HOT TOPICS:
#Nasional





LIBERIKA KOPI UNIK BUTUH FOKUS PENDAMPINGAN

Senin, 16 September 2019 | 09:40:56 WIB


LIBERIKA  KOPI UNIK  BUTUH FOKUS PENDAMPINGAN Oleh: Johannes Simatupang, Made Deviani Duaja dan Elis Kartika 

Ragam Pendampingan

Kopi  liberika di Kecamatan  Betara Tanjungjabung Barat telah dikenal sebagai komoditi lokal (local indigeneus) karena rasanya  unik,   biji cherynya lebih besar dibanding dengan jenis  Arabika dan Robusta. Selain itu  budidayanya dilakukan   di lahan gambut dimana tidak semua tanaman dapat tumbuh. Hingga Tahun 2019,  bukan hanya Pemda yang  memberikan perhatiannya,  di dalamnya  termasuk  PT (Unja), LSM, BUMN, dan Perusahaan  Swasta  juga serta dengan  harapan    produktivitas dan kehidupan dapat  meningkat. Sebagai  gambaran produktivitas  kopi liberika tak lebih dari 5 kuintal pertahun, bandingkan dengan  hasil kopi Vietnam yang  mencapai 4 ton pertahun.    Untuk itu dibutuhkan pendampingan yang  sesuai  dan berkelanjutan sehingga  mampu  membangkitkan sumberdaya petani, terlebih  jiwa sikap kewirausahaannya. Untuk itu dibutuhkan pendampingan  yang  sesuai, Agar bila   “ditinggal”  pendamping mereka bisa tetap bertahan dan berkelanjutan. 

Tulisan ini dimaksukan mengulas berbagai  bentuk pendampingan yang  telah dan selesai dilaksanakan dan  bagaimana fokus pendampingan  dijalankan untuk mencapai hasil yang  lebih baik.     Pendampingan (empowering) pada dasarnya adalah upaya yang  dilakukan   pihak lain, para pemangku kepentingan  kepada sekelompok orang, petani dengan  maksud memampukan  (enabling)  mereka di bidang usaha  mereka sendiri.     Berkatian dengan itu peran dan posisi pemangku kepentingan  kopi Liberika  senantiasa mengalami peningkatan.  

Dari hasil pengamatan dan pendalaman  terhadap  semua pihak yang  terlibat hingga Tahun 2019  dapat disampaikan berbagai  fokus pendampingan para pemangku kepentingan  sebagai  berikut. 

Kemandirian lembaga. Bagi lembaga perbankan, menjadikan kelompok melek perbankan (bankable)   adalah mutlak. Dengan  ini, diharapkan bahwa kelompok dapat terorganisir, memiliki status dan dapat meminjam dan mengembalikan. Fokus mereka adalah mengelola keuangan.  Dengan  cara ini maka kelompok harus mengelola  secara baik sebagaimana satu organisasi.  Bank Indonesia misalnya dalam hal ini  telah menginisasi kelompok  yang  tujuannya adalah menjadikannya bankable. 

Revitalisasi kebun kopi. Tim Unja, sejak Tahun 2017,     dengan  pendekatan partisipatif berupaya merevitalisasi kebun mulai dari bibit yang  digunakan, cara penanaman, hingga penggunaan micoriza yang  berfungsi mempercepat realisasi pupuk pospat, melindungi akar tanaman sehingga   akar terlindung dari akar. Sementara    Trichaoderma  juga diberikan yang  berfungsi melindungi penyakit tular tanah. Ini diberikan  karena ada permasalahan mati tanaman yang  ditemukan sejak Tahun 2015. Pendekatan  revitalisasi kebun seperti itu ditemui juga masalah, menemukan mitra yang  siap mengadopsi  paket teknologi  yang  luasannya sesuai . Minimal luas kebun petani 1 ha agar hasil daripada percobaan seperti itu bisa teramati. 

Pascapanen. Hingga tahun 2018,  berbagai  bentuk perbaikan pasca panen diberikan oleh Unja, Bank Indonesia, BRG (Badan Restorasi Gambut) dan Petorchina.  Adapun fokusnya  agar petani  bisa meningkatkan  kualitas  hasil panen berupa biji kopi (sering disebut kopi beras). Bantuan berupa rumah jemur  fortable, rumah jemur milik kelompok,  mesin roasted,  hingga mesin sortir dan  mesin   pembuat alat saset. Kelompok yang  menerima bantuan seperti itu termasuk Sido Muncul dan Parit Tomo III. Kedua kelompok ini paling banyak mendapatkan “bantuan” dari berbagai  pihak pemangku kepentingan . 

Display produk dan gerai kopi.  Petrochina sebagai  perusahaan  swasta hampir setiap tahun memberikan bantuan kepada kelompok, salah satunya adalah pembuatan Gerai  kopi dan tempat display. Sampai sekarang Gerai kopi ini  dijadikan  tempat singgah dari perjalanan Jambi-Kuala Tungkal. Selain untuk menikmati kopi dengan  berbagai  racikan kekinian,   pengunjung juga dapat memperoleh berbagai   kemasan dengan  berbagai  kualitas dari berbagai  kelompok. 

Dijadikan destinasi  wisata. Di awal tahun 2019, kelompok petani Liberika dijadikan sebagai  bagian dari destinasi   ekowisata. Untuk menopang ini disiapkan papan informasi tentang kopi dan sarana jalan (track) yang   bisa digunakan untuk pesepeda. 

Pendampingan yang  fokus

Tantangan   pendampingan  adalah  menjadikan  penerima manfaat (beneficieries) menjadi lebih baik dan dapat berkelanjutan. Kelompok diharapkan dapat  menuntaskan  sasaran  pendampingan karena peran pendamping akan semakin berkurang. Dalam rentang waktu  pendampingan,  kelompok harus bisa memprioritaskan sasaran yang  telah secara partisipatif. 

Dari hasil pengamatan terungkap  bahwa para  pendampingan  punya prioritas masalah yang  berbeda. Harapannya, setelah pendampingan selesai masalah terkait bisa diatasi sendiri oleh kelompok dampingan. Namun tak dipungkiri bahwa sampai sekarang masalah masih tetap ada  karena faktor penyebabnya yang  terlalu kuat. 

Masalah utama petani kopi Liberika adalah  produktivitas    rendah dimana   bersamaan dengan  itu adanya   ancaman ekspansi  komoditi sawit. Petani bagaimanapun masih menempatkan sawit sebagai  pilihan karena keuntungan: 1)  harga relatif stabil, dan 2) petani bisa panen dengan  frekuensi lebih sering,  dua kali sebulan, dan 3)   panen sawit tidak membutuhkan perlakuan pasca panen, cukup ditimbang dan diangkut. Produktivitas rendah mengakibatkan posisi tawar rendah karena tidak dapat memenuhi permintaan  partai besar secara berkelanjutan. Kondisi ini masih akan  dihadapi karena preferensi petani untuk merevitalisasi kebun  kurang menopang. 

Dalam kaitan ini fokus  dimaknai sebagai  upaya menuntaskan masalah dan memberdayakan petani dengan  kompetensi  sendiri untuk dapat merevitalisasi kebun. Komunikasi  bagaimanapun adalah kunci daripada penyelesaian seperti ini. Komunikasi  antar pendamping dan pernyataan peran masing-masing menjadi kunci keberhasilan pendampingan . 

Masalah miskomunikasi antar kelompok juga ditemui.  Misalnya dalam hal keputusan  menjual kopi biji, kopi kering yang  sudah dikupas,  atau menghasilkan  kopi bubuk harus diputuskan masak-masak. Pedagang perantara  pada dasarnya  belum menghargai kopi biji yang  berkualitas, karena hasil yang  berkualitas pada saat dijual akan dicampur dengan  yang   kopi yang  berlualitas.  Artinya di tingkat petani, menghasilkan kopi yang  berkualitas  belum memberikan insentif harga.  Demikian  juga penyiapan alat pascapanen,  belum disiapkan aturan penggunaan alat  agar bisa digunakan secara bersama-sama. Malah ada indikasi bahwa antar kelompok “bersaing” untuk  untuk mendapatkan bantuan dari berbagai  pihak pemangku kepentingan .   

Bersamaan dengan  masalah  bersama kelompok petani juga harus mengantisipasi peran  pemerintah  desa  yang  membuka kesempatan terhadap  Bumdes (Badan Usaha milik Desa). Kesempatan demikan  bermanfaat untuk menciptakaan kelembagaan yang  ditopang oleh pemerintah  desa utamanya melalui  sekema pendanaan yang  dimungkinkan. 

Simpulannya adalah bahwa fokus pendampingan  ke depan adalah bagaimana menyiapkan  rancangan  komunikasi  antaranggota kelompok tani, antarpendamping, bahkan dengan  pemerintahan desa agar dapat bersama-sama memperbaiku kualitas kebun termasuk pascapanen. Dengan  cara ini maka dukungan terhadap  kelompok akan lebih kuat lagi untuk menghadapi  tantangan   kelompok.


Advertisement

Komentar Facebook