rujukan untuk dapat berpikir lebih logis dan aktif dalam mengurai permasalah bangsa, agar tidak diserahkan begitu saja pada kemunafikan elit politik yang menduduki jabatan eksekutif, serta keterwakilan wakil rakyat yang kerap kali diragukan nilai-nilai pemahaman keterwakilan yang sebenar-benar memenuhi kehendak rakyat.
Penulis :
M Ryan Fadhli S.IP, MM
(Pengamat Politik)

 


Advertisement

Komentar Facebook