HOT TOPICS:
#Nasional





Dr. dr. Hj. Nadiyah Maulana, Sp.OG; Catatan Cinta dan Pengabdian untuk Ibu dan Anak di Jambi

Selasa, 27 Juli 2021 | 06:49:44 WIB


JAMBI - Ketika saya mengucapkan Sumpah Dokter, saat itulah saya benar-benar menyadari bahwa banyak tugas yang harus saya lakukan. Pengabdian luas dalam samudra bakti yang nyaris tak bertepi. Luas dan dalam bagi insan yang mengabdi, namun bisa juga buas menyeramkan jika kehilangan etika dan empati. Kesadaran akan kondisi ini membuat saya bertekad untul mengabdi setulus hati.

 

Sejak awal memilih Fakultas Kedokteran, saya memang sudah jatuh cinta dengan bidang kebidanan dan kandungan sejak masih kuliah S1 di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.

 

Atas dasar kecintaan ini pula, langkah saya tidak berhenti sampai mengucapkan sumpah lalu berjibaku dalam birokrasi, saya ingin terjun menanggani masyarakat, berada pada lini depan layanan.

 

Atas dasar pemikiran ini saya langsung mengambil pendidikan spesialis. Motivasi lain saya waktu itu, tentu agar bisa menjadi anak yang dibanggakan orang tua. 

 

Oleh sebab itu, begitu lulus dokter tahun 2000 saya pun memantapkan diri untuk belajar ilmu tersebut lebih dalam. Saya pun kemudian mendaftarkan diri untuk menjadi dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Universitas Brawijaya. Karena saat itu masih bebas dan boleh langsung lanjut sekolah. Mumpung masih fresh, saya kuliah lagi.

 

Alhamdulilah, saya berhasil lulus menjadi dokter spesialis kebidanan dan kandungan di usia 28 tahun, berhasil mewujudkan impiannya tersebut.

 

Saya lulus dari pendidikan spesialis dalam waktu 3,5 tahun. Tentu saya bahagia bisa menjadi dokter spesialis di usia muda. Bahkan bukan hanya bahagia, saya juga berbangga akan hal itu. Bahagia dan bangga karena prestasi ini membuat orang tua sangat bangga. "Orang tua menyekolahkan kan juga kerja keras. Saya bahagia bisa membuat mereka bangga. Alhamdulillah bisa lulus tanpa hambatan," ungkapnya.

 

Menjadi dokter spesialis di usia muda bukanlah tanpa tantangan, saya seringkali dikomentari oleh pasien karena dianggap terlalu muda. Namun bagi saya ini justru tantangan sekaligus bentuk penghargaan dari pasien. Sebab berarti pasien juga mengakui tak mudah menjadi dokter spesialis di usia muda.

 

Saya sejak awal sudah suka dengan kebidanan. Mengapa? Saya senang menjadi bagian dari proses kelahiran. Ada momen di mana satu keluarga sama-sama menunggu dan ibu berjuang untuk melahirkan. Saya ingin bisa terlibat langsung dan menjadi bagian dari kebahagiaan keluarga tersebut. 

 

Meski garis hidup saya berjalan, berproses seiring waktu, kini saya juga berprofesi sebagai Rektor Instititut Agama Islam Muhammad Azim (IAIMA), namun menjadi dokter spesialis kebidanan dan kandungan tetap saja menyenangkan. Jika selama ini masyarakat menilai profesi ini hanya sebatas tentang melahirkan saja, maka menurutnya ilmu kebidanan justru sangat luas.

 

Selepas menuntaskan studi kedokterannya pada 2004, saya menikah dengan suami Dr. dr. H. Maulana, MKM. Suami yang kini telah memberi saya lima buah hati. Suami yang membuat saya merasa utuh dan lengkap. Pernikahan ini membuat hati saya berlabuh di tempat asal sang yaitu Jambi.

 

”Meskipun tidak tahu Jambi seperti apa dulu, saya tetap bertekad menetap ke daerah ini sebagai seorang dokter, tentunya menjadi tantangan baru, saya seperti beradaptasi kembali. Saya pun sempat mengalami fase adaptasi, terutama cuacanya yang berbeda. Untunglah sedikit demi sedikit saya mulai bisa beradaptasi, bahkan menikmati suasana Jambi yang tenang."

 

Maka akhirnya, disinilah hidup saya bergulir bersama suami dan anak - anak, mengabdi pada dunia kedokteran membantu ibu dan anak lahir melihat dunia, dengan mendirikan RSIA Anisah. Karena bagi saya dan suami pengabdian pada ibu dan anak merupakan empati bagi awal hidup kemanusiaan. (*)



Advertisement

Komentar Facebook