HOT TOPICS:
#Nasional





SAH Minta Pemerintah Tangguhkan Penggunaan Vaksin Astrazeneca

Selasa, 16 Maret 2021 | 07:57:45 WIB


Anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi Kesehatan Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM (SAH) meminta pemerintah menangguhkan sementara suntikan vaksin AstraZeneca COVID-19 kepada masyarakat setelah adanya laporan kasus pembekuan darah, pasca penyuntikan. Termasuk kemungkinan bertambahnya keganasan virus pasca vaksinasi.

 

SAH menyampaikan kekhawatirannya akan munculnya korban meninggal seperti di Denmark, Swedia, Austria, Korea Selatan dan beberapa negara lain yang menggunakan Vaksin Buatan Inggris tersebut.

 

"Kita minta penggunaan vaksin ini dihentikan sementara, karena di belahan dunia lain, otoritas Denmark, Swedia, Austria dan Korea Selatan menginvestigasi adanya kematian warga setelah menerima vaksin AstraZeneca," ungkapnya di Jambi (15/3) kemarin.

 

Menurut Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI tersebut, Indonesia harus cepat bertindak untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi, karena penggunaannya Vaksin apapun, yang paling penting adalah keselamatan masyarakat sebagai prioritas, ungkapnya.

 

"Saya minta pemerintah jangan mengambil resiko dengan mengorbankan kesehatan masyarakat dengan penggunaan vaksin AstraZeneca di Indonesia, sehingga kita minta ini ditangguhkan," ungkapnya. 

 

Menurut Anggota DPR yang dikenal sebagai Bapak Beasiswa Jambi ini, pemerintah Indonesia telah menerima pengiriman pertama vaksin AstraZeneca sebesar 1.113.600 vaksin jadi dengan total berat 4,1 ton yang terdiri dari 11.136 karton. Bahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menerbitkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) untuk vaksin AstraZeneca.

 

Terkait pengadaan vaksin tersebut SAH mempertanyakan sumber dan mekanisme pendanaan untuk mendapatkan Vaksin tersebut. Dalam hal ini ia juga mempertanyakan berapa jumlah Vaksin yang akan didatangkan dan berapa besaran dana APBN yang digunakan untuk hal tersebut.

 

"Terkait pengadaan Vaksin ini masyarakat perlu tahu berapa sebenarnya jumlah vaksin yang akan diadakan serta berapa besaran dana APBN yang diperlukan, ini penting untuk akuntabilitas keuangan yang sulit di masa Pandemi," ungkapnya. 

 

Terakhir, Doktor Ilmu Ekonomi ini menyoroti hasl uji klinis yang dilakukan terhadap Vaksin AstraZeneca yang memiliki efikasi sebesar 62,1 persen. Namun pada kenyataannya ada efek samping yang serius, baik dari Denmark dan negara-negara Eropa lainnya, dan tentu Indonesia harus waspada. Semata demi keselamatan masyarakat, tandasnya. (*)



Advertisement

Komentar Facebook