HOT TOPICS:
#Nasional





Bisnis Vaksin Di Tengah Dunia yang Merana

Senin, 29 Maret 2021 | 08:59:01 WIB


Oleh : Dr. Noviardi Ferzi, SE, MM (Dosen STIE JAMBI)

 

Fakta ini membuat dunia tertegun, bahwa bisnis vaksin telah menjadi sumber utama keuntungan rutin bagi perusahaan farmasi terbesar di seluruh dunia, jauh dari proyeksi bisnis apapun sebelumnya.

 

Globalisasi yang membuat mobilitas penduduk dunia sedemikian cepat membuat ancaman penyebaran penyakit antar benua turut meningkat. Vaksinasi dianggap sebagai metode ampuh untuk mencegah merebaknya penyakit sehingga produktivitas tetap terjaga dan biaya pengobatan dapat ditekan.

 

Bisnis vaksin Covid-19 ternyata cukup menggiurkan. Produsen vaksin diperkirakan bisa meraup pendapatan sebesar US$25 miliar lebih per tahun atau setara Rp 365 triliun (asumsi Rp 14.600/US$). 

 

Analis di Morgan Stanley dan Credit Suisse memperkirakan manusia perlu divaksinasi setiap tahun, mirip dengan suntikan flu biasa, dengan harga rata-rata US$ 20 untuk dosis vaksin Covid-19. Dari analisa ini saja sudah terbayang bagaimana keuntungan bisnis Vaksin di dunia saat ini dan mendatang.

 

Technavio, salah satu peneliti teknologi dan konsultan bisnis global terkemuka, memprediksi bahwa pendapatan pelbagai perusahaan farmasi yang memproduksi vaksin akan mencapai sekitar 61 miliar dolar AS pada 2020. Sementara nilai pasar vaksin dunia hari ini ditaksir mencapai 24 miliar dolar AS.

 

Meski sebenarnya pembahasan soal bisnis vaksin COVID-19 sangat sensitif. Terlebih di masa-masa sekarang dimana sisi kemanusiaan dan keselamatan banyak orang lebih utama.

 

Tentu saja saat ini vaksinasi masih gratis, namun bagaimana ke depan, apa bisa dibisniskan ? Pemerintah Indonesia misalnya, sampai sekarang masih belum memutuskan ataupun membuka peluang terkait bisnis vaksin COVID-19 di Indonesia.

 

Ironisnya jika sebagian perusahaan Farmasi di dunia mendapatkan keuntungan dari permintaan vaksin yang besar, banyak negara Afrika yang kesulitan secara ekonomi dan kesulitan mendapatkan vaksin. Di sisi lain ada negara maju dan kaya yang dengan mudah membeli vaksin dan digratiskan ke warganya. Ironi menyesakkan yang jauh dari keadilan.

 

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diakui sebagai pemasok vaksin di kawasan ini oleh badan kesehatan dunia atau WHO. Selain itu, sebanyak 132 negara telah mengimpor vaksin dari Indonesia.

 

WHO juga mencatat Indonesia menjadi salah satu negara yang mendominasi pasokan vaksin dunia bersama dengan India, Belgia, Perancis, dan Korea Selatan. Untuk pemasok vaksin ke negara muslim, Indonesia adalah produsen besar bersama Tiongkok dan India.

 

Riset International Chamber of Commer menyimpulkan alokasi suntikan yang tidak merata ini dapat merampas ekonomi dunia hingga US$ 9,2 triliun. Penelitian serupa oleh Rand Corporation memperkirakan biaya tahunan yang diperlukan bisa mencapai US$ 1,2 triliun.

 

Berarti, negara-negara berkembang berisiko jatuh lebih jauh di belakang secara ekonomi. Hal ini akan membatasi ruang untuk untuk pemulihan ekonomi sebab melemahnya permintaan akan barang-barang dan pasokan suku cadang manufaktur dari negara berkembang.

 

Tantangan saat ini dunia perlu menagih janji  perusahaan Farmasi untuk menyediakan vaksin di bawah harga pasar selama pandemi. Tentu saja ini membutuhkan niat yang kuat untuk berbagi vaksin secara global antara negara kaya dan miskin. Jika ini tidak dilakukan dunia akan semangkin merana. Apalagi jika vaksin dipandang semata - mata sebagai komoditi bisnis. Salam.



Advertisement

Komentar Facebook