HOT TOPICS:
#Nasional





Pemuda; Investasi Bangsa?

Jumat, 28 Agustus 2020 | 18:24:46 WIB


Pemuda, sudah menjadi konotasi tidak asing terdengar dalam ruang-ruang public. Sering disebutkan dalam diskusi-diskusi baik diskusi non-formal maupun diskusi formal. Banyak pendapat-pendapat para ahli menyebutkan seseorang yang layak menyandang status pemuda sangat bervariasi. Aura enerjik kepemudaan selalu ditandai dengan gaya berpakaian yang terkesan casual, brandeed, dan santai. Oleh karenanya tidak menutup kemungkinan seseorang yang telah melewati masa kepemudaannya mendeklarasikan kembali semangat mudanya, dengan mengkapitalisasi gaya berpakaian seperti yang penulis jelaskan diatas. Untuk sementara Permenpora menyebutkan bahwa kategorisasi pemuda dimulai dari Usia 18-30 Tahun. Jelasnya pemuda identik dengan semangat berjuang, peka dalam hal pengembangan-pengembangan.

 

Pada kesempatan kali ini penulis sengaja tidak menggunakan pendekatan akademis yang dekat dengan dunia kampus. Konon, bahwa semangat berjuang pemuda dalam menghantarkan republik ini pada gerbang kemerdekaan juga terwakili oleh pemuda-pemuda yang jauh bahkan tidak pernah menyentuh dunia akademis. Sejarah mencatat!. Mengutip pernyataan Bung Karno “ Beri aku 10 pemuda, maka akan ku guncang dunia “. Melihat situasi yang ada, hal ini menurut penulis masih relevan namun memiliki tantangan besar namun memiliki tantangan besar dalam memenangkan zaman. Pemuda hari ini dikaitkan dengan era milenial/millennium yang cenderung dekat dengan kreatifitas, mumpuni dalam teknologi dan inovasi. Indonesia yang sebentar lagi akan menyambut bonus demografi, dimana usia produktif akan mendominasi secara kuantitas. Hal ini menjadi perhatian lebih bagi para pemangku jabatan yang mempengaruhi kebijakan, baik legislative maupun eksekutif.

Pemuda dalam Angka dan Pembangunan

Diperkirakan pada tahun 2019 terakhir, BPS (Badan Pusat Statistika) menyebutkan pada satu tahun terakhir ada sekitar 64,19 juta jiwa pemuda yang tersebar di wilayah NKRI dan mengisi hampir seperempat jumlah penduduk Indonesia (24,1 persen). Disadari atau tidak angka 64 juta bukanlah jumlah yang sedikit, dan sejatinya ke-64 juta pemuda tersebut mampu memiliki peranan taktis dan strategis dalam akselerasi pembangunan. Hasil Proyeksi penduduk berdasarkan SUPAS 2015, pemuda juga mengisi sepertiga dari penduduk usia produktif yang keberadaannya diharapkan mampu dalam meningkatkan perekonomian negeri ini. Selain sebagai agen perubahan, penulis beranggapan pemuda harus beranjak dari generasi penerus menjadi generasi pelurus. Pasalnya, banyak hal-hal dan agenda-agenda starategis pembangunan yang terkendala seharusnya layak di isi oleh kehadiran pemuda.

Diakui pada saat ini kebijakan pemberdayaan pemuda di ranah Pemerintah Pusat dan kementrian memiliki banyak program-program terkait pemberdayaan pemuda. Namun sangat disayangkan kebijakan-kebijakan tersebut terkadang tidak terintegrasi pada tatanan pemerintah daerah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan kapabilitas pemuda apalagi Indonesia sedang mengalami wabah pendemi Covid-19. Sebagai peluang bahwa pemuda masih memiliki semangat nasionalisme dalam membangun bangsa ditandai dengan masih eksis nya gerakan-gerakan dari Organisasi Kepemudaan di Indonesia. Sayang, yang menjadi problematika diranah pemerintah daerah hal-hal yang bersifat kontribusi pemuda selalu dihadapi dengan pendekatan-pendekatan administrative yang terkesan menyulitkan. Seharusnya Pemerintah daerah “menjemput bola”, mensupport semangat akselerasi pemuda, melihat jumlah dan semangat pemuda. Setiap pemuda memiliki potensi masing-masing, baik vokasi maupun non vokasi. Telah banyak contoh pemuda yang memulai dan berprestasi dibeberapa bidang misal; dibidang ilmiah, kewirausahaan, konservasi alam, pendidikan tinggi dsb. Keberhasilan investasi bangsa (pemuda) ini sangat dipengaruhi oleh dua hal, antara sinergitas pemerintah daerah sebagai ranah penyelenggaraan program dan masifnya semangat meng-upgrade diri seorang pemuda maupun yang tergabung dalam sebuah wadah. Karakter pemuda yang selalu berpikiran positif dan optimis perlu dimasifkan secara dini. Jika kekuatan dan potensi tersebut diselaraskan dengan jiwa Gotong-Royong alhasil menghasilkan suatu kontribusi positif.

Pemuda dalam Pusaran Politik

Jawaban daripada tantangan diatas dijawab dengan dilibatkannya agenda-agenda penentuan kebijakan dan sebuah regulasi. Sub-point diatas, pusaran politik yang dimaksud; pemuda tidak selalu harus dilibatkan dan berekspresi pada tatanan pertarungan elektoral. Namun dalam hal ini, penulis beranggapan bahwa pemuda harus dilibatkan sebagai Think Tank, aktif dalam pertarungan-pertarungan ide dan gagasan dalam hal pembangunan. Menjadi Mitra Kritis dan Mitra Strategis dalam pelaksanaan roda pemerintahan. Tersedianya ruang kritik dan ruang strategis dalam penampungan opini-opini dari pemuda yang masih terjaga objektivitas pemikirannya. Berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah, anggota legislative, swasta dan masyarakat sipil memprakarsai sebuah saluran ekspresi yang dapat mendorong kepemimpinan dan jiwa berdikari pemuda. Pemangku kebijakan tak perlu takut akan sebuah kritik, karena hal ini merupakan konsekuensi daripada perjalanan demokrasi. Ruang Kritik dan Ruang Strategis yang melibatkan anak muda dalam pengembangan strategi nasional maupun daerah. Dapat dibayangkan jika ke 64 juta pemuda Indonesia hari ini berhasil meraih bonus demografi kedepan mengisi pos-pos pengembangan strategi dan usaha nasional.

 Penulis: Reinhadt P Antonio

Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Jambi dan Sekretaris DPC GMNI Jambi



Advertisement

Komentar Facebook