HOT TOPICS:
#Nasional





Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Perkembangan Ekonomi

Senin, 12 Oktober 2020 | 19:49:57 WIB


JAMBI - Kepala perwakilan Bank Indonesia (BI) provinsi Jambi,, Suti Masniari Nasution mengatakan, Pandemi covid-19 telah mengakibatkan demand shock secara global, yang kemudian berlanjut menjadi supply shock.  Menurutnya, kondisi ini juga tidak hanya berdampak pada permintaan eksternal, namun juga terhadap permintaan domestik di Indonesia yang juga mengalami tekanan.

 

"Di provinsi Jambi, pertumbuhan ekonomi juga cukup terganggu dengan adanya pandemi covid 19 ini," kata Suti Masniari Nasution pengganti Bayu Martanto saat silaturahmi dan sekaligus juga memperkenalkan diri dengan  Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis via virtual, Senin (2/10/2020).

 

Ditambahkannya, perlambatan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi mengalami tren perlambatan sejak tahun 2015. Kondisi ini, diperparah dengan adanya pandemi covid-19 yang menyebabkan perekonomian Jambi mengalami kontraksi di triwulan II 2020.

 

"Sejak tahun 2015-2019 pertumbuhan ekonomi provinsi Jambi selalu tumbuh di bawah 5%. Selama periode tersebut, ekonomi Jambi juga tumbuh dibawah ekonomi nasional, dimana sebelumnya tumbuh lebih tinggi."

 

"Pandemi covid 19 menekan perekonomian provinsi Jambi, pada triwulan II 2020 ekonomi Jambi mengalami kontraksi -1,72% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh melambat di level 1,87% (yoy)," ujarnya via zoom meeting yang diikuti forum wartawan bisnis (Forweb) Jambi, Senin (12/10/2020) siang.

 

Namun demikian, kata Suti, konsumsi rumah tangga membaik secara terbatas seiring dengan relaksasi pembatasan sosial yang mendorong aktivitas perekonomian dan belanja.

 

Beberapa indikator dini menunjukkan perbaikan, seperti indeks keyakinan konsumen, kegiatan dunia usaha serta harga komoditas utama daerah Jambi.

 

Akan tetapi, konsumsi pemerintah hingga triwulan III 2020 masih belum optimal untuk memberikan dorongan terhadap perekonomian.

 

Percepatan belanja pemerintah, jelas Suti Masniari Nasution menjadi faktor kunci untuk menggerakkan perekonomian di masa pandemi dimana terjadi supply dan demand shock.

 

"Pertumbuhan kredit pada triwulan III (Agustus) 2020 membaik dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu menjadi 3,22% dari sebelumnya 2,09% pada triwulan II 2020. Peningkatan kredit terjadi pada seluruh jenis kredit penggunaan."

 

"Resiko kredit yang tercermin dari rasio NPL cenderung menurun yaitu dari 3,51% (groos) pada triwulan II 2020 menjadi 3,38% (groos) pada triwulan III Agustus 2020. Selanjutnya, NPL kredit rumah tangga (KPR, KKB dan multiguna) juga mengalami sedikit perbaikan dari 1,574% (gross) pada triwulan II 2020 menjadi 1,567% (gross) pada triwulan III (Agustus) 2020, ujar Suti Masniari Nasution.

 

Perkembangan transaksi tunai dan nontunai menunjukkan peningkatan sejalan dengan membaiknya aktivitas perekonomian di tengah relaksasi pembatasan sosial.

 

Selama periode Agustus 2020 cashflow di provinsi Jambi tercatat net-inflow sebesar Rp 247 miliar. Terjadi kenaikan yaitu sebesar Rp 173 miliar atau 234% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 dengan net-outflow sebesar Rp 74 miliar.

 

Kondisi net-outflow mengindikasikan meningkatnya permintaan uang kartal di provinsi Jambi, seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian dengan adanya relaksasi pembatasan sosial.

 

"Perkembangan inflasi Provinsi Jambi pada September 2020 secara tahunan tercatat 0,99% (yoy), terendah dalam 4 tahun terakhir. Secara bulanan tercatat inflasi 0,11% (mtm), dan secara tahun kalender tercatat inflasi 0,96% (ytd)," jelas Suti. (*)



Advertisement

Komentar Facebook