HOT TOPICS:
#Nasional





Alay dan Arah Baru Pariwisata Kerinci

Rabu, 15 Mei 2019 | 13:59:25 WIB


Dalam sebuah diskusi hangat bersama Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Kerinci, Dr. Dairabi Kamil, M.Ed, terbahas soal tata letak Kabupaten Kerinci dan Sungai Penuh yang bukan daerah perlintasan, namun lebih sebagai daerah tujuan. Karena Kerinci dan Sungai Penuh berbeda seperti Sumbar yang menjadi perlintasan jalan lintas Sumatera. Sehingga, orang datang ke Kerinci dan Sungai Penuh harus punya tujuan dahulu di daerah ini.

Lalu, jika daerah ini mengedepankan Pariwisata, maka pariwisata yang populer yang penuh daya pikat yang akan sukses. Jika pariwisata separuh separuh, hasilnya akan separuh separuh juga.

Ada 3 (tiga) program prioritas pemerintahan Jokowi untuk mewujudkan 20 Juta Wisman di Tahun 2019, yakni Digital Tourism (E-Tourism), Homestay Desa Wisata dan Konektivitas Udara (Air Accesibility). 

Ketiganya menjadi prioritas mengikuti trend industri dunia saat ini.

Saat ini Era dunia telah berubah, perusahaan Digital merajai ekonomi dunia dengan konsep sharing economy-nya. Pariwisata Indonesia juga harus beradaptasi dan bertransformasi dengan era baru tersebut, maka lahirlah program kebijakan Digital Tourism.

Di Kerinci pengguna internet tidak bisa dipandang sebelah mata. Jumlahnya sangat banyak. Mahasiswa di kampus saya saja, jumlahnya ribuan, dan mereka dipastikan aktiv media sosial.

Kementerian Pariwisata memiliki program khusus untuk primosi memanfaatkan generasi milenial ini.  Mereka membangun sebuah komunitas netizen zaman now yang tertarik dengan pariwisata dan 80% bergerak di sosial media, yaitu GenPI (Generasi Pesona Indonesia) dan GenWI (Generasi Wonderful Indonesia).

Tugas pemerintah daerah dan pihak pihak yang terkait dengan pengembangan pariwisata adalah mengkoneksikan ke aktivan (ke Alay-an) anak anak muda ini baik dengan kementrian, dan stakeholder lain. Nantinya, anak anak muda ini  bisa setiap hari mempromosikan tema-tema pariwisata di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, WeChat, Weibo, Line, Path, dan platform medsos lainnya.

Ini tidak mudah tentunya, sama seperti budaya, perlu di bangun jauh hari agar menjadi kebiasaan. Tapi pemerintah bisa mensuport dan memantiknya agar semangat kealayan anak anak muda itu terberdayakan dan bisa berdampak pada pariwisata.

So, dari tiga program diatas, program promosi pariwisata bisa kita sharingkan tanggungjawabnya kepada anak anak muda Kerinci dan Sungai Penuh yang memang berpotensi.

Wawan Novianto (Dosen Ekonomi Syariah IAIN Kerinci)


Advertisement

Komentar Facebook