HOT TOPICS:
#Nasional





Tuyul Demokrasi

Kamis, 10 September 2020 | 14:15:03 WIB


Wawan Novianto
Wawan Novianto

“Bekerjalah seperti tuyul: tak pernah kelihatan, tak butuh segala pujian, tapi hasilnya selalu memuaskan.” (anonim)

 

Siapa yang gak kenal tuyul, meski tak pernah melihatnya, tapi hampir semua orang Indonesia mengenalnya.

 

Tuyul di Indonesia memang punya sejarah panjang, menjadi kepercayaan di kalangan masyarakat. Tidak heran banyak yang mempercayai dan bahkan meminatinya.

 

Sejarawan pertama yang mengulas tuyul pada era ini adalah Clifford Geertz, seorang antropolog asal Amerika Serikat yang melakukan penelitian di Mojokuto, Jawa Timur. Dalam bukunya yang berjudul Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Clifford Geertz mendeskripsikan tuyul secara detail.

 

Geertz tak hanya mendeskripsikan anatomi tubuh tuyul dengan detail yang mengagumkan. Ia juga menguraikan secara panjang lebar mengenai aktivitas tuyul, karakter orang yang memilikinya, hingga bagaimana cara mendapatkannya.

 

Bahkan film Holywood juga memfilmkan tuyul dengan judul casper.

 

Di pertarungan demokrasi, tuyul bisa dinisbatkan pada mereka yang memang berperan aktiv dalam penggalangan dana dan massa namun tidak benar-benar tampak kasat mata.

 

Hal hal formalitas dalam politik adalah hal-hal yang paling tidak penting. Banyak kesepakatan terjadi di belakang layar, bahkan semua sudah selesai sebelum diumumkan. 

 

Siapa yang bisa kita nisbatkan sebagai tuyul dalam alam demokrasi saat ini ?

 

Pertama tentu cukong. Tidak bisa dipungkiri, peran cukong sebagai pengepul modal bagi kandidat adalah hal yang nyata. Meski sama seperti tuyul, dia tidak terlihat namun punya peran penting.

 

Kedua, mungkin bisa kita bisbatkan kepada para Aparatur Negara yang sejatinya dilarang berpolitik praktis. Namun apalah daya, jabatan itu harus dibayar dengan komitmen, bukan hanya dengan kinerja sebagai aparatur negara.

 

Dibalik layar aparatur negara bermain politik praktis, berdalih taat pada atasan, mereka tidak sungkan menggalang massa. Ada yang tetang terangan, ada juga yang dua muka.

 

Terakhir adalah tokoh agama. Banyak terjadi komodifikasi agama di era saat ini. Agama dijadikan jualan politik. Isu -isu agama memang sangat laris manis. Dari solat sampai zakat dijadikan jualan.

 

Tuyul - tuyul ini terus bekerja tak kenal lelah melayani tuannya. Dengan harapan, saat menang nanti, si tuyul bisa masuk istana. 

 

Penulis: (Wawan Novianto/Dosen IAIN Kerinci)



Advertisement

Komentar Facebook