No Stigma, No Diskriminasi, Amalkan Tauhid

Rabu, 06 Desember 2017 | 16:16:09 WIB


Moment peringatan biasanya dijadikan kegiatan ceremonial oleh sekelompok warga yang tanggap dan memiliki jiwa sosial tinggi. Termasuk kedalamnya peringatan Hari AIDS sedunia pada 1 Desember. Rasanya isu mengenai diskriminasi, stigma, pendekatan yang komunikatif, penemuan obat HIV, serta peran masyarakat, sudah begitu jenuh dilakukan dewasa ini. Lebih jauh dari hal itu yang perlu dijadikan sorotan adalah pendalaman karakter generasi bangsa akan pendidikan keagamaan, mulai dari segala lini, dan usia dini sebagai suatu bentuk pencegahan yang mendasar.  

 

Perlu diketahui bahwa HIV/AIDS disebabkan oleh berbagai faktor; antara lain pergantian jarum suntik, narkoba, dan seks bebas. Namun menurut data Kemenkes pada tahun 2015 di Indonesia, sebanyak 46,2% bahwa penyebab terbesar resiko terjangkitnya penderita HIV/AIDS adalah disebabkan oleh seks bebas yang beresiko berusia rata-rata 20-29 tahun. Hal ini jika diurutkan dari akar, dan muara penyebabnya mengarah pada perilaku yang salah, pengaruh lingkungan, kurangnya pedoman tatanan perilaku, dan pembekalan ilmu yang kurang. Sehingga dalam kesempatan ini, penulis tidak akan mengurai tentang teori klinis dunia kesehatan, karena diyakini telah banyak para pakar membahas penyakit ini dari sisi klinis secara ilmiah, namun lebih menekankan pada muara pembekalan sebelum pengaruh-pengaruh itu menyerang.

 

Perlu diketahui bahwa banyak pendapat mengenai awal mula timbulnya virus HIV pertama kali, dan hingga saat ini belum diketahui pendapat mana yang tepat. Namun salah satunya diketahui bahwa HIV pertama kali muncul dari pasangan gay yang spermanya tersangkut di anus, sehingga timbul lah penyakit hiv yang menyebar menjadi virus mematikan. Dan setelah diteliti LGBT (lesbi, gay, bisexual, transgender) memiliki struktur otak yang berbeda daripada struktur otak manusia normal pada umumnya, cenderung kecil dan mengerucut. Virus menyerang otak sehingga mengecil. Penyimpangan itu muncul karena mereka dalam aktivitas kesehariannya mengundang penyakit dalam informasi-informasi yang didapatkannya. Maka dapat disimpulkan bahwa LGBT itu bukanlah bawaan dari lahir, melainkan sebuah penyakit yang sengaja dicari oleh manusia tersebut sehingga mempengaruhi orientasi seksual mereka. Selayaknya rokok sebuah sumber penyakit yang sengaja dicari oleh para perokok sehingga dapat menimbulkan penyakit jantung, paru-paru, impotensi, gangguan kehamilan, dan dampak buruk lainnya.

 

Seorang ilmuwan asal Polandia, pernah melakukan penelitian dan menemukan hasil bahwa otak manusia itu bisa membesar dan mengecil tergantung respons yang diterima. Saat menerima informasi baik, maka respons akan disalurkan ke seluruh tubuh untuk mengerjakan prilaku baik, begitu juga sebaliknya, ketika respon otak melihat sesuatu yang buruk maka prilaku yang digerakkan tubuh memburuk pula. Yang dijadikan permasalahan adalah ketika manusia tersebut tidak mampu mengontrol informasi buruk karena pemahaman agama yang kurang, sehingga munculah imajinasi-imajinasi buruk, yang berawal dari pandangan mata, merespons ke otak, dan otak menyalurkan ke anggota tubuh, sehingga tubuh melakukan tindakan-tindakan menyimpang, diantaranya yaitu melakukan seks bebas.

 

Adapun yang menyebabkan seseorang melakukan seks bebas terdiri dari berbagai faktor, antara lain; kurangnya bimbingan dari orang tua (keluarga), pengaruh lingkungan yang negatif, partisipasi guru di sekolah, hasrat nafsu seksual yang tinggi, kurang bisanya seseorang ini dalam mengendalikan nafsunya, karena sering menonton atau membaca hal-hal yang kaitan nya dengan pornografi. Dapat disimpulkan dari beberapa faktor tersebut, bermuara pada satu permasalahan yakni, kurangnya pendidikan ilmu agama dan kurang pengetahuan tentang norma-norma dan kaidah-kaidah yang berlaku. Karena dengan memperdalam ilmu agama, seseorang akan mengubah aktivitasnya menjadi berlandaskan tauhid, dan faktor-faktor penyebab tersebut dapat ditanggulangi, khususnya yang berkaitan dengan seks.

 

Tak dipungkiri bahwa, manusia diciptakan Tuhan lebih sempurna daripada makhluk-makhluk lain di muka bumi, dengan adanya nafsu, akal pikiran, tubuh yang sehat, selayaknya hal itu digunakan sebaik-baiknya sesuai dengan fitrahnya. Dan penjagaan itu diawali dengan lebih selektif dalam mengakses informasi yang diterima melalui pandangan mata, tundukan pandangan, jagalah pandangan, karena asal muasal dari penyimpangan seks adalah dari zina mata yang terjadi, terlebih di zaman penuh fitnah ini, zina mata atau pandangan dapat dengan mudah ditemukan, karena hati yang bersih sangat menangkap hal itu sebagai sebuah zina.

 

Maka lihatlah yang baik-baik, dan tinggalkanlah yang buruk-buruk. Sejatinya, urusan dunia harus merujuk pada ajaran agama, dan selayaknya dijadikan pedoman yang kuat serta prinsip hidup yang tak terbantahkan. Beragama adalah tidak serumit dan sesulit yang ada dalam mindset masyarakat pada umumnya, dan tidak selayaknya hanya dijadikan identitas pribadi sebagai pelengkap dalam KTP semata. Agama jika benar-benar diamalkan secara murni itu menjadi, mudah, simpel, murah. Dengan demikian, yang perlu dijadikan dasar dalam berprilaku ditengah aktivitas dunia di akhir zaman ini yaitu ilmu pemahaman tentang Tauhid, yaitu suatu bentuk pemahaman dan pembelajaran tentang Sang Pencipta, jawaban akan pertanyaan besar yang mendasar, siapa yang menciptakan kita, siapa yang mengatur kehidupan di dunia ini, siapa yang memberikan reward atau punishment jika kita melakukan dosa dan amalan, dan siapa yang mengijinkan atas kehendak yang kita inginkan.

 


Penulis : M Ryan Fadhli, S.IP, MM (Pemerhati Sosial)


Advertisement

Komentar Facebook