JAMBI - Pilwako tinggal hitungan hari, namun hingga kini partai – partai masih ada yang belum menentukan siapa kandidat yang mereka usung. Fenomena ini tidak serta merta terjadi tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.
Dikatakan pengamat politik Jambi, Wawan Novianto, seiring waktu berjalan para politisi memahami banyak hal dan mendapat banyak pengalaman dari pertarungan-pertarungan yang telah mereka hadapi sebelumnya. Tidak hanya pengalaman menang, namun pengalaman saat kalah juga pernah mereka peroleh.
“Politisi itu memahami bagaimana sakitnya jika kalah dan menjadi oposisi, mereka sulit mengakses peluang usaha yang biasa mereka nikmati,” ujar Wawan.
Partai, lanjut Wawan, akan memilih bermain aman, hal itu karena pengurus partai rata-rata pengusaha dan ingin mengamankan usahanya. “Konsepnya, lebih baik sedikit untung dari pada tidak dapat sama sekali akibat kalah bertarung,” sebut Akademisi IAIN Kerinci ini.
Lebih jauh Wawan menjelaskan, Pilkada atau Pilwako berbeda dengan Pilpres. Jika Pilres partai berupaya mengusung kandidat meski tau tidak akan menang, hal itu lantaran Pilpres bersamaan dengan Pemilu Legislatif, dan akan ada ada efek ekor jas.
“Kalo Pilkada atau Pilwako tidak ada, semua partai sudah ada kursi, jadi mereka tidak perlu memikirkan dampak pada suara partai., yang mereka pikirkan lebih pada dampak ekonomis atau peluang kekuasaan saja,” tambahnya.
Fenomena lambatnya partai politik menentukan sikap terjadi beberapa daerah di Provinsi Jambi, di Pilwako Jambi misalnya, baru pasangan Maulana – Diza Hazra Aljosha yang sudah cukup untuk mendaftarkan diri di KPU, kandidat lain masih belum pasti. Selain itu, di Kabupaten Kerinci juga masih banyak partai yang belum memastikan kepada siapa dukungan mereka diberikan.(*)