HOT TOPICS:
#Nasional





SAH Bela Nasib Petani Agar Pemerintah Tak Impor Beras di Masa Panen Raya

Senin, 15 Maret 2021 | 07:31:15 WIB


Keberpihakan pada nasib petani yang menjerit karena menolak impor beras ditanggapi dengan nurani mendalam oleh Ketua DPD Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM atau lebih akrab disapa SAH.

 

Sadar kondisi Indonesia sebagai negara agraris, SAH bersama HKTI Jambi terus menyuarakan aspirasi petani yang merupakan pekerjaan mayoritas pekerjaan masyarakat Indonesia untuk bisa hidup makmur dan sejahtera.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mencatat pertanian merupakan sektor lapangan pekerjaan yang masih mendominasi sebesar 27,33 persen, dibandingkan sektor perdagangan (18,81 persen) dan industri pengolahan (14,96 persen). Sehingga sektor ini harus dilindungi oleh pemerintah.

 

Sehingga dalam upaya memperjuangkan petani, Anggota DPR RI ini menyayangkan keputusan pemerintah untuk mengimpor beras saat petani Indonesia sedang memasuki masa panen raya padi.

 

"Saya terkadang menangis jika membicarakan nasib petani padi kita, saat lagi panen malah pemerintah melakukan impor padi, saya tahu jeritan nurani mereka, orang tua juga dikampung dulu petani punya usaha penggilingan padi, saya ikut merasakan apa yang mereka rasakan," ungkap SAH dengan nada sendu kemarin. 

 

Terkait dengan hal ini, SAH meminta pemerintah membatalkan rencana impor beras tersebut, karena berpotensi menekan harga gabah dan merugikan petani lokal.

 

Kebijakan ini menurutnya membuat petani akan semakin rugi. Pasalnya, sebelum ada rencana impor beras saja, harga gabah di tingkat petani hampir selalu turun di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

 

Menurut SAH, rencana impor beras merupakan kebijakan tidak simpati pada masyarakat, apalagi diumumkan jelang panen raya. Meski belum ada kepastian terkait rencana tersebut, tetapi sudah berdampak langsung pada turunnya harga gabah petani secara signifikan.

 

"Puncak panen raya musim tanam Oktober-Maret 2020 adalah Maret-April 2021. Berdasarkan data potensi gabah kering giling (GKG) Januari-April mencapai 25,37 juta ton atau setara dengan 14,54 juta ton beras naik 3 juta ton dibandingkan periode yang sama 2020, anehnya malah pemerintah impor," jelasnya. 

 

"Pengumuman rencana impor beras tentu akan memberikan efek semakin menekan harga gabah petani."

 

Hal ini menurut legislator yang dikenal sebagai Bapak Beasiswa Jambi ini membuat harga gabah anjlok, menggerus keuntungan mereka yang sudah tak seberapa, ini tentu membuat petani menjerit dan sepakat untuk menolak rencana impor tersebut.

 

"Pantauan kita di HKTI, sekarang harga gabah di Jambi cuma Rp.3.300 perkilonya, sebelumya bisa Rp. 4.300 perkilo, dengan harga hanya Rp. 3.300 itu petani rugi. Tidak sesuai dengan biaya yang ia keluarkan," ungkapnya. 

 

Terkait dengan rencana tersebut, SAH mengatakan sikap HKTI Jambi tidak setuju, karena membuat petani kita makin susah, jelasnya.

 

Demi memperjuangkan ini, SAH mengaku akan berkoordinasi dengan Bulog terkait sejauh mana penyerapan gabah dari Petani di daerah.

 

"HKTI akan melakukan koordinasi dengan Bulog, tentang penyerapan gabah untuk petani. Saya juga akan melaporkan ke HKTI pusat terkait anjloknya harga gabah," tandasnya. (*)



Advertisement

Komentar Facebook