JAMBI – Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, M.M., menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memiliki semangat yang mirip dengan dakwah awal Nabi Muhammad SAW di Makkah.
Menurut SAH, dakwah Nabi di Makkah tidak langsung berfokus pada kekuasaan, pembangunan besar, atau struktur pemerintahan. Dakwah tersebut dimulai dari membangun kepedulian, kesadaran sosial, dan perhatian terhadap kelompok lemah.
Hal yang sama, kata dia, juga terlihat dalam program MBG yang menempatkan kebutuhan dasar rakyat, terutama anak-anak, ibu hamil, dan kelompok rentan, sebagai prioritas utama.
“Dakwah awal Nabi di Makkah dimulai dengan membangun akhlak, kepedulian, dan perhatian kepada masyarakat kecil. Hari ini, Presiden Prabowo juga memulai dari hal yang paling mendasar, yakni memastikan rakyat tidak lapar, anak-anak memperoleh gizi yang cukup, dan masa depan generasi bangsa tetap terjaga,” ujarnya, Kamis, 2 April 2026.
Ia menilai program MBG bukan sekadar agenda pembagian makanan, melainkan upaya membangun fondasi sumber daya manusia Indonesia dari bawah. Menurutnya, bangsa yang kuat harus dimulai dari generasi yang sehat, cerdas, dan memiliki akses terhadap kebutuhan dasar.
SAH mengatakan masih banyak pihak yang hanya melihat program MBG dari sisi anggaran, padahal manfaat jangka panjangnya jauh lebih besar. Ia menyebut program tersebut dapat berdampak pada penurunan angka stunting, peningkatan kualitas pendidikan, penguatan ekonomi lokal, hingga terbukanya lapangan kerja baru melalui rantai pasok pangan, dapur umum, petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM.
“Kalau anak-anak lapar, akan sulit berbicara tentang prestasi, produktivitas, dan Indonesia Emas. Karena itu, MBG merupakan investasi jangka panjang. Sama seperti dakwah Nabi yang hasilnya tidak langsung terlihat, tetapi perlahan membangun peradaban,” tegasnya.
SAH optimistis program unggulan Presiden Prabowo tersebut akan menjadi tonggak penting dalam membangun Indonesia yang lebih kuat dan berkeadilan. Menurutnya, kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil pada akhirnya akan melahirkan kepercayaan publik yang besar terhadap pemerintah.
“Program yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat biasanya lebih mudah menyentuh hati rakyat. Sebab, rakyat akan merasa pemerintah hadir, peduli, dan tidak membiarkan mereka berjuang sendiri,” pungkasnya. (*)