HOT TOPICS:
#Nasional





Kopi yang Tak Terpisah Dari Budaya Masyarakat Kerinci

Selasa, 06 Juli 2021 | 14:49:25 WIB


Foto penulis: Wawan Novianto
Foto penulis: Wawan Novianto

Penulis : Wawan Novianto (Dosen IAIN Kerinci) 

Kopi Indonesia tidak terlepas dari peran kolonialisme Belanda dimana Pada 1696, Belanda pertama kali membawa masuk benih kopi arabika untuk ditanam di pulau Jawa. Hal tersebut tercantum pada buku Kopi: Aroma, Rasa, Cerita (2018) karya Yandhie Arvian Et Al terbitan Pusat Data dan Analisis Tempo Publishers.

 

Sejak saat itu, Belanda mulai membudidayakan nya di belahan bumi nusantara, seperti Sumatra Utara dan Aceh dan termasuk Kerinci. 

 

Kopi atau “kawo” dalam bahasa Kerinci  akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. 

 

Tidak hanya menjadi minuman tradisi masyarakat Kerinci, namun Kopi juga masuk dalam ritual-ritual adat yang menyatu dengan masyarakat. 

 

Di Kerinci, terdapat satu ritual meramal masa depan menggunakan air kopi. Hal ini dilakukan oleh orang-orang yang dianggap memiliki kemampuan mistis khusus. 

Mereka dapat membaca ramalan masa depan seseorang melalui sisa ampas kopi yang sudah diminum dituangkan dari gelas dan ditelungkupkan. 

Gelas bening yang ditelengkupkan secara berlahan menjadi hitam akibat ampas kopi yang bergerak turun dari atas kebawah. Setelah ampas kopi yang melekat di sekeliling gelas  mengering akan menampilkan gambaran abstrak seperti peta, jalur, garis lurus, putus-putus, lingkaran, simbol yang akan diterawang oleh sang paramal.

 

Dari gambaran ampas kopi dapat diketahui tentang kehidupan, kebahagian, hambatan, masa depan. Semua ramalan yang menggunakan kopi ini adalah salah satu “budaya kuliner tua” yang dikuasai oleh etnis Kerinci. 

 

 

Menikmati rasa dan aroma dari tradisi menyeruput Kopi Kerinci yang dikombinasikan dengan keahlian meramal melalui kopi adalah kearifan lokal yang menjadi salah satu daya tarik wisata kuliner yang belum dikembangkan secara luas oleh pemerintah daerah. Walaupun budaya ini masih hidup ditengah masyarakat Kerinci dalam skala terbatas.

 

Tidak itu saja, dalam rangkaian ritual adat, air kopi juga dimasukkan dalam salah satu hal yang harus ada dalam sesajen yang akan diberikan untuk roh leluhur masyarakat Kerinci. 

 

Kopi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kerinci,  dan kini kopi menjadi salah satu tulang punggung dalam perekonomian. 

 

Kopi bukan sekedar komoditas yang menguntungkan secara ekonomis, namun juga menjadi solusi permasalahan ekologis saat ini. 

 

Kerusakan hutan yang terjadi juga dapat dikurangi oleh berkembangnya budidaya kopi. Saat harga kopi membaik, masyarakat tidak perlu lagi melakukan penebangan hutan untuk mencari makan, namun bisa fokus mengembangkan kopi, baik dalam proses penanaman maupun proses hilir kopi seperti cafe-cafe yang menjamur saat ini. 

 

Kopi adalah sebuah tanaman yang memberi berkah bagi manusia. Oleh sebab itu, perlu kiranya pemerintah mensuport perkembangan kopi. 

 

Luasnya cakupan industri kopi, mulai dari komoditas hingga agro wisata, dapat menjadi peluang bagi pemerintah untuk memilih investasi pengembangannya.



Advertisement

Komentar Facebook