HOT TOPICS:
#Nasional





Momentum Kebangkitan dan Strategi Atasi Kampanye Negatif Sawit

Senin, 05 November 2018 | 14:19:36 WIB


Penulis: Mahyudi

Staf CSR PT. Triputra Agro Persada Grup

Indonesian Palm Oil Conference  (IPOC) 2018 sudah selesai. Masing-masing pelaku dunia usaha perkebunan dan industri kelapa sawit pun kembali ke masing-masing daerahnya dengan segenap semangat dan harapan baru. Membawa beberapa berita gembira terkait masa depan dunia perkelapa sawitan Indonesia yang akhir-akhir ini lesu. 

 

Kondisi yang kurang menguntungkan ini bukan saja menjadi momok bagi para pelaku usaha namun juga berpengaruh hingga ke periuk nasi para petani sawit di seluruh pelosok Indonesia. Harga yang tak kunjung membaik dan isu kesehatan serta lingkungan yang di gaungkan oleh pihak-pihak anti sawit benar-benar menjadi mimpi buruk. Makanya jangan heran jika sering mendengar ocehan para petani yang bernostalgia era manis harga sawit di tahun 1998.

 

Meskipun harus di akui bahwa kondisi perdagangan dan industri di masa itu tidak sekompleks saat ini.

Menurut penulis, IPOC 2018 kali ini hendaknya di jadikan Momentum kebangkitan industri kelapa sawit Indonesia. 

 

Pemerintah menjadi "panglima perang" dalam menghadapi gempuran negatif minyak sawit yang di motori oleh AS, Uni Eropa berikut kolega-koleganya. Untuk itu dan sebagai masukan setidaknya ada dua startegi yang mesti dilakukan oleh Pemerintah dan stakeholder industri sawit. Yakni strategi lembut dan strategi keras dan Pemerintah beserta stakeholder industri sawit di rasa perlu melakukan serangan balasan dengan berupa strategi lembut (soft strategy) dan strategi keras (hard strategi) ini secara bersamaan sekaligus. Untuk Strategi lembut, berupa kampanye positif tentang minyak sawit yang meliputi beberapa regulasi. 

Diantaranya: pertama, semakin memantapkan kebijakan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) dan RSPO (Roundtable for Sustainable Palm Oil) dalam semua skala usaha (baca; skala perkebunan rakyat hingga perusahaan) Tujuannya adalah untuk menjawab isu usang tentang deforestasi, emisi karbon dan pemanasan global, kandungan kolesterol yang sebenarnya sebagai topeng untuk menutupi motif bisnis dan melindungi minyak nabati yang di produksi AS, Eropa dan kroni-kroninya. Dengan komitmen kuat penerapan ISPO dan RSPO menjadi modal positif untuk terus digaungkan pada dunia bahwa industri minyak sawit Indonesia sudah menjalani prinsip-prinsip lestari. 

 

Kedua, membentuk badan khusus sebagai promotor minyak sawit. Badan ini berdiri sendiri dan bertugas melakukan promosi gencar minyak sawit di negara-negara yang memiliki regulasi negatif terhadap minyak sawit khususnya Eropa dan AS. Badan ini bisa terdiri dari elemen pemerintah maupun swasta. Badan ini bekerja menampilkan wajah sawit Indonesia yang ramah lingkungan, memenuhi standar kesehatan berbasis pada hasil-hasil kajian ilmiah dari lembaga-lembaga penelitian resmi. Penulis yakin, jika badan ini berjalan dengan baik maka tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk membalikkan logika negara-negara anti sawit untuk menerima minyak sawit.

 

Ketiga, Indonesia dan Malaysia bersatu. Mempercepat langkah strategis dan teknis kerjasama antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara hendaknya segera bertemu kembali guna membicarakan hal-hal krusial dalam mengantisipasi kampanye negatif industri minyak sawit. Karena sebagai produsen utama minyak sawit, kedua negara adalah pihak yang paling di rugikan atas kebijakan diskriminatif yang dilakukan oleh AS dan negara-negara Eropa. Dan sangatlah wajar jika dalam perang dagang yang brutal ini diperlukan kompatriot yang memiliki kepentingan sama agar lebih kuat dan mempercepat mencapai tujuan.

 

Sedangkan strategi keras (Hard strategy), menurut penulis diantaranya, Pertama, Counter attack. Maksudnya kampanye negatif di balas dengan kampanye negatif. Sebagai contoh terkait isu tingginya alih guna lahan (lebih sering di kenal dengan istilah deforestasi) yang kerap di jadikan senjata untuk mendiskriminasi minyak sawit.Ternyata sawit lebih rendah dalam aktivitas alih fungsi lahan jika di bandingkan kedelai dan jagung yang notabene merupakan minyak nabati unggulan negara-negara Eropa dan Amerika. Sawit hanya 8 %, kedelai 19 % dan jagung 11%. Artinya, isu deforestasi sebenarnya isu akal-akalan saja dari benua biru karena sesungguhnya minyak nabati yang mereka hasilkan sesungguhnya lebih besar dampaknya terhadap deforestasi. 

 

Kedua, menempuh langkah hukum di badan internasional WTO. Pemerintah Indonesia dan Malaysia harus mengajukan gugatan atas upaya diskriminasi yang telah di buat oleh negara-negara Eropa,  Amerika beserta kroni-kroninya. Menuntut keadilan dan kesejajaran atas produk minyak nabati sawit dengan minyak nabati lain seperti minyak jagung dan kedelai. 

 

Langkah ini sangat perlu dilakukan guna memberikan warna kepada dunia bahwa Indonesia dan Malaysia bukan macan ompong dalam kancah internasional. Bahwa negara produsen minyak sawit ini memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam proses perdagangan internasional. Atau bahkan harus mendapatkan privilege lebih atas usahanya menemukan sumber energi yang terbarukan. Berjasa atas upaya mengikis ketergantungan atas minyak fosil.

 

Di samping itu, kemenangan atas gugatan tentang iklan minyak sawit di Perancis juga bisa menjadi pelajaran berharga bahwa langkah tegas dan mempertahankan diri dari isu negatif memang perlu di lakukan. 

Akhir kata, penulis ingin menegaskan bahwa sawit adalah masa depan. Geliat ekonomi yag di topang sektor ini sudah merata di sudut-sudut penjuru nusantara. Pemerintah beserta stakeholder sawit lainnya harus terus melakukan aksi propaganda ke tengah masyarakat yang berusaha kebun sawit. Tujuannya agar tercipta kesatuan persepsi bahwa isu negatif tentang sawit perlu di tepis secara bersama dan selanjutnya melakukan langkah-langkah perbaikan mulai dari hulu hingga hilir dalam proses pengelolaan kebun kelapa sawit. Dan penulis menilai langkah GAPKI yang mengundang para petani sawit dalam acara IPOC 2018 kemarin patut di apresiasi. 

 

Sekali lagi, sawit adalah masa depan, sektor tangguh penghasil devisa dan tangga menuju kesejahteraan dengan terus memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan. Semoga.


Advertisement

Komentar Facebook