HOT TOPICS:
#Nasional





Sudah Tahu? Ini Dia Beda Redenominasi dengan Sanering

Minggu, 12 Juli 2020 | 10:12:46 WIB


Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah
Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah

Jakarta - Rencana penyederhanaan nilai mata uang rupiah kembali mencuat. Rencana redenominasi ini akan masuk dalam program legislasi nasional (Prolegnas) di DPR RI.

Redenominasi adalah meringkaskan angka pada mata uang namun nilainya tetap sama. Contohnya uang pecahan Rp 1.000 nanti setelah redenominasi akan menjadi Rp 1.

Dulu di Indonesia sempat ada kebijakan sanering atau pemotongan uang. Ini jelas berbeda dengan redenominasi yang hanya mengubah menjadi lebih sederhana.

Rencana Rp 1.000 Jadi Rp 1 Muncul Lagi, Ini Bedanya dengan Sanering

Apa saja bedanya? Berikut berita selengkapnya:

Sanering

Berdasarkan buku Sejarah Bank Indonesia periode I disebutkan pada Maret 1950 Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara melalui Surat Keputusan (SK) Menkeu No PU/1 tanggal 19 Maret 1950 mengeluarkan kebijakan "pembersihan moneter" atau "gunting Sjafruddin".

 

Hal ini terjadi karena jumlah uang beredar di Indonesia sangat besar bahkan mencapai Rp 3,9 miliar. Padahal uang ini dibutuhkan untuk pembiayaan perjuangan dan menggiatkan perekonomian pada berbagai sektor. Namun pemerintah juga belum mampu mencari sumber pembiayaan dari pasar.

Mengutip media keuangan.kemenkeu.go.id uang kertas digunting menjadi dua bagian. Untuk sisi kanan tidak berlaku, namun bisa ditukar dengan Obligasi Republik Indonesia 1950 sebagai pinjaman pemerintah dan bunga yang diberikan 3% untuk waktu tertentu. Sisi kiri dapat digunakan untuk alat pembayaran yang sah.

 

Sanering ini berhasil menekan jumlah uang kartal menjadi hanya Rp 1,6 miliar. Kemudian pada 25 Agustus 1959 Indonesia kembali melakukan sanering.

 

Saat itu di bawah Menkeu Ir Djuanda yang menurunkan nilai mata uang dengan nominal Rp 500 dan Rp 1.000 yang nilainya menjadi hanya 10% dari nilai semula. Saat itu Deposito yang ada di bank yg nilainya lebih dari Rp 25.000 dibekukan dan diganti dengan obligasi negara berbunga 3% setahun untuk jangka waktu pembayaran 40 tahun.

 

Sanering kembali terjadi pada 13 Desember 1965 nilainya menjadi seperseribu dari nilai sebelumnya. Tiap kali hal ini dilakukan, masyarakat panik dan menyerbu pasar namun hal ini menjadi langkah penting untuk penyehatan perekonomian.

Redenominasi

Mengutip laman resmi bi.go.id disebutkan bahwa redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang. Biasanya kebijakan ini dilakukan dalam kondisi ekonomi yang stabil dan menuju ke arah yang sehat.

 

Dalam redenominasi, hanya dihilangkan beberapa angka nol saja. Nilainya tetap dan tidak berubah. Sehingga penulisan nilai barang dan jasa akan lebih sederhana.

 

Misalnya, Rp 1.000 menjadi Rp 1. Meski disederhanakan, nilai uang Rp 1.000 akan tetap sama dengan Rp 1 jika sudah diredenominasi. Sebagai contoh, seseorang membeli permen seharga Rp 1.000. Sesudah redenominasi, orang tersebut masih bisa membeli permen itu dengan pecahan uang Rp 1 karena nilainya sama.

 

Kemudian juga untuk sistem akuntansi dalam sistem pembayaran tanpa menimbulkan dampak negatif perekonomian. (Sumber Berita: Detik.com)



Advertisement

Komentar Facebook