HOT TOPICS:
#Nasional





Corona dan Krisis Pendidikan Anak-anak

Minggu, 07 Juni 2020 | 07:29:49 WIB


Kebijakan pemerintah tentang pemberlakuan PSBB tak hanya berakibat pada orang dewasa, namun anak-anak pun merasakan akibatnya. Sejak tig bulan lalu pemerintah mengumumkan pasien pertama dan kedua positif Covid-19, kini jumlah pasien positif corona di Indonesia sudah mencapai 30.514 kasus per tanggal 6 Juni 2020.

Baik pemerintah pusat maupun daerah telah melakukan berbagai upaya dengan memberlakukan peraturan bekerja, belajar, dan beribadah serta kegiatan lainnya dari rumah, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona. Selain itu, sekarang pemerintah membuat aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membatasi aktivitas sosial warga, namun PSBB hanya diberlakukan di kota-kota yang sdh dikatakan zona merah, misalkan Jakarta, dan provinsi dibagin pulau jawa lainny.

Tida hanya berakibat pada orang dewasa saja, PSBB juga berakibat pada anak-anak. Baik secara kesehatan, sosial, ekonomi dan pendidikan. Meski tak berakibat besar, UNICEF Indonesia mengatakn dalam diskusi online dengan mengusung tema besar “Akibat Sosial Ekonomi Covid-19 pada Anak-Anak di Indonesia”, anak juga menanggung akibat lain yaitu akibat social, ekonomi dan pendidikan.

Krisis pembelajaran pun mulai dirasakan pada anak-anak Indonesia, tak terkecuali provinsi Jambi, dimana anak-anak banyak yang kesulit dalam mengikuti proses pembelajarn. Setelah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari rumah pada Maret lalu, penutupan sekolah bisa memperburuk kesenjangan akses pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan pandemi COVID-19 telah membuat para guru, siswa dan orang tua menyadari bahwa pendidikan bukan sesuatu yang bisa dilakukan di sekolah saja. 

"Tetapi pendidikan yang efektif itu membutuhkan kolaborasi yang efektif dari guru, siswa dan orang tua. Tanpa kolaborasi itu, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi," ujar Nadiem saat peringatan Hari Pendidikan Nasional di Jakarta, Sabtu (2/5/2020).

Dia menambahkan krisis COVID-19 memakan begitu banyak nyawa dan menjadi tantangan luar biasa bagi Indonesia dan seluruh dunia. Namun, dari krisis itu, para insan pendidikan mendapatkan banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang bisa diterapkan setelahnya. Untuk pertama kalinya, guru melakukan pembelajaran secara daring dengan menggunakan perangkat baru dan menyadari bahwa pembelajaran bisa terjadi di mana pun. 

Orang tua juga untuk pertama kalinya menyadari betapa sulitnya tugas guru. Betapa sulitnya tantangan untuk bisa mengajar anak secara efektif. Kemudian menimbulkan empati kepada guru yang tadinya belum ada. Nadiem menambahkan timbulnya empati dan solidaritas di tengah masyarakat pada saat pandemi COVID-19 merupakan suatu pembelajaran yang harus dikembangkan.

 "Bukan hanya pada masa krisis, tetapi juga pada saat krisis berlalu," kata dia. Belajar, lanjut Nadiem, memang tidak selalu mudah dan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk kita berinovasi. "Saatnya kita melakukan berbagai kegiatan eksperimen. Ini lah kita mendengarkan hati nurani dan belajar dari COVID-19, agar menjadi masyarakat dan bangsa yang lebih baik pada masa depan," imbuh Nadiem. 

Banyak factor yang menyebabkan anak-anak sulit dalam mengakses pembelajaran, bahkan orang tua pun merasakan akibat dari proses pembelajaran jarak jauh, melalui wawancara secara virtual, saya mendengarkan keluhan dari anak-anak dan orang tua diantarnya ialah rendi nata siswa kelas 2 IPS MAN 2 Kota Jambi dia mengatakan” saya banyak belum faham tentang pelajaran yang disampai kan guru karena sinyal lelet, kadang kuota kami habis serta penyampain guru yang kurang jelas” selain itu orang tua juga mengeluh karena masih banyak orang tua yang belum bisa menggunakan elektronik sehingga menghambat proses belajar anak-anak.

Penutupan sekolah ini menjadi akibat tersendiri khususnya bagi siswa miskin dan rentan. Sebab pendidikan mungkin tidak menjadi prioritas utama, mereka sering kali bersusah payah memenuhi kebutuhan dasar terlebih dahulu.

Dalam diskusi online yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan UNICEF, Senin (11/5), Spesialis Kebijakan Sosial UNICEF, Angga Dwi Matra, menyebutkan bahwa dampak penutupan sekolah berakibat pada kesulitan anak dalam menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai tingkatan kelas yang diharapkan.

Seiring berkurangnya waktu belajar secara langsung atau tatap muka, tentu saja hal ini akan berisiko terhadap pembangunan sosial dan ekonomi Indonesia. Ini juga berakibat pada peningkatan anak yang putus sekolah akibat kesulitan yang dihadapi anak dan remaja untuk kembali dan tetap bersekolah setelah penutupan sekolah dan kontraksi ekonomi yang berlangsung dalam waktu lama.

akibat dari virus corona kesulitan dalam proses pembelajaran juga dirasakan oleh anak-anak penyandang disabilitas, mereka secara khusus sulit belajar dari jarak jauh dengan efektif karena mereka lebih memerlukan kontak fisik dan emosional dengan guru serta mengandalkan alat-alat dan terapi khusus agar dapat belajar dengan baik.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti, mengakui kondisi krisis pendidikan di Indonesia berdasarkan hasil penelitan yang dilakukan KPAI terhadap akibat Covid-19 pada anak-anak Indonesia.

Dari diskusi online yang sama, Retno mengakui PJJ yang saat ini diberlakukan sebagai bagian dari upaya menekan penyebaran Covid-19 memunculkan fakta, besarnya kesenjangan pendidikan antara kelompok yang mampu dan tidak mampu.

Mulai dari akses listrik, internet, serta kemampuan membeli pulsa dan komputer atau ponsel yang layak untuk belajar jarak jauh ternyata masih kurang memadai. KPAI menyebutkan bahwa masih banyak anak yang tak memiliki kebebasan dalam mengikuti pembelajaran secara online.

Inilah yang kemudian berakibat pada kehilangan kesempatan belajar yang layak. Padahal pendidikan merupakan salah satu hak anak yang wajib dipenuhi oleh pemerintah demi kesenjangan sosial dan ekonomi negara.

Retno mengakui PJJ tidak efektif pada anak-anak Indonesia dalam rangka memutus penyebaran virus corona.

Karena berdasarkan banyaknya pengaduan yang diterima oleh KPAI terkait pembelajarn, tugas yang diberikan oleh guru pada anak-anak yang terlalu banyak sehingga membuat anak-anak bosan dalam belajar dan waktu belajar yang kurang efektif.

KPAI mengatakan, berdasa hasil penelitian mayoritas yang banyak mengadu ialah anak-anak usia sekolah menengah. akhirnya KPAI dapat menyimpulkan bahwa PPJ dapat membuat anak-anak kelelahan, stress, kurang istirahat karena banyaknya tugas yang diberikan oleh guru.

Retno menyebutkan bahwa selama PJJ berlaku siswa banyak mengeluhkan kepada guru yang hanya memberikan tugas tetapi nyaris tak ada interaksi tanya jawab atau pun guru menjelaskan materi. akibatnya anak menjadi kelelahan dan kebingungan mengerjakan tugas yang diberikan.

Selain itu, akses internet yang kurang memadai membuat anak-anak kesulitan dalam mengakses pelajaran yang diberikan oleh gurunya, sehingga membuat problem yang sering dikeluhkan oleh anak-anak dalam belajar. 

Selain dari susah mengakses internet, bagi anak-anak yang miskin atau penghasilan orang tuanya yang menurun drastic meneyabakan mereka keberatan dalam membeli pulsa internet dan tidak dianggap sebagai kebutuhan yang utama. 

Padahal kemudahan akses internet menjadi salah satu syarat untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Retno sebagai perwakilan dari KPAI dalam diskusi online tersebut menyebutkan bahwa usulan yang bisa dilakukan pemerintah dalam memberlakukan PJJ pada anak-anak Indonesia, diantaranya adalah:

1.Diperlukan penetapan kurikulum dalam situasi darurat Covid-19.

2.Mempertimbangkan kondisi anak dan keluarganya dalam PJJ dan penliaan dalam ujian online.

3.Guru sebaiknya tidak hanya fokus pada pembelajaran dan penilaian kognitif saja, tetapi menyeimbangi dengan aspek afektif berbasis pendidikan yang berkarakter.

4.Kemendikbud dan Kemenag harus mendorong para guru menggunakan paltform Rumah Belajar dan Program Belajar dari Rumah yang disiarkan Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) sejak Senin (13/4/2020), sebab platform ini mendapat respon yang baik dari para orangtua dan sekolah.

5.KPAI akan mendorong para guru untuk lebih kreatif dalam menjalankan PJJ. Tidak hanya berfokus pada kompetensi akademik semata, tetapi mengenali dan memanfaatkan minat serta potensi anak sehingga tugas yang diberikan akan dikerjakan dengan totalitas dan semangat.

6.Berkolaborasi dan merampingkan bidang studi yang beragam dan jumlahnya banyak.

KPAI berharap pemerintah tak hanya memberikan subsidi pangan seperti sembako, tetapi juga membuka akses internet gratis sehingga anak-anak dapat belajar dengan tenang dan aman dari rumah. Sebab pendidikan merupakan hak dasar anak yang harus dipenuhi oleh negara.

Penulis : Darul Qutni 

Mahasiswa Program Study Tadris Biologi

Kuliah Kerja Nyata (KKN 2020) UIN STS Jambi



Advertisement

Komentar Facebook