HOT TOPICS:
#Nasional





Menagih Peran Zakat di Tengah Ancaman Kemiskinan Baru

Selasa, 25 Agustus 2026 | 21:50:11 WIB


Hariya Toni Dosen Manajemen Zakat IAIN Kerinci/ pemerhati isu Sosial dan filantropi Islam
Hariya Toni Dosen Manajemen Zakat IAIN Kerinci/ pemerhati isu Sosial dan filantropi Islam

Fluktuasi inflasi dan kerentanan pasar tenaga kerja kini terasa di banyak wilayah, tidak hanya terbatas pada kota-kota besar. Daya tahan masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk di kota-kota kecil yang sering tidak diperhatikan media nasional, secara bertahap terkikis oleh tekanan ekonomi yang terjadi di berbagai daerah. Kondisi tersebut mendorong evaluasi kembali peran zakat sebagai instrumen yang sering dianggap sekadar ritual keagamaan.

Zakat kerap dipahami secara terbatas, yakni sebagai kewajiban tahunan yang usai setelah pembayaran. Apabila dikelola dengan serius, zakat dapat menjadi instrumen keuangan sosial yang berpotensi meredam guncangan ekonomi pada rumah tangga rentan, seraya mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.

 

Potensi yang Sering Terlewat

Pendanaan zakat memiliki potensi besar. Di sejumlah daerah, aparatur sipil negara secara konsisten menyumbang zakat profesi, sedangkan pelaku ekonomi pasar tradisional dan usaha mikro, kecil, dan menengah memberikan kontribusi signifikan dari zakat mal. Potensi besar ini sayangnya sering belum dimanfaatkan secara optimal.

Contohnya, pengelolaan zakat di sebuah kota di Jambi menunjukkan kinerja yang baik, dengan indikator dampak mencapai 0,75 dan Indeks Zakat Nasional mencapai 0,70. Meskipun angka tersebut menunjukkan dampak signifikan pemanfaatan zakat yang tepat terhadap kemandirian, pendidikan, dan kesehatan penerimanya, sebuah prestasi di satu wilayah belum tentu menggambarkan kondisi merata di seluruh negeri. Oleh karena itu, potensi zakat nasional masih jauh dari pemanfaatan maksimal.

 

Jangan Berhenti di Sembako

Pola penyaluran zakat yang dominan bersifat konsumtif, seperti bantuan sembako berkala, merupakan persoalan mendasar yang memerlukan koreksi. Pola ini meringankan beban sementara, tetapi tidak mengatasi akar kerentanan ekonomi. Bantuan yang bersifat konsumtif tidak memberikan solusi jangka panjang.

Zakat harus diarahkan pada program produktif yang menghasilkan dampak jangka panjang. Pemberian modal usaha mikro bergulir tanpa bunga kepada UMKM yang terjerat rentenir, beasiswa pendidikan bagi anak-anak keluarga mustahik, dan jaminan kesehatan untuk mencegah kemiskinan akibat biaya pengobatan merupakan contohnya. Dengan pendekatan ini, zakat tidak hanya meredam gejolak jangka pendek, melainkan juga membangun fondasi ketahanan sosial yang lebih kuat.

 

Lima Langkah yang Tak Bisa Ditunda

Lembaga pengelola zakat perlu melakukan pembenahan di beberapa lini secara simultan untuk mewujudkan tujuan tersebut.

 

Digitalisasi Zakat

Digitalisasi layanan menjadi krusial. Bagi partisipasi masyarakat, terutama generasi muda yang terbiasa dengan transaksi digital, kemudahan pembayaran zakat melalui QRIS, _mobile banking_, dompet digital, serta kerja sama dengan platform _e-commerce_ merupakan hal yang sangat krusial.

perluasan basis pembayar zakat 

Perluasan basis pembayar zakat adalah hal penting. Institusionalisasi zakat, yang sudah diterapkan pada aparatur negara serta badan usaha milik daerah dan negara melalui skema pemotongan gaji otomatis berdasarkan regulasi daerah, harus diperluas untuk mencakup sektor swasta, pelaku UMKM, dan profesional muda.

 

Transparansi Dan Akuntabilitas

transparansi dan akuntabilitas mutlak diperlukan. Demi menjaga kepercayaan publik, diperlukan laporan keuangan yang diaudit secara independen dengan opini wajar tanpa pengecualian, dilengkapi dengan notifikasi rutin mengenai penyaluran dana kepada pembayar zakat.

 

Citra Lembaga

citra harus diperkuat tidak hanya melalui seremoni penyerahan bantuan, melainkan melalui program yang berdampak nyata, ditunjukkan oleh kisah mustahik yang mandiri berkat pemberdayaan ekonomi.

 

Peningkaktan Kompetensi SDM

Sangat penting untuk memiliki tata kelola dan sumber daya manusia yang kompeten. Keberlanjutan penghimpunan dana jangka panjang akan terjaga dengan sertifikasi profesi amil zakat, didukung sistem hubungan aktif dengan pembayar zakat melalui apresiasi dan pengingat berkala.

 

Saatnya Zakat Naik Kelas

Ancaman kemiskinan baru yang disebabkan inflasi dan ketidakpastian ketenagakerjaan akan berlanjut. Zakat tidak semestinya lagi dianggap sebagai kewajiban musiman yang selesai setelah pembayaran. Zakat seharusnya dipandang sebagai instrumen keuangan sosial yang pengelolaannya profesional, transparan, serta berorientasi pada dampak jangka panjang.

Kini tiba saatnya untuk menuntut peran zakat secara lebih serius. Hal ini meliputi peningkatan kesadaran masyarakat untuk membayar, serta penuntutan komitmen lembaga pengelola dalam menyalurkan dana secara produktif. Ketahanan sosial sebuah bangsa pada akhirnya terbangun bukan oleh bantuan yang bersifat temporer, melainkan oleh program yang memberikan kesempatan bagi masyarakat rentan untuk mandiri.

 


Advertisement

Komentar Facebook