HOT TOPICS:
#Nasional





Inflasi Tinggi, SAH Minta Pemerintah Antisipasi Kenaikan Biaya Kesehatan

Sabtu, 17 September 2022 | 06:40:18 WIB


SAHTOP  - Anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi Kesehatan Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM mengatakan setiap tahunnya, biaya kesehatan di Indonesia selalu mengalami kenaikan bahkan jauh melebihi tingkat inflasi. Sayangnya, kenaikan gaji masyarakat Indonesia masih belum bisa mengimbangi tingginya kenaikan biaya kesehatan.

 

"Salah satu efek yang sangat memberatkan inflasi adalah kenaikan biaya kesehatan yang ditanggung masyarakat, sedangkan pada saat bersamaan pendapatan mereka tak bertambah," ungkap SAH saat memberikan arahan pada pengurus Badan Kesehatan Indonesia Raya (KESIRA) di DPD Gerindra Provinsi Jambi (15/9) kemarin.

 

Sementara menurut Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI itu, kepemilikan asuransi atau jaminana kesehatan masih belum mengcover semua kelompok masyarakat di Indonesia. Biaya kesehatan yang dimaksud meliputi biaya kamar di rumah sakit, rawat jalan, pengobatan, dan persalinan.

 

Dalam hal ini Bapak Beasiswa Jambi ini menambahkan rata-rata kenaikan gaji bersih maupun upah buruh atau pekerja per tahun adalah 4,3 persen. Persentase kenaikan ini tentu tidak sebanding dengan kenaikan biaya kesehatan yang mencapai 10 persen hingga 11 persen tiap tahun.

 

Data yang dipakai mengacu pada perhitungan persentase dari jumlah total rata-rata upah buruh atau pegawai di Indonesia yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

 

Selanjutnya SAH mengatakan persentase kenaikan biaya kesehatan ini terbukti jauh lebih tinggi ketimbang inflasi. Inflasi dapat diartikan sebagai kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus.

 

Beberapa kelompok pengeluaran yang menentukan besar kecilnya inflasi di Indonesia antara lain adalah, makanan, minuman, tembakau (rokok), harga pakaian, peralatan rumah, transportasi, biaya pendidikan, dan lainnya.

 

"Rata-rata tingkat inflasi bahkan tak sampai sepertiga dari kenaikan biaya kesehatan yang dipublikasikan. Artinya, laju kenaikan biaya kesehatan lebih tinggi ketimbang harga-harga kebutuhan lain," imbuhnya.

 

Dalam hal ini SAH mengatakan BPJS Kesehatan tentu masih bisa menjadi satu-satunya cara untuk menanggulangi risiko finansial untuk urusan berobat. Akan tetapi bila kita menginginkan kecepatan, kemudahan, dan fleksibilitas lebih, maka pilihan asuransi kesehatan swasta adalah solusinya, namun pilihan ini sulit jika pendapatan masyarakat tak meningkat.

 

Sehingga SAH menekankan fungsi pemerintah untuk dapat mengantisipasi kenaikan biaya kesehatan di Indonesia. (*)



Advertisement

Komentar Facebook