Liburan Murah ke Vietnam, Negeri dengan Kekuatan Pariwisata.

Kamis, 16 November 2017 | 07:11:05 WIB


Catatan Wawan Novianto
 
Setelah saya menyelesaikan tesis di Universitas Jambi beberapa bulan lalu,  bersama beberapa orang dosen saya coba mengirimkan penelitian tersebut untuk bisa masuk jurnal internasional.
 
Akhirnya, pada bulan Agustus 2017, jurnal tersebut lulus.  Dan bulan ini,  November, saya diminta mempresentasikannya di Hanoi Vietnam di hadapan ratusan dosen serta ahli marketing dari berbagai belahan dunia.
 
Hanoi merupakan negeri komunis di Asean yang membebaskan visa bagi pengunjung khusus asean. Sehingga tidak perlu mengurus visa untuk mengunjunginya.
 
Saya membeli tiket di salah satu aplikasi online, untuk tiket Pulang pergi, saya membayar Rp 3,4 jutaan.  Rutenya, pesawat mulai dari Jambi – Jakarta,  Jakarta – Kuala Lumpur,  dan Kuala Lumpur – Hanoi serta kembali ke Jambi.
 
Maskapai Air asia menjadi pilihan termurah untuk penerbangan menuju Hanoi. Tidak ada pemeriksaan yang begitu ketat di airport hingga Hanoi, semuanya standar.
 
Saya sampai di Hanoi pagi hari, di Air Port, langsung menukarkan uang rupiah ke Dong, yaitu mata uang Vietnam. Nilai Dong lebih murah di banding rupiah. Untuk Rp 1 juta rupiah,  bisa ditukar menjadi 1, 2 dong.
 
Menuju hotel,  bisa menggunakan grab atau uber.  Tentu syaratnya kita harus membeli kartu perdana yang berlaku di Vietnam.  Tidak begitu mahal,  hinga kita bisa mendaftarkannya ke aplikasi grab di Vietnam.
 
Bersama beberapa dosen Unja,  saya menginap di Manggo Hotel dintengah kota,  tepatnya di samping Stasiun Kereta Api Hanoi.
 
Masyarakat vietnam menggunakan bahasa mereka, seperti bahasa China.
 
Melihat kondisi di Vietnam,  yang pertama adalah heran dengan banyaknya turis asing di sini.  Bahkan seperti bebas hilir mudik siang malam. Padahal,  tidak begitu istimewa untuk kotanya. Tapi cukup ramah.
 
Turis banyak mengunjungi long bai,  wisata laut dengan banyak pulau-pulau kecil yang menjulang tinggi.
 
Masalah bagi warga Indonesia seperti saya hanya soal makanan,  tidak banyak makanan halal di Vietnam. Namun ada satu rumah makan yang pemiliknya orang Indonesia. Dia bekerja di kedutaan Indonesia di Vietnam,  yakni rumah makan Batavia.
Jika di hotel,  kita paling bisa memesan nasi dengan telur dadar atau ikan goreng.
Untuk bahasa,  memang cukup terkendala karena masyarakat tidak mengerti bahasa inggris, bahkan para driver grab.  Sehingga para turis menggunakan bahasa isyarat untuk mengatakan sesuatu. Namun hal itu tidak mengurangi antusias para turis berkunjung ke Vietnam.
 
Dengan melihat situasi di Vietnam,  saya meyakini negara dengan ideologi komunis ini akan menjadi besar.  Mereka sangat jelas memiliki visi membangun negerinya.  Setelah perang vietnam beberapa tahun lampau,  mereka menggeliat.  Industri perdangan dipusatkan di kota Ho Chi Min City,  sementara pariwisata di Hanoi.

Advertisement

Komentar Facebook