Adaptasi Komunikasi dalam Intrik Politik

Selasa, 21 November 2017 | 08:26:47 WIB


Ketika dihadapkan dengan polemik politik dan unsur meraih kekuasaan, mau tidak mau penguasaan akan komunikasi harus dimiliki oleh para politikus negeri ini. Tak hanya sebagai sarana penyampaian maksud, namun citra persepsi masyarakat dapat mempengaruhi gaya komunikasi seorang politikus walau itu hanya didepan layar belaka.


Ciri komunikasi massa adalah sebagai berikut (Effendy 1994) : Komunikasi dengan ; menggunakan pers; Proses berlangsung satu arah; Komunikatornya melembaga; Pesan bersifat umum; Media menimbulkan keserempakkan; Komunikannya bersifat heterogen. Diluar aspek itu, ada hal lain yang harus diperhatikan oleh komunikator yang dalam hal ini para politikus, terlebih ditengah era kemudahan akses infomasi yang didapat saat ini melalui media sosial, sebut saja; twitter, youtube, facebook, instagram, path, dan lain lain. Hal ini menandakan bahwa era saat ini membutuhkan ketersesuaian dan kecerdasan dalam komunikasi politikus, karena konsumsi argumen politik tidak hanya bisa didengar oleh usia-usia tertentu, akan tetapi berbagai usia.


Jika di telaah secara mendalam, akar permasalahan bangsa yang kerapkali menjadi viral adalah masalah komunikasi, yang berujung pada penyudutan pihak tertentu, untuk kemudian diekspoler lebih lanjut menjadi timbulnya kebencian massal ooleh publik. Dapat menjadi sorotan gaya komunikasi Ahok yang apa adanya dan terang-terangan, telah berdampak pada pribadi seorang ahok hingga mendekam di jeruji besi saat ini, karena ucapannya yang mengandung unsur SARA, membuat gerakan-gerakan tokoh agama bertindak, bahkan bukan skala lokal DKI Jakarta saja, akan tetapi menjadi skala Nasional. Gerakan masyarakat dari provinsi tetangga bahkan lintas pulaupun, turut serta menindak hal ini. Selang beberapa bulan, masih hangat-hangatnya masalah politik DKI Jakarta, Anis Baswedan Gubernur DKI terpilih, yang pada mulanya dikenal sebagai sosok yang sangat teoritis namun penuh dengan ide gerakan sosial, melalui kata-kata yang normatif, teoritis, dan terdengar syahdu, mengalami blunder dalam komunikasi publik dengan mengucapkan kata Pribumi dalam pidato pasca dilantik, hal ini sontak direspon masyarakat kontra politik Anis untuk menjadi percikan kesalahan-kesalahan, dan seolah sebagai bukti bahwa tak hanya Ahok yang menabuh genderang komunikasi hangat, tapi Anispun mempertajam hal itu.


Berbeda dengan kedua tokoh itu, Risma Walikota Surabaya dan Ridwan Kamil Walikota Bandung, juga sangat bertentangan. Gaya komunikasi ala emak-emak yang dibawakan Risma, dengan memarahi aparat cukup efektif merubah kinerja pemkot Surabaya untuk lebih memperbaiki kinerja birokrasinya. Namun tidak demikian yang dilakukan Kang Emil (panggilan akrab rakyat bandung), gaya komunikasi ala anak muda, up date di media twitter, instagram, dan pendekatan bersama warga di bandung, menjadi cara Kang Emil dalam berkomunikasi untuk melancarkan program beliau dalam mewujudkan Kota Bandung yang lebih gaul, dengan memberdayakan para pemuda, dan merangkul selayaknya sahabat seumuran dengan misi mendirect secara halus.
Bahkan yang tak terlupakan salah satu sudut kota bandung bertuliskan Bandung diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum hal ini dapat dimaknai bahwa, pemimpin menginginkan masyarakatnya terus tersenyum dan jauh dari keadaan stress, agar prediket sebagai bandung kota bahagia tetap lekat pada warga kota bandung.


Dapat disimpulkan bahwa gaya komunikasi 4 tokoh tersebut sangat berbeda-beda, Ahok dengan Blak-blakannya, Anis Baswedan dengan Teoritis Syahdunya, Risma dengan ala emak-emaknya, serta Kang Emil dengan Gaul Updatenya. Menarik mengulas gaya komunikasi untuk pemimpin DKI yang sangat bertentangan antara pemimpin sebelumnya dan pemimpin terpilih saat ini, dan kita tak dapat memastikan gaya komunikasi Anis dan Sandi yang lebih merangkul apakah cukup efektif diterapkan di DKI dengan berbagai polemik, dan keberagaman yang tinggi serta jumlah penduduk yang padat saat ini, lebih baikkah, atau semakin menurun ? jawaban akan hal ini dapat dilihat 5 tahun kedepan melalui program-program yang dijalankan, di sisi lain rakyat bukanlah objek coba-coba, dan bukan pula pihak yang siap dijadikan korban yang berawal dari salahnya penempatan, atau gaya komunikasi pemimpin politik.


Sudah selayaknya, suatu studi komunikasi diarahkan dalam mengurai permasalahan ini, tentu faktor-faktor yang dapat dijadikan pertimbangan yakni pada ; budaya, adat istiadat, perkembangan sosial, perkembangan teknologi, trend saat ini dan respons sosial yang tinggi, untuk dijadikan pedoman dalam menerapkan gaya komunikasi masa yang tepat agar tidak terjadinya perselisihan, fitnah, prasangka buruk, yang menyebabkan program kerja terhambat, dan berdampak pada rendahnya produktivitas masyarakat karena keterlibatan masyarakat menjadi teralihkan oleh isu-isu yang tidak produktif. Jumlah bawahan yang lebih banyak daripada atasan, dan perbedaan daerah, prilaku masyarakat yang beragam di Indonesia, terlebih, dalam politik, jumlah konstituen atau rakyat yang jauh lebih banyak daripada jumlah para pemimpin politik, menyebabkan jumlah terkecil ini harus menyesuaikan dengan banyaknya jumlah bawahan. Maka dari itu adaptasi komunikasi oleh pemimpin politik menjadi solusi cerdas dalam mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang dikhawatirkan terjadi ditengah kuatnya arus informasi saat ini.

M. Ryan Fadhli S.IP, MM
Pengamat Politik


Advertisement

Komentar Facebook