HOT TOPICS:
#Nasional





Arkeologi UI Sebut Pasak Perahu Kuno di Desa Lambur I Tidak Terbuat dari Logam

Senin, 12 Agustus 2019 | 21:59:06 WIB


MUARASABAK, BERITAJAMBI.CO – Perahu kuno yang ditemukan di Desa Lambur I Kecamatan Muara Sabak Timur Kabupaten Tanjung Jabung Timur beberapa tahun lalu tepatnya pada tahun 1997, saat ini dibongkar dan diteliti oleh tim arkeologi dari Universitas Indonesia ( UI ) dengan didampingi Balai Pelestarian Cagar Budaya ( BPCB ) Provinsi Jambi dari Unja.

 

Menariknya, dari hasil pembongkaran dan penelitian kapal kuno dihari ketiga pada jumat 9 Agustus 2019 yang dilakukan tim arkeologi Universitas Indonesia tersebut, telah mendapatkan hasilnya. Menurut perkembangannya berdasarkan referensi penetilitian ditahun 1997 lalu tersebut, telah ditemukan potongan papan yang akhirnya diidentifikasi sebagai perahu kuno. Namun belakang ini, ternyata ukurannya besar sekali dan lebih tepat disebut kapal kuno.

 

Tim arkeologi Universitas Indonesia beranggapan, kalau perahu identik dengan didayung, sedangkan yang ditemukan sekarang bisa jadi menggunakan layar. 

 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ali Akbar dari Arkeologi Universitas Indonesia ( UI ) saat dikonfirmasi beritajambi.co dilokasi pembongkaran ( Senin 12 Agustus 2019 ) menyebutkan, bahwa keberadaan perahu kuno di Desa Lambur I Kecamatan Muara Sabak Timur Kabupaten Tanjun Jabung Timur diprediksikan memiliki panjang mencapai 17 meter dan lebar 5 meter.

 

" Jadi cukup besar sekali, oleh karena itu penggalian atau ekskavasinya kita lebarkan. Karena kalau seandainya itu perahu, mungkin bisa lebih cepat penelitiannya. Karena ini besar, mungkin akan memakan waktu yang lebih lama ". Terangnya.

 

Ia juga menjelaskan, untuk bagian yang baru digali dan dibuka saat ini, belum bisa diindentifikasikan. Akan tetapi sudah bisa dikatakan kalau bagian itu merupakan bagian atas dari perahu yang berbentuk tempat orang mondar mandir. 

 

“ Nah ini yang sudah mulai kita ketemui ini bagian sisi pinggir kapal, baru ditemukan sebelah atau satu sisi, ini beda sekali dengan jenis perahu yang kita jumpai yang ilir mudik di sungai. Kalau perahu yang ilir mudik di sungai itu memiliki lambung langsung dan lunas dibawah satu. Kalau perahu kuno atau kapal kuno yang kita jumpai ini, sisi tepinya bisa dibuat orang mondar mandir yang ukurannya besar pada waktu itu ". Jelasnya.

 

Untuk sementara, prediksi dari Kapal tersebut disatu sisi kiri berukuran lebar 1,5 meter, sisi kanan 1,5 meter dan minimal lebarnya 5 meter. Kalau panjangnya berdasarkan penilitian tahun lalu itu sekitar 14 meter. Tetapi dengan lebar sekarang, proposionalnya maka berkemungkinan bisa mencapai 17 meter ". Urainya.

 

Kemudian ia memaparkan, disaat penelitian berlangsung ditemukan juga dua pecahan tembikar yang cukup kuno pada bagian perahu tersebut. Kekunoan ini memang mirip dengan perahunnya, karena perahu ini disusun tanpa menggunakan besi atau hanya menggunakan bilah. Sedangkan papannya hanya disambung atau direkatkan dengan pasak yang terbuat dari kayu. 

 
Arkeologi UI Sebut Pasak Perahu Kuno di Desa Lambur I Tidak Terbuat dari Logam
 
MUARASABAK, BERITAJAMBI.CO – Perahu kuno yang ditemukan di Desa Lambur I Kecamatan Muara Sabak Timur Kabupaten Tanjung Jabung Timur beberapa tahun lalu tepatnya pada tahun 1997, saat ini dibongkar dan diteliti oleh tim arkeologi dari Universitas Indonesia ( UI ) dengan didampingi Balai Pelestarian Cagar Budaya ( BPCB ) Provinsi Jambi dari Unja.
 
Menariknya, dari hasil pembongkaran dan penelitian kapal kuno dihari ketiga pada jumat 9 Agustus 2019 yang dilakukan tim arkeologi Universitas Indonesia tersebut, telah mendapatkan hasilnya. Menurut perkembangannya berdasarkan referensi penetilitian ditahun 1997 lalu tersebut, telah ditemukan potongan papan yang akhirnya diidentifikasi sebagai perahu kuno. Namun belakang ini, ternyata ukurannya besar sekali dan lebih tepat disebut kapal kuno.
 
Tim arkeologi Universitas Indonesia beranggapan, kalau perahu identik dengan didayung, sedangkan yang ditemukan sekarang bisa jadi menggunakan layar. 
 
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Ali Akbar dari Arkeologi Universitas Indonesia ( UI ) saat dikonfirmasi beritajambi.co dilokasi pembongkaran ( Senin 12 Agustus 2019 ) menyebutkan, bahwa keberadaan perahu kuno di Desa Lambur I Kecamatan Muara Sabak Timur Kabupaten Tanjun Jabung Timur diprediksikan memiliki panjang mencapai 17 meter dan lebar 5 meter.
 
" Jadi cukup besar sekali, oleh karena itu penggalian atau ekskavasinya kita lebarkan. Karena kalau seandainya itu perahu, mungkin bisa lebih cepat penelitiannya. Karena ini besar, mungkin akan memakan waktu yang lebih lama ". Terangnya.
 
Ia juga menjelaskan, untuk bagian yang baru digali dan dibuka saat ini, belum bisa diindentifikasikan. Akan tetapi sudah bisa dikatakan kalau bagian itu merupakan bagian atas dari perahu yang berbentuk tempat orang mondar mandir. 
 
“ Nah ini yang sudah mulai kita ketemui ini bagian sisi pinggir kapal, baru ditemukan sebelah atau satu sisi, ini beda sekali dengan jenis perahu yang kita jumpai yang ilir mudik di sungai. Kalau perahu yang ilir mudik di sungai itu memiliki lambung langsung dan lunas dibawah satu. Kalau perahu kuno atau kapal kuno yang kita jumpai ini, sisi tepinya bisa dibuat orang mondar mandir yang ukurannya besar pada waktu itu ". Jelasnya.
 
Untuk sementara, prediksi dari Kapal tersebut disatu sisi kiri berukuran lebar 1,5 meter, sisi kanan 1,5 meter dan minimal lebarnya 5 meter. Kalau panjangnya berdasarkan penilitian tahun lalu itu sekitar 14 meter. Tetapi dengan lebar sekarang, proposionalnya maka berkemungkinan bisa mencapai 17 meter ". Urainya.
 
Kemudian ia memaparkan, disaat penelitian berlangsung ditemukan juga dua pecahan tembikar yang cukup kuno pada bagian perahu tersebut. Kekunoan ini memang mirip dengan perahunnya, karena perahu ini disusun tanpa menggunakan besi atau hanya menggunakan bilah. Sedangkan papannya hanya disambung atau direkatkan dengan pasak yang terbuat dari kayu. 
 
“ Kita menjumpai banyak sekali pasak. Tehnik ini dikenal sebagai tehnik pembuatan kapal Asia Tenggara. Kenapa disebut demikian, karena tekhnik ini juga dikenal di Negara Malaysia, Thailand, Fhilipina dan Sumatera Selatan ". Paparnya.
 
Lebih jauh ia mengatakan, kalau budaya maritim sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, bahkan cara membuat kapalnya sudah mirip pada waktu itu, karena belum mengenal dengan besi untuk pembuatan pasak Perahu atau Kapal. Bahkan termasuk juga kapal karam yang ditemukan didaerah Cirebon dan perahu kuno di Rembang ( Daerah Jawa ). Tekhnik pembuatannya menggunakan istilah tekhnik ikat yang telah dikenal oleh masyarakat di Asia Tenggara di abad ke 2 ( dua ) masehi sampai dengan sekitar abad 12 masehi.
 
“Jadi rentang waktunya sangat panjang sekali, kita belum tahu kapal atau perahu ini direntang waktu yang mana. Oleh karena itu, segera kita bawa sample kayu yang sudah beberapa yang copot atau patah untuk di uji karboneting, uji pertanggalan absolut. Dan nanti akan ketahuan, misalnya perahu yang di Rembang itu, sample ijuknya dibawa ke laboratorium itu usianya ternyata di Abad ke 7 sampai ke Abad ke 8 masehi. Perahu atau kapal kuno di Cirebon kapal karam itu juga periodenya sekitar itu. Kita tidak tahu yang ini ( perahu kuno lambur - Red ), apakah dia periode itu atau sebelumnya atau setelahnya. Tetapi yang menarik adalah perahu atau kapal kuno ini besar sekali jika dibandingkan dengan periode itu. Yang lebih menarik lagi adalah, lokasi tempat dimana penemuan perahu ini sekarang disebut Desa Lambur I, tetapi nama kuno yang sebenarnya dan masih digunakan oleh masyarakat adalah Sabak ". Katanya.
 
Ia juga mengungkapkan, kalau Sabak atau Zabak itu sudah dikenal dan disebut oleh para pedagang Arab, para Pelancong, dan para Musafir sejak Abad 7 atau mungkin lebih tua lagi. Jadi, Zabak ini merupakan pelintasan yang sangat ramai sebenarnya.
 
" Mungkin ini bisa kita sebut Kapal Zabak ". Ungkapnya.
 
Sementara rentang waktu pembongkaran dan penelitiannya, tim arkeologi Universitas Indonesia mengatakan belum bisa memastikan berapa lama mereka akan menyelesaikannya.
 
" Karena jenis temuan ini materialnya terbuat dari kayu, maka untuk melakukan penelitiannya memakan waktu yang cukup panjang dan tidak bisa cepat. Kita harus pelan - pelan sekali, karena kayu itukan rentan sekali. Memang material kayunya itu pada zaman dulu sangat keras sekali, akan tetapi karena sudah masuk kedalam air sekian lama, maka ketika terbuka dan terpapar matahari dia cepat lapuk. Oleh karena itu kita tidak bisa buru - buru. Dan direncanakan kita sampai bulan Oktober atau mungkin sampai November lah ". Ujarnya.
 
" Yang terpenting untuk sementara ini, perahu tersebut akan ditampakkan beberapa titik saja, belum diangkat. Karena jika diangkat memiliki resiko rusak yang cukup besar sekali. Jadi nanti dibuka dulu ( tanahnya disingkap ) kemudian direkam atau di foto sambil lihat kondisi kayunya. Jika memungkinkan dipindah, maka akan dipindah atau bisa juga kita bikin semacam tembok disekeliling. Dan rencana penanganannya nanti, oleh kawan - kawan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dari Provinsi Jambi ". Ulasnya.
 
“ Target sekarang adalah mencari lebarnya kapal, setelah itu salah satu ujung yang dibagian barat, kita coba. Dan minggu depan kita arahkan ke arah timur untuk mencari ujung yang satu lagi. Dan strateginya agak lengkap atau jarang. Jadi setelah kita temu ujung ke ujung, baru kita pelan pelan membuka semuanya, mungkin ". Pungkasnya.( 0K1 )

Advertisement

Komentar Facebook