HOT TOPICS:
#Nasional





Dari Keraguan Menuju Jalan Peradaban: Refleksi Alumni UIN Sumatera Utara

Minggu, 05 April 2026 | 14:21:44 WIB


Jambi – Banyak orang memulai perjalanan intelektualnya dengan pilihan sadar. Sebagian lainnya, termasuk saya, memulainya dari ketidakterpilihan. Namun justru dari ruang yang semula bukan tujuan, lahir kesadaran yang lebih dalam tentang makna pendidikan dan peradaban.

 

Saya lahir dari keluarga yang berkelindan erat dengan tradisi Kementerian Agama. Ibu saya mengabdi di lingkungan Kemenag, kakak saya menjadi guru dalam sistem yang sama, dan saya sendiri tumbuh dalam kultur pendidikan madrasah. Secara sosiologis, arah pendidikan saya tampak sudah “ditentukan”: madrasah, lalu perguruan tinggi keagamaan Islam. Namun realitas psikologisnya berbeda. Seperti banyak lulusan madrasah pada masa itu, termasuk dari MAN 1 Medan, orientasi kami justru mengarah ke Perguruan Tinggi Umum Negeri (PTUN), bukan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

 

UIN Sumatera Utara, yang saat itu masih bernama IAIN Sumatera Utara, bukanlah pilihan ideal saya. Ia hadir sebagai konsekuensi dari kegagalan menembus PTUN. Dalam posisi pasrah, saya mengikuti arahan orang tua, melanjutkan jejak kakak saya, dan masuk ke Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) pada tahun 2006. Bahkan pilihan prodi pun bukan cerminan cita-cita; menjadi guru agama bukanlah horizon yang saya bayangkan saat itu.

 

Namun di sinilah letak paradoks pendidikan: apa yang tidak direncanakan, justru menjadi ruang transformasi paling otentik.

 

Pada tahun-tahun awal saya di PAI, antusiasme terhadap program studi ini sangat tinggi. Proyeksi awal hanya empat kelas, namun melonjak menjadi enam kelas karena tingginya peminat. Fenomena ini, jika dibaca secara lebih dalam, bukan sekadar statistik akademik, melainkan indikasi bahwa pendidikan Islam, meskipun sering dianggap “pilihan kedua”, sebenarnya memiliki daya tarik sosial yang kuat. Ada energi laten dalam masyarakat Muslim Indonesia yang melihat pendidikan Islam sebagai jalur pembentukan identitas sekaligus mobilitas sosial.

 

Hal ini semakin tampak ketika saya melihat jejak para alumni yang tumbuh dari ruang yang sama. Beberapa teman seangkatan dan sekelas saya di PAI telah menempuh jalan yang beragam dan membanggakan. Abdil Muhadir Rintonga, misalnya, kini dikenal sebagai ustadz yang telah berdakwah di tingkat nasional. Ada pula Mad Kasad Lubis yang menorehkan prestasi sebagai qari di tingkat nasional hingga internasional. Selain itu, banyak di antara rekan-rekan kami yang menjadi guru ASN, kepala sekolah, pengusaha, hingga berkiprah di berbagai instansi pemerintahan.

 

Jika dibaca secara reflektif, capaian mereka bukanlah semata keberhasilan individual, melainkan cerminan dari ekosistem pendidikan yang membentuk daya lenting (resilience) sekaligus daya saing. UIN Sumatera Utara, dalam hal ini, tidak hanya melahirkan satu tipe lulusan, tetapi spektrum kontribusi yang luas dalam kehidupan sosial.

 

Di dalam ruang-ruang kelas itulah saya mulai mengalami proses penyadaran: pendidikan tidak lagi dipahami sebagai transfer pengetahuan, melainkan sebagai pembentukan kesadaran diri. Dalam konteks ini, apa yang kemudian hari diformulasikan secara institusional oleh UIN Sumatera Utara sebagai paradigma Wahdatul Ulum, kesatuan ilmu, sebenarnya telah saya alami dalam bentuk praksis. Ilmu agama dan ilmu umum tidak dipertentangkan, tetapi dipertemukan sebagai satu kesatuan epistemik yang saling menguatkan.

 

Lebih jauh, pengalaman saya juga menemukan resonansinya dalam konsep Ulul Albab yang kini menjadi profil lulusan UIN Sumatera Utara. Konsep ini menekankan integrasi antara zikir dan pikir, antara kedalaman spiritual dan ketajaman intelektual. Dalam bahasa yang lebih reflektif, kampus ini tidak hanya mengajarkan bagaimana berpikir, tetapi juga bagaimana mengingat; tidak hanya membentuk kecerdasan rasional, tetapi juga kesadaran transendental. Sebagaimana tergambar dalam spirit Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 190–191), manusia ideal adalah mereka yang mampu merenung sekaligus mengingat, membaca realitas sekaligus menautkannya dengan nilai ilahiah.

 

Transformasi tersebut tidak berhenti pada jenjang sarjana. Pada tahun 2011, saya melanjutkan studi magister dengan memilih jalur yang berbeda, Pendidikan Islam dengan konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Di titik ini, saya mulai memahami bahwa pendidikan bukan hanya ruang normatif, tetapi juga arena strategis yang membutuhkan tata kelola, visi, dan inovasi. Perspektif ini sejalan dengan arah pengembangan UIN Sumatera Utara hari ini yang menekankan integrasi tridarma perguruan tinggi berbasis Wahdatul Ulum: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang tidak terfragmentasi, melainkan saling terhubung.

 

Jika hari ini saya berdiri sebagai dosen di IAIN Kerinci, Jambi, maka posisi tersebut bukanlah capaian yang berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari proses panjang “olah pikir” dan “olah rasa” yang ditempa di UIN Sumatera Utara. Kampus ini, dalam pengalaman saya, tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk horizon intelektual, sebuah fondasi yang memungkinkan alumninya beradaptasi dan berkontribusi di berbagai konteks, termasuk dalam penguatan kepemimpinan pendidikan.

 

Dalam perkembangan mutakhir, UIN Sumatera Utara menunjukkan arah transformasi yang semakin jelas. Visi menjadi universitas unggul berbasis integrasi ilmu, berdaya saing global, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat bukan sekadar retorika institusional. Ia terartikulasikan dalam upaya membangun pendidikan integratif-transdisipliner, riset inovatif, tata kelola profesional, serta jejaring kerja sama nasional dan internasional. Di atas semua itu, terdapat satu fondasi penting yang sering luput dibaca secara mendalam: komitmen terhadap moderasi beragama dan pembentukan Islamic Learning Society.

 

Namun demikian, capaian tersebut tidak boleh membuat kita berhenti pada rasa puas diri. Tantangan global menuntut lebih dari sekadar keunggulan administratif. Ia menuntut kemampuan menghasilkan pengetahuan yang relevan, memperluas jejaring internasional, serta memperkuat posisi sebagai pusat produksi gagasan, bukan sekadar reproduksi pengetahuan. Dalam konteks ini, Wahdatul Ulum tidak boleh berhenti sebagai jargon epistemologis, tetapi harus menjadi metodologi hidup, cara berpikir, meneliti, dan mengabdi.

 

Sebagai alumni, saya melihat bahwa kekuatan terbesar UIN Sumatera Utara terletak pada kemampuannya membentuk manusia yang utuh: spiritual, intelektual, dan sosial. Inilah esensi dari Ulul Albab, bukan sekadar profil lulusan administratif, tetapi visi antropologis tentang manusia ideal dalam peradaban Islam.

 

Pengalaman personal saya hanyalah satu fragmen kecil dari mozaik besar kontribusi UIN Sumatera Utara. Namun dari fragmen ini, kita dapat menarik satu kesimpulan penting: bahwa sebuah almamater tidak diukur dari seberapa banyak ia menjadi pilihan pertama, tetapi dari seberapa dalam ia mampu mengubah mereka yang datang dengan keraguan menjadi individu yang menemukan makna.

 

Dalam arti itu, UIN Sumatera Utara bukan sekadar tempat saya belajar. Ia adalah ruang di mana saya dibentuk, dan melalui paradigma Wahdatul Ulum serta visi Ulul Albab, ia sedang meneguhkan dirinya bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai arsitek peradaban yang bekerja dalam senyap, namun berdampak panjang.

 

Dr. Ali Marzuki Zebua, M.Pd. adalah dosen pada IAIN Kerinci, Jambi. Alumni PAI (S1) 2011 dan MPI (S2) UIN Sumatera Utara 2015. Fokus kajian dan penelitiannya meliputi kepemimpinan pendidikan, kepemimpinan lingkungan, serta manajemen pendidikan Islam.


Penulis: Dr. Ali M Zebua
Editor: Suprio Jaya Putra
Advertisement

Komentar Facebook