HOT TOPICS:
#Nasional





SAH Dukung Perkembangan Seni Gordang Sambilan di Provinsi Jambi

Selasa, 22 Juni 2021 | 07:41:00 WIB


JAMBI - Sukses diperantauan tak pernah melupakan akar budaya warisan leluhur. Kata ini tepat mengambarkan kecintaan Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM (SAH) terhadap seni budaya Mandailing Natal. 

 

Berbicara pada pelantikan pengurus Paguyuban Raptama organisasi masyarakat Jambi asal Mandailing Natal (Madina) Provinsi Sumatera Utara kemarin (19/6) di kediaman Ir. H. Arif Lubis di Pasir Putih Jambi Selatan kemarin, SAH yang merupakan Dewan Penasehat Raptama dengan fasih membicarakan sejarah tentang keberadaan suku Mandailing di Nusantara.

 

Menurut Anggota DPR / MPR ini, dalam sejarah Nusantara, keberadaan suku Mandailing sudah diakui secara luas. Hal ini terbukti dalam buku Negara Kertagama karangan Mpu Prapanca seorang sejarahwan Majapahit tahun 1365 menyebutkan Mandailing sudah dikenal luas kiprah dan keberadaanya di Nusantara. 

 

"Mandailing sudah dikenal dalam lintas perdagangan nusantara dari abad 13, pada masa itu orang mandailing sudah berinterksi dengan orang di nusantara dan manca negara, maka secara tradisi kita ini menyebar sampai hari ini," ungkapnya di hadapan warga Jambi asal Mandailing yang hadir di rumah pengusaha sawit terkemuka tersebut. 

 

Dalam kesempatan itu, Anggota DPR RI yang juga dewan penasehat Paguyuban Raptama Jambi mengajak masyarakat Jambi asal Madina Tapsel untuk selalu membina kebersamaan dalan menyatukan potensi membangun Provinsi Jambi.

 

Menurut Anggota DPR yang dikenal luas dengan program beasiswanya itu, salah satu potensi yang dimiliki orang Mandailing adalah kesenian Gordang Sambilan yang telah diakui sebagai warisan budaya nasional.

 

Di mana semangat untuk mengembangkan seni budaya menurutnya sejalan dengan filosofis dan arti dari kata Raptama sebagai nama organisasi.

 

"Paguyuban kita memakai nama Raptama yang memiliki arti adanya kesamaan pikiran, kesamaan keinginan dan kesamaan tujuan dalam memperkuat identitas melalui seni budaya khususnya Gordang Sambilan, sehingga semua anggota bisa sama - sama merasakan manfaat hadirnya Raptama."

 

Selain itu, Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Jambi ini mengingatkan hadirnya organisasi paguyuban yang berdasarkan kesamaan daerah jangan dijadikan sarana untuk mencari perbedaan satu sama lain sesama anak bangsa.

 

Bahkan menurutnya dengan hadirnya Raptama justru memupuk kecintaan kita pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk kita bangun dan pertahankan sepanjang masa.

 

"Raptama harus kita jadikan tempat untuk menyemai dan menyuburkan kembali kecintaan kita terhadap NKRI, dengan cara memelihara adat dan istiadat Mandailing dalam kehidupan."

 

Menurut Anggota Dewan Penasehat DPP Partai Gerindra tersebut, jika kita memelihara adat budaya lokal itu sama seperti usaha mempertahankan keanekaragaman budaya bangsa, karena budaya nasional itu sendiri lahir dari budaya daerah, tandasnya.

 

Gordang Sambilan, adalah alat musik pukul yang berasal dari Mandailing Natal, Sumatera Utara. Sesuai namanya, alat musik ini terdiri dari Sembilan buah gordang atau gendang. Kesembilan gendang yang besar dan panjang ini memiliki ukuran diameter yang tidak sama sehingga menghasilkan nada yang berbeda-beda.

 

Menurut SAH, asal muasal angka sembilan dalam alat musik ini masih merupakan misteri. Ada yang berpendapat bahwa jumlah sembilan gendang disesuaikan dengan jumlah raja yang berkuasa di Mandailing Natal pada masa itu, yaitu Nasution, Pulungan, Rangkuti, Hasibuan, Lubis, Matondang, Parinduri, Daulay, dan Batubara.

 

Sementara pendapat lain, mengatakan bahwa gendang berjumlah sembilan tersebut disesuaikan dengan jumlah pemainnya pada masa itu, yang terdiri dari raja, naposo bulung (kaum muda), anak boru, dan kahanggi.

 

Menurut cerita turun-temurun, Gordang Sambilan telah diperkenalkan sejak zaman Kerajaan Nasution, tepatnya sejak tahun 1575 oleh Raja Sibaroar. Bagi masyarakat Mandailing Natal, Gordang Sambilan merupakan alat musik yang sakral. Saat agama samawi belum tiba di daerah ini, alat musik ini kerap digunakan sebagai alat untuk memanggil arwah nenek moyang dalam ritual yang bernama Paturuan. Arwah nenek moyang yang masuk ke dalam medium bernama Sibaso itu lalu diminta untuk membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi, misalnya wabah penyakit.

 

Alat musik ini jelas SAH, kerap dimainkan sebagai sarana untuk meminta hujan saat kekeringan melanda. Sebaliknya meminta dihentikan hujan saat hujan berlangsung terus menerus dan telah menimbulkan kerusakan atau bencana.

 

Gordang Sambilan biasanya dimainkan dalam Horja Godang Markaroan Boru (upacara perkawinan) dan Horja Mambulungi (upacara kematian). Jika menggunakan alat musik ini untuk kepentingan pribadi, maka dibutuhkan ijin dari raja sebagai kepala pemerintahan dan dari Namora Natoras sebagai pemimpin tradisional melalui musyawarah adat yang disebut markobar adat.

 

Pada masa penjajahan Kolonial Belanda, Gordang Sambilan ditabuh sebagai bentuk perlawanan terhadap para penjajah. Gendang ini dipukul untuk menandakan kedatangan tentara Belanda sekaligus sebagai perintah pada para penduduk untuk segera mengungsi.

 

Seiring perkembangan zaman, alat musik ini juga ditampilkan di berbagai acara, seperti penyambutan tamu-tamu agung, festival budaya, hari raya, hingga dalam gelaran acara internasional seperti acara pembukaan Asian Games 2018 di Palembang, kemarin.

 

Untuk itu hal itu SAH mengajak warga Mandailing di Jambi untuk bisa mengembangkan kesenian ini sebagai identitas budaya yang memperkaya kesenian nasional. Kita harus bangga akan Gordang Sambilan, tandasnya. (***)



Advertisement

Komentar Facebook