HOT TOPICS:
#Nasional





Soal Pemutihan Pajak, Ini Kata Agus Pirngadi

Senin, 12 Agustus 2019 | 14:34:32 WIB


JAMBI - Kepala Bekauda Provinsi Jambi, Agus Pirngadi mengatakan, di tahun 2019 berkemungkinan tidak ada pemutih pajak. Menurutnya, kemungkinan akan ada pemutihan pada tahun 2020 namun bukan pemutihan pajak pokok.

 

"Jadi denda dan bea balik nama, karena kalau kita lakukan pemutihan pokok itu pertama ketentuannya tidak harus dibisakan secara terus menerus," ujar Agus, Senin (12/8/2019).

 

Selanjutnya, kalau pajak pokok itu dilakukan maka wajib pajak yang mati itu akan menunggu atau tidak akan dibayarkan. Padahal sesuai kebijakan Polantas/Polri bahwa dua tahun setelah masa STNK kendaraan tidak dilakukan pembayaran dan pengesahan maka bisa di hapuskan dari data base kendaraan.

 

Mengenai berapa banyak kendaraan yang ada di Provinsi Jambi, Agus mengakibatkan belum mengatakan secara detail. Maka dilakukan kerjasama antara Pemprov Jambi dengan kabupaten kota untuk dapat data akurasi. Setelah di akurasi akan tahu mana yang data kendaraan yang potensial untuk pajak dan mana kendaraan yang tidak potensial lagi.

 

"Yang tidak potensi itu data kita sekarang ditahun 74 tidak pernah kita update RP 1,3 milyar. Dari RP 1,3 milyar kita tidak tahu karena data dari dulu pasti kendaraannya ada yang sudah jadi bangkai, hasil justifikasi data itu setelah kita dapatkan dari desa, kelurahan yang nantinya akan kami teruskan, kendaraan yang memang tidak layak lagi kita jadikan data base itu kita hapuskan, setelah dihapuskan baru dapat potensi real," tutur Agus.

 

Diperkirakan jumlah kendaraan dari tahun 1973 itu sebanyak 1,3 juta kendaraan roda dua dan empat. Sedangkan yang aktif membayar pajak hingga sekarang sekitar 28%.

 

Bekauda Provinsi Jambi akan mencoba mendalami dan mengidentifikasi kendaraan yang layak dan tidak layak pajak. Sehingga dapat memastikan potensi pendapatan pajak yang diterima.

 

"Misalnya ada motor cina itu masih terdata di data kita. Padahal sekarang fisiknya tidak ada. Kita identifikasi kalau memang tidak layak itu kita buang sehingga kita punya kepastian bahwa potensi pendapatan kita sekian," bebernya. (*)


Advertisement

Komentar Facebook