HOT TOPICS:
#Nasional





Menyoal Hasil Survei yang Berbeda

Sabtu, 27 Februari 2021 | 08:01:36 WIB


Ditulis oleh : Dr. Noviardi Ferzi, SE, MM

(Founder LKPR Grup Riset and Consulting)

 

Saya tidak menduga pertemuan malam kemarin (25/2) terjadi obrolan serius tentang Survei. Mengingat sahabat yang mengundang untuk makan malam seorang birokrat meski tugasnya di sekretariat dewan, selain itu musim Pilkada yang membuat orang teringat akan survei juga telah berlalu.

 

Namun ketika yang mengundang bertanya tentang fenomena survei politik yang kerap berbeda satu sama lainnya, saya pasrah saja. Walhasil sambil makan malam menikmati hidangan Seafood di Sarinande kawasan Murni, kami justru sangat serius dan mendalam berdiskusi tentang survei. Ternyata selain birokrat teman ini amat mengikuti perkembangan Survei. Minat yang unik dilihat latar belakangnya.

 

Persoalannya ketika Survei elektabilitas partai politik dalam versi Litbang Kompas dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) menampilkan hasil yang amat berbeda.

 

Survei Litbang Kompas yang ditampilkan pada harian Kompas edisi 22 Februari 2021, elektabilitas Partai Golkar tahun 2021 tersisa 3 persenan. Survei Litbang Kompas ini diadakan pada 27 Desember 2020 hingga 9 Januari 2021 dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak di 34 provinsi. Tingkat kepercayaan survei 95 persen dengan margin of error 2,83 persen.

 

Kemudian hasil survei LSI justru memperlihatkan hasil yang berbeda, dimana partai Golkar kokoh diperingkat tiga dengan elektabilitas 10 persen. Survei LSI ini dilaksanakan pada 25-31 Januari menggunakan metode multistage random sampling dengan 1.200 responden sebagai sampel basis. Margin of error dari ukuran sampel +/- 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

 

Tentu saja bukan hanya sekali ini hasil survei dari berbagai lembaga survei berbeda. Sejalan dengan pemilihan umum yang mendekat, kemungkinan lembaga survei untuk menampilkan hasil survei yang berbeda akan terjadi.

 

Terapan ilmu Psikometeri riset dan statistik membuktikan hasil survei sangat tergantung pada metodologi dan tolok ukur yang digunakan dalam menafsirkan data yang dikumpulkan dari responden. 

 

Namun secara mendasar ada tiga faktor yang dapat membuat hasil survei berbeda satu dengan lainnya.

 

Pertama, perbedaan momentum waktu pelaksanaan survei. Momentumnya waktu yang berbeda kemungkinan besar akan menghasilkan hasil yang berbeda. Karena survei itu punya tren, survei bulan Januari pasti berbeda dengan hasil bulan Maret.

 

Kedua, metode pengumpulan sampel yang digunakan. Dari sisi metodelogi kalau samplingnya atau cara pengacakan samplingnya beda, pasti hasilnya berbeda.

 

Terakhir, variabel pertanyaan yang diberikan kepada responden, jika pertanyaan yang diajukan beda maka hasilnya berbeda. Nah, itu menjadi sumber kenapa hasil survei berbeda.

 

Untuk menguji kredibilitas hasil survei, salah salah satu cara yang bisa dilakukan ialah dengan melihat profil demografi responden yang dijadikan data sampel. Apakah komposisi gender, usia, ekonomi status sesuai dengan komposisi populasi penduduk di Indonesia. Agama, tingkat pendidikan dan lain-lain.

Ketika data komposisi demografi tersebut tidak sesuai dengan realitas mayoritas penduduk di Indonesia, maka hasil survei akan lebih banyak meleset. karena jika komposisi demografi bergeser sedikit saja dari populasi maka hasilnya pasti akan berbeda.

 

Sehingga harus diingat jika membaca hasil survei jangan berdasarkan angkanya saja. Tapi perhatikan juga karakteristik teknis tambahan yang disajikan bersama hasil survei itu, seperti derajat toleransi kesalahan (Margin Error), Metode pengambilan data dan analisa data.

 

Margin of Error

 

Margin of error menggambarkan tingkat ketidakpastian hasil survei, dan berkaitan erat dengan jumlah sampel survei terhadap jumlah total populasi.

 

Semakin besar persentase margin of error maka semakin jauh suatu sampel tersebut dapat mewakili populasinya. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil margin of error, maka semakin dekat suatu sampel dalam mewakili populasi sesungguhnya, semakin besar sampel margin of errornya semakin kecil.

 

Metode Pengambilan Data

 

Ada berbagai macam metode pengambilan data yang digunakan dalam survei. Yang paling sering digunakan antara lain stratified systematic random sampling dan multistage random sampling.

 

Stratified systematic random sampling mengelompokkan populasi terlebih dahulu menjadi sub-sub populasi dengan kriteria yang sama. Setelah itu diambil sampel secara acak sesuai ukuran sampel, lalu dilanjutkan secara sistematis menurut suatu pola tertentu.

 

Sedangkan Multistage random sampling melakukan pengambilan sampel secara bertingkat. Misalnya, survei tahap pertama diambil dari tingkat kotamadya. Lalu pada tahap selanjutnya, sampel diambil dari tingkat kecamatan. Begitu seterusnya hingga tingkat terkecil dan jumlah sampel telah terpenuhi.

 

Selanjutnya, bertentangan dengan yang diyakini kebanyakan orang, saya termasuk orang yang meyakini besar sampel sesungguhnya lebih penting peranannya dalam menentukan akurasi temuan survei dibandingkan dengan keterwakilan semua anggota populasi dalam sampel.

 

Teknik pengambilan sampel yang berbeda ini akan memberikan analisis hasil riset yang berbeda pula, karena karakteristik metode yang digunakan berbeda dan bias jika dibandingkan satu sama lain.

 

Selanjutnya penyebab lain yang sering mengakibatkan kesalahan Survei berkaitan dengan sampel dan metode pengambilan data, yang dapat mengakibatkan kekeliruan pada hasil survei (Non Sampling Error), berupa kesalahan yang terjadi di luar akibat penggunaan sampel, melainkan terjadi saat proses pelaksanaan survei.

 

Pada suatu survei jika non sampling error terjadi cukup banyak, walaupun margin error yang ditetapkan kecil, tetap saja hasil yang diperoleh menjadi tidak akurat.

 

Beberapa jenis non sampling error di antaranya adalah responden tidak merespon saat di survei, respon yang salah dari responden, individu yang tidak sesuai dengan tujuan survei, pewawancara tidak jujur dalam mengisi kuisioner serta kesalahan input kuisioner.

 

Kesimpulannya penting untuk bersikap skeptis terhadap hasil survei. Bisa jadi pengambilan sampel tidak merata dan margin of error nya kelewat besar sehingga tak layak digunakan untuk mengambil kesimpulan.

 

Ke depan untuk mengantisipasi ketidak mapanan metodologi yang diterapkan oleh lembaga survei, perlu ditetapkan standar pelaporan, sehingga ada patokan apa saja parameter yang harus dilaporkan dan bagaimana cara melaporkannya dalam bahasa awam. Bila perlu, lembaga survei dibiasakan untuk menjalani proses telaah sejawat (peer review) atas temuan survei yang akan dirilis. Telaah sejawat lazim dilakukan di komunitas akademik dan saya yakin proses ini akan mengembalikan kredibilitas lembaga survei.

 

Karena walau bagaimanapun lembaga survei bertanggung jawab menyediakan informasi mengenai suasana hati para pemilih kepada tim sukses kandidat untuk membentuk strategi kampanye yang tepat. Tapi, ketika praktik riset lembaga survei dipertanyakan kebenarannya, maka temuan dan rekomendasinya tidak akan akurat. Wallahu alam bishawab. !

 



Advertisement

Komentar Facebook