HOT TOPICS:
#Nasional





SAH: Pandemi Jadi Momentum untuk Memperbaiki Sistem Kesehatan Nasional

Sabtu, 08 Mei 2021 | 00:09:50 WIB


Anggota Komisi IX Bidang Kesehatan DPR RI Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM (SAH) mengatakan pandemi Covid-19 membuka gambaran mengenai sistem kesehatan Indonesia. Selama ini kinerja dari sistem kesehatan nasional belum optimal.

 

Dalam hal ini Anggota Fraksi Partai Gerindra DPR RI itu mengatakan sistem kesehatan nasional terpaut pada pencegahan penyakit yang kurang optimal, fasilitas kesehatan, farmasi, dan alat kesehatan belum memadai. Kemudian kapasitas tenaga kesehatan masih rendah, serta pemanfaatan pembiayaan kesehatan yang belum efisien.

 

"Berkaca pada masalah itu, tahun 2022 kita harus terus melanjutkan dan memperkuat pelaksanaan transformasi sistem kesehatan yaitu meningkatkan keamanan dan ketahanan kesehatan, menjamin akses supply side pelayanan kesehatan yang berkualitas di seluruh Indonesia, meningkatkan peran serta masyarakat dan memperkuat upaya promotif dan preventif," ungkap legislator yang dikenal sebagai Bapak Beasiswa Jambi tersebut. 

 

Melalui reformasi sistem kesehatan, Doktor Ilmu Ekonomi ini berharap tingkat kesehatan masyarakat bisa semakin membaik. Misalnya penurunan kasus baru Tuberkulosis (TB) dari di atas 300 per 100 ribu penduduk menjadi 231 per 100 ribu penduduk dan eliminasi malaria di 365 kota.

 

"Imunisasi dasar lengkap kita harapkan juga meningkat dari 57 persen menjadi 71 persen. Dan terdapat hubungan yang positif, relasi yang positif antara imunisasi standar dengan stunting. Jadi bayi itu memiliki kemungkinan stunting sekitar 1,78 persen dibandingkan yang memperoleh imunisasi dasar," ungkapnya.

 

Selain itu, SAH berharap pemerintah dapat menargetkan jumlah rumah sakit rujukan nasional bisa meningkat dari hanya 14 menjadi 30 rumah sakit, peningkatan puskesmas yang terpenuhi sembilan jenis nakes dari 31,9 persen menjadi 59 persen, serta mewujudkan seluruh puskesmas memiliki dokter.

 

"Kemudian RSUD setidaknya harus memiliki empat dokter spesialis dasar dan tiga dokter spesialis lainnya. Saat ini di bawah 60 persen bisa menjadi 80 persen. Dokter itu di antaranya spesialis anak, dokter bedah, anastesi dan lain-lain," pungkasnya.  (*)



Advertisement

Komentar Facebook