HOT TOPICS:
#Nasional





Para Don di sekeliling Kita ?

Kamis, 14 Oktober 2021 | 21:43:18 WIB


Oleh : Dr. Noviardi Ferzi

 

Dalam Novel God Father karya Mario Puzo, istilah Don bisa diartikan sebagai tuan, senior atau abang yang sangat di hormati. Dalam novel monumental itu diceritakan Don bukan hanya menjadi pemimpin organisasi, tapi sebagai sumber kekuatan, pemimpin alamiah yang disegani, dituruti bahkan ditakuti.

 

Hari ini termilogi Don Vito Corleone sang God Father begitu hidup mengambarkan bagaimana dunia dan interaksi sosialnya berjalan. Suka tidak suka Don bagian dari sifat dasar manusia untuk menguasai satu sama lainnya, insting dasar memenangkan sesuatu yang bisa menghidupi. Realitas para Don inilah yang menguasai sistem hari ini. Mereka bekerja di belakang layar, ada tapi kerjanya bagai hantu. Seolah tak ada tapi menentukan. 

 

Dalam dunia mafia, Don mengatur segalanya, dari urusan bisnis, politik hingga pranata sosial kemasyarakatan seperti serikat buruh bahkan keagamaan, tak lepas dari pengaruh para Don, termasuk di dalamnya menguasai jalanan dan bisnis kotor lainnya.

 

Kenapa para don dalam dunia mafia begitu berkuasa, jawabannya karena untuk bertahan membutuhkan dukungan kelompok yang kuat, para kelompok yang bersaing memiliki Don nya masing - masing. Siapa yang kuat dialah yang menang. Individu yang tanpa kelompok betapapun hebatnya akan tergilas permainan kelompok lain.

 

Hari ini cerita Don ini terjadi dalam banyak aspek kehidupan kita. Praktek kartel dalam ekonomi, makelar kasus, mafia anggaran hingga proyek, sesuatu yang berkuasa mengatur segalanya. Dalam dunia birokrasi para Don ini juga berperan dilingkaran dalam penguasa. 

 

 

Di tengah menguatnya politik identitas warna organisasi ikut menentukan capaian individu di bidang - bidang tertentu. Bukan rahasia lagi penentuan jabatan atau suksesi di organisasi, instansi, komisi dan badan tertentu amat ditentukan restu para don ini. Mereka lah yang menyeleksi kelayakan siapa yang pantas untuk masuk dalam pengabdian suatu Komisi atau Badan tersebut. Jika tidak masuk lingkaran para Don jangan harap, setidaknya begitulah pengakuan teman yang pernah mencoba dan gagal.

 

Terakhir, saya di telpon teman yang mencoba peruntungan menjadi Ketua Ombudsman Provinsi Jambi. Ia meminta pandangan tentang jalur lobi yang bisa digunakan. Pertanyaan ini saya jawab jujur, " setahu saya gejala Don belum begitu merasuk ke Ombudsman, mungkin ada jalur loby yang bisa dilakukan sesuai latar belakang pengambil keputusan, tapi secara umum masih kapasitas dan kompetensi yang menentukan. Wallahu alam bishawab.

 

Mendengar jawaban saya sang teman terlihat antara percaya dan tidak. Mungkin ia kecewa karena sikap saya yang tak membantunya, tapi dalam hati saya mengatakan, " Saya bukan Don untuk ikut menentukan. "



Advertisement

Komentar Facebook