HOT TOPICS:
#Nasional





BI Jambi Ajak 33 Jurnalis Forweb Telusuri Konektivitas Sejarah Muarojambi dan Borobudur

Minggu, 04 Oktober 2026 | 00:20:35 WIB


JOGJA – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jambi mengajak 33 jurnalis yang tergabung dalam Forum Wartawan Ekonomi Bisnis (Forweb) Jambi mengunjungi Candi Borobudur, Jawa Tengah, Sabtu (3/10/2026) pagi.

 

Dalam kunjungan tersebut, rombongan jurnalis juga diajak melihat secara langsung berbagai koleksi sejarah yang tersimpan di Museum Candi Borobudur.

 

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut bertujuan menggali secara langsung keterkaitan sejarah antara Candi Borobudur dan Kompleks Candi Muarojambi.

 

Menurutnya, berdasarkan sejumlah literatur sejarah, Kompleks Muarojambi pada masa lalu merupakan salah satu pusat pendidikan agama Buddha yang berkembang sekitar abad ke-7.

 

Keterkaitan sejarah tersebut juga dapat dilihat dari catatan mengenai wilayah Jambi atau Melayu pada masa Sriwijaya. Prasasti Karang Berahi yang berasal dari abad ke-7 menunjukkan adanya pengaruh kekuasaan Sriwijaya di wilayah tersebut.

 

Selain itu, musafir asal Tiongkok yang berkunjung ke Mo-lo-yeu atau Malayu di Jambi pada abad ke-7 mencatat bahwa wilayah Melayu telah berada dalam lingkup kekuasaan Sriwijaya.

 

Kompleks Muarojambi pada masanya diyakini berfungsi sebagai pusat pendidikan agama Buddha berskala besar. Pendeta asal Tiongkok, Yi-jing atau I-tsing, bahkan menyarankan para pelajar agama Buddha untuk terlebih dahulu menimba ilmu di Sumatera sebelum melanjutkan pendidikan ke Universitas Nalanda di India, yang saat itu menjadi salah satu pusat pendidikan Buddha terkemuka.

 

Arkeolog yang meneliti Candi Muarojambi, Dr. Agus Widiatmoko, mengungkapkan bahwa pada masa kejayaan Sriwijaya sekitar abad ke-8, kerajaan tersebut mengutus para pelajar untuk menimba ilmu di Universitas Nalanda.

 

Menurut Agus, Sriwijaya kala itu dilaporkan membangun sekitar 2.000 kamar serta sebuah perpustakaan untuk menunjang para pelajar asal Nusantara yang belajar di India.

 

Seiring berjalannya waktu, ketika pusat ajaran Buddha di India mengalami kehancuran akibat invasi, aktivitas keilmuan dari Nalanda diperkirakan turut berpindah ke Sumatera, termasuk Muarojambi.

 

Para lulusan pusat pendidikan di Muarojambi kemudian disebut memiliki peran dalam perkembangan dan reformasi keagamaan hingga ke wilayah Tibet.

 

Robby berharap kunjungan tersebut dapat membantu para jurnalis merangkai cerita dan membangun narasi yang lebih mendalam mengenai konektivitas sejarah antara berbagai pusat peradaban Buddha di Nusantara.

 

Menurut dia, narasi tersebut dapat menghubungkan peninggalan Buddha di Jawa Tengah dengan warisan sejarah yang tersimpan di Kompleks Muarojambi, Jambi.

 

“Keterkaitan sejarah ini bisa dikemas menjadi sebuah cerita atau storytelling yang menarik bagi wisatawan,” ujar Robby.

 

Ia menilai narasi sejarah tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi pengembangan pariwisata di kedua wilayah, baik Yogyakarta maupun Jambi.

 

Robby menambahkan, posisi Jambi yang belum memiliki bandara internasional menjadi salah satu tantangan dalam mendatangkan wisatawan mancanegara secara langsung.

 

Karena itu, menurutnya, kerja sama pariwisata dengan Yogyakarta sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan ke Indonesia dapat menjadi peluang bagi pengembangan pariwisata Jambi.

 

Jejak Andesit dari Luar Jambi

 

Bukti lain yang menunjukkan adanya keterhubungan antardaerah pada masa lalu, menurut Robby, terlihat dari temuan artefak Makara berbahan batu andesit yang menempel di pintu gerbang Candi Kedaton, Kompleks Muarojambi.

 

Temuan tersebut dinilai menarik karena secara geografis Jambi tidak dikenal sebagai wilayah penghasil batuan andesit. Sementara itu, struktur utama kompleks Candi Muarojambi sebagian besar menggunakan batu bata merah.

 

Keberadaan batu andesit tersebut kemudian dikaitkan dengan adanya hubungan perjalanan dan pertukaran budaya pada masa lalu.

 

Robby menyebut batu tersebut dapat menjadi petunjuk mengenai keberadaan tokoh yang sangat dihormati atau seorang maha guru di Muarojambi yang pada masa itu menjadi pusat pendidikan penting.

 

Para tokoh atau pengunjung penting yang datang ke Muarojambi, lanjutnya, diduga membawa batu tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada sang guru.

 

Sebagai salah satu pusat ajaran Buddha yang berkembang di jalur perdagangan Sumatera pada era Sriwijaya-Melayu, Kompleks Muarojambi juga dikaitkan dengan perkembangan konsep tata ruang mandala.

 

Arsitektur dan tradisi keagamaan dari kawasan tersebut kemudian disebut memiliki keterkaitan dengan perkembangan monumen Buddha di Nusantara, termasuk Borobudur yang dibangun pada masa Wangsa Syailendra sekitar abad ke-8.

 

Robby juga mengajak peserta melihat kembali kemajuan teknologi arsitektur yang digunakan dalam pembangunan Candi Borobudur.

 

Menurutnya, kemegahan dan kompleksitas Borobudur menunjukkan adanya pengetahuan serta teknologi yang matang pada zamannya.

 

“Mustahil bangunan sebesar dan semegah ini dibangun tanpa landasan ilmu pengetahuan yang matang. Para perancangnya tentu memiliki pengetahuan yang diwariskan dan berkembang dari pusat-pusat penyebaran agama Buddha pada masa itu,” ujarnya.

 

Benang merah tersebut, lanjut Robby, juga dapat dilihat dari jalur transmisi ajaran Buddha yang menghubungkan Sumatera, Jawa hingga Tibet.

 

Ia menyebut tokoh agama yang dikaitkan dengan Muarojambi, Dharma Kirti, memiliki murid bernama Atisha Dipamkara Srijnana yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan ajaran Buddha di Tibet.

 

Penjelasan mengenai panjangnya sejarah peradaban Buddha di Nusantara juga disampaikan Dayat, storyteller di Museum Candi Borobudur.

 

Dalam penutupan rangkaian kunjungan edukatif tersebut, Dayat menekankan pentingnya masyarakat Indonesia memahami dan menghargai sejarah peradaban masa lalu yang berkembang di Nusantara.

 

Ia menyebut perkembangan peradaban di kawasan Muarojambi telah berlangsung sejak berabad-abad silam dan menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan agama, pendidikan, serta kebudayaan di Nusantara. (*)


Advertisement

Komentar Facebook