Jambi - Ketua DPD HKTI Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, M.M., menilai pertumbuhan ekonomi Jambi sebesar 4,93 persen dan penurunan angka kemiskinan memang patut diapresiasi, cukup menjadi indikator bahwa kesejahteraan masyarakat meningkat secara merata.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tersebut masih ditopang dominan oleh sektor primer, terutama pertanian, perkebunan, dan komoditas mentah. Kondisi ini membuat ekonomi Jambi masih sangat rentan terhadap fluktuasi harga sawit, karet, batu bara, serta perubahan cuaca ekstrem yang dapat memukul produksi petani.
“Pertumbuhan ekonomi 4,93 persen tentu kita syukuri, tetapi jangan sampai kita terlena. Selama ekonomi Jambi masih terlalu bergantung pada komoditas mentah, maka masyarakat petani tetap berada dalam posisi rentan. Ketika harga sawit turun atau panen terganggu, daya beli masyarakat langsung melemah,” ujarnya.
Sutan Adil Hendra mengatakan, penurunan angka kemiskinan menjadi 6,89 persen juga harus dibaca secara hati-hati. Sebab, jumlah masyarakat miskin di Jambi masih mencapai ratusan ribu orang, sementara banyak warga yang secara statistik tidak lagi miskin tetapi secara ekonomi masih sangat rentan.
“Banyak masyarakat yang penghasilannya sedikit di atas garis kemiskinan, tetapi kenyataannya masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dan biaya hidup. Jadi kita tidak boleh hanya melihat angka, tetapi juga kondisi riil di lapangan,” katanya.
Ia juga menyoroti kontraksi sektor konstruksi yang minus 4,14 persen sebagai sinyal perlambatan investasi dan pembangunan fisik di daerah. Padahal, sektor konstruksi memiliki efek berantai terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan konsumsi, hingga perputaran ekonomi masyarakat.
Menurut Sutan, pemerintah daerah harus mulai mendorong hilirisasi hasil pertanian dan perkebunan agar nilai tambah tidak terus dinikmati daerah lain. Ia menilai Jambi membutuhkan lebih banyak industri pengolahan sawit, karet, pinang, kelapa, hingga pangan lokal agar hasil produksi petani memiliki harga jual lebih baik.
“Kalau hanya menjual bahan mentah, petani kita akan terus bergantung pada harga pasar global. Tetapi kalau ada industri pengolahan di Jambi, maka lapangan kerja bertambah, nilai tambah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat bisa lebih terasa,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, melainkan dari kemampuan pemerintah menciptakan pekerjaan berkualitas, meningkatkan pendapatan petani, menjaga stabilitas harga komoditas, serta memperluas investasi di sektor produktif pedesaan. (*)