HOT TOPICS:
#Nasional





SAH: Demi Masa Depan Anak Bangsa Waspadai Stunting di Tengah Pandemi

Rabu, 12 Agustus 2020 | 08:26:50 WIB


Anggota DPR RI Komisi IX yang membidangi Kesehata dan Ketenagakerjaan Sutan Adil Hendra (SAH) memprediksi jumlah pengangguran dan angka kemiskinan Indonesia bisa naik. 

 

"Dalam skenario terberat saat pandemi, jumlah warga miskin diperkirakan bisa bertambah 3,78 juta orang dan pengangguran bertambah 5,23 juta orang," ungkap Bapak Beasiswa Jambi tersebut. 

 

Meningkatnya jumlah penduduk miskin tersebut menurut SAH dipastikan berdampak terhadap prevalensi stunting, yang merupakan prioritas program kerja pemerintah. Target pemerintah menurunkan stunting hingga 14 persen dinilai sulit dicapai apabila perhatian terhadap gizi anak di tengah masa Pandemi COVID-19 ini berkurang.

 

Sehingga SAH menyayangkan perhatian pemerintah terhadap stunting dan gizi buruk yang teralihkan akibat COVID-19. "Yang harus disadari, stunting ini dampaknya 30 tahun mendatang. Saat dunia makin kompetitif, anak-anak yang hari ini tidak cukup gizinya akan semakin terbelakang."

 

Disampaikan SAH, penanganan stunting dan gizi buruk seharusnya tidak lantas terhenti akibat pandemi. Sebab dapat tetap dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan program bantuan pangan yang lebih tepat sasaran. Tepat sasaran yang dimaksud bukan hanya penerima, namun juga komposisi isinya harus memenuhi kebutuhan gizi anak dan keluarga.

 

"Sekarang di dalam bantuan pangan atau sembako, ada produk tinggi kandungan gula seperti susu kental manis. Ini kan tidak tepat diberikan kepada masyarakat apalagi nanti jadi konsumsi anak-anak. Jadi saya harap hindari memasukan makanan yang tidak baik untuk pertumbuhan," jelasnya.

 

Karena menurutnya stunting bukan hanya masalah kesehatan, bukan hanya domainnya masalah Kementerian Kesehatan, ini melibatkan semua. Karena apa? Salah satu indikator terkena stunting itu kan karena adanya gizi yang sangat buruk. Adnya gizi yang kronis, gizi yang buruk dan itu juga terkait akses pangan. Karena ada keterbatasan akses pangan.

 

Selain itu SAH mengatakan sudah lumrah bagi masyarakat Indonesia menerima sembako berisi berbagai produk instan, termasuk susu kental manis. Sekilas, bantuan ini terlihat meringankan masyarakat. Namun bila diperhatikan, bantuan untuk masyarakat dengan komposisi tersebut belum tentu meringankan beban keluarga.

 

Dalam kesempatan yang sama, SAH juga menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini. Ia menilai pemerintah mengurangi pelayanan kesehatan dasar seperti posyandu, puskesmas, dan poliklinik yang tentu saja mengurangi program-program upaya kesehatan masyarakat (UKM).

 

"UKM ini seharusnya tidak boleh berhenti karena menyangkut program prioritas, salah satunya adalah stunting. Bayangkan, sudah ada delapan juta orang stunting, dan angka ini yang akan kita hadapi usai pandemi. Refocussing anggaran akibat pandemi seharusnya diluar program-program prioritas pemerintah," tandasnya. (*)



Advertisement

Komentar Facebook