Bangunan Air Dalam BWSS VI Nyaris Ambruk, Kontraktor Pelaksana Salahkan Konsultan Perencanaan

Senin, 05 November 2018 | 23:45:07 WIB


MUARASABAK, BERITAJAMBI.CO - Proyek prasarana penampungan Air Baku Sumur Dalam yang berada di Kelurahan Mendahara Ilir Kecamatan Mendahara Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yang dikerjakan oleh PT. Putri Shella Jannati, menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara ( APBN ) tahun 2018 melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera ( BWSS ) VI, saat ini kondisinya miring dan nyaris ambruk pada bangunan bak reservoar ( bak penampungan air ).

 

Padahal, proyek tersebut baru saja selesai dibangun. Berdasarkan pantauan media online beritajambi.co, bangunan tersebut diduga kuat, syarat penyimpangan.

 

Hal ini disebabkan lemahnya pengawasan yang dilakukan PT. Estetika Panca Sanjaya selaku konsultan pengawas yang diduga kurang berkoordinasi dengan fihak rekanan

 

Selain itu, proyek tersebut juga diduga kuat, perencanaannya yang kurang matang mendesign struktur pada tanah. Sehingga mengakibatkan bangunan bak reservoar tersebut terjadi kemiringan dan nyaris ambruk.

 

Hal ini sebagaimana disampaikan Marpaung selaku pelaksana lapangan PT. Putri Shella Jannati yang mengerjakan proyek prasarana Penampungan Air Baku Sumur Dalam yang berada di Kelurahan Mendahara Ilir Kecamatan Mendahara Kabupaten Tanjung Jabung Timur tersebut, saat dihubungi via ponsel oleh media online beritajambi.co ( Senin 5 November 2018 ), dan beliau mengatakan dan berdalih kalau hal ini terjadi akibat perencanaan yang kurang matang.

 

" Kami selaku kontraktor pelaksana sudah bekerja maksimal sesuai dengan RAB dan gambar rencana kerja ( bestek ) yang diberikan oleh perencanaan. Namun kami tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini pak ". Ujarnya.

 

" Konsultan perencana seharusnya lebih jeli lah. Masak kontur tanah yang rawa seperti ini mereka buat pemasangan kedalaman cerucuknya hanya empat meter masuk. Sementara kami tanyakan dengan masyarakat setempat, masyarakat setempat tersebut menjawab bahwa kedalam kayu cerucuk disini harus minimal rata - rata 7 meter. Kayu cerucuk yang kami pakai pun sesuai permintaan di RAB, yang mana didalam RAB yang terpakai harus kayu gelam panjang 4 meter. Yaaa kami pakai kayu gelam ". Jelasnya.

 

Saat ditanya, apakah pernah berkoordinasi dengan konsultan pengawas saat pelaksanaan terkait pemasangan cerucuk, beliau menjawab belum pernah.

 

" Kalau masalah konsultan pengawas sangat kooperatif dan selalu ada dilapangan memantau dan mengawasi pekerjaan kami. Namun untuk berkoordinasi hal seperti ini belum ada sama sekali. Memang proyek ini sifatnya tidak kaku dan fleksibel. Artinya ada hal - hal yang sifatnya perlu dilakukan CCO, ketika kondisinya urgen. Namun kayaknya untuk hal pergantian analisa dari cerucuk panjang 4 meter ke cerucuk panjang 7 meter tidak saya sampaikan. Fikir saya waktu itu bakal tahan dan tidak akan terjadi hal seperti ini, pak ". Ungkapnya.

 

Sementara Lurah Mendahara Ilir, Saleh saat disambangi beritajambi.co ( Rabu 10 Oktober 2018 ) membenarkan adanya pembangunan prasarana pengambilan air tanah yang berada tepat didepan kantor Lurah saat ini.

 

" Saat ini kondisi bangunannya miring dan nyaris ambruk. Padahal bangunan tersebut baru saja selesai dibangun. Ini proyek menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara ( APBN ) Tahun 2018 melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera ( BWSS ) VI yang dikerjakan oleh perusahaan PT. Putri Shella Jannati ". Kata Lurah Mendahara Ilir.

 

Saat ditanya, dengan kondisi bangunan proyek air baku, apakah dari Pemerintah Kelurahan menerima hasil pekerjaanya, Saleh mengungkapkan,

 

" Kalau masyarakat memang menerima, selaku Pemerintah mau tak mau harus menerimanya. Namun sebaliknya bila masyarakat tersebut menolak selaku Pemerintah kelurahan juga ikut menolak ". Ujarnya.

 

" Tentunya sangat kita sayangkan pembangunan prasarana Penampungan Air Baku Sumur Dalam melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera ( BWSS ) VI Provinsi Jambi yang dibangun dengan sumber dana APBN ini, baru saja dibangun kondisi fisik bangunannya kini miring dan nyaris roboh. Akan tetapi pihak balai seolah - olah menutup mata dan tidak ada teguran sama sekali kepada pihak rekanan untuk memperbaikinya. Saat ini bangunan tersebut belum lagi dimanfaatkan masyarakat, kondisinya sudah seperti ini ". Ujar Saleh geram. ( 0K1 ).


Advertisement

Komentar Facebook