Oleh : Bram Aprianto
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Idul Fitri bukan sekadar kembali suci, tetapi kembali sadar bahwa setiap kekuasaan akan dimintai pertanggungjawaban. Di titik inilah fitrah diuji—bukan saat kita lemah, tetapi saat kita punya kuasa.
Sejarah Islam tidak pernah romantis dalam soal kepemimpinan. Ia tegas dan nyata. Abu Bakar Ash-Shiddiq mengingatkan bahwa yang lemah harus dilindungi dan yang kuat harus ditundukkan oleh kebenaran. Umar bin Khattab hidup dengan ketakutan moral bahwa jika satu rakyat menderita, pemimpinlah yang pertama bertanggung jawab. Utsman bin Affan membuktikan bahwa harta tidak mengangkat derajat jika tidak dibelanjakan untuk umat. Ali bin Abi Thalib menegaskan bahwa kekuasaan tanpa integritas hanyalah jalan sunyi menuju kehancuran.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Hari ini kita tidak kekurangan simbol agama, tetapi sering kekurangan keberanian moral. Kita fasih berbicara tentang kebaikan, tetapi ragu menegakkannya ketika berhadapan dengan kepentingan. Kita merayakan kemenangan spiritual, tetapi sering kalah dalam ujian kekuasaan.
Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, ia adalah bukti bahwa amanah telah diperdagangkan. Ketimpangan bukan sekadar data, ia adalah tanda bahwa keadilan belum benar-benar kita perjuangkan. Dan ketika publik kehilangan kepercayaan, itu bukan karena rakyat tidak sabar, tetapi karena pemimpin tidak cukup jujur.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Di hari yang fitri ini, Partai Solidaritas Indonesia mengajak untuk berhenti sekadar merayakan, dan mulai meneladani. Fitrah tidak cukup dijaga di ruang ibadah; ia harus dibawa ke ruang kebijakan, ke meja keputusan, ke setiap bentuk kekuasaan yang kita pegang.
Menjadi bersih bukan pilihan pribadi semata, tetapi kewajiban publik. Menjadi adil bukan retorika, tetapi keberanian mengambil sikap. Dan menjadi pemimpin bukan soal jabatan, tetapi soal siapa yang tetap lurus ketika semua orang punya alasan untuk menyimpang.
Jika para khalifah mampu hidup sederhana di tengah kekuasaan, maka kemewahan yang lahir dari jabatan hari ini patut dipertanyakan. Jika mereka mampu menegakkan keadilan tanpa kompromi, maka setiap ketidakadilan hari ini adalah kegagalan yang tidak bisa dibenarkan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.
Idul Fitri adalah garis mulai. Dari sini, kita memilih kembali pada nilai atau kembali pada kebiasaan lama. Sejarah sudah memberi teladan. Tinggal kita, berani atau tidak untuk mengikutinya.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Mohon maaf lahir dan batin
Saatnya membuktikan kekuasaan bisa jujur, politik bisa bersih, dan Indonesia bisa benar-benar adil