HOT TOPICS:
#Nasional





Kajian Politik: Akseptabilitas, Titik Temu antara Popularitas dan Elektabilitas

Jumat, 21 Januari 2022 | 10:27:23 WIB


Oleh : Dr. Noviardi Ferzi dan Dr. Dedek Kusnadi (Peneliti dan Pengamat)

Pilkada masih lama, bahkan waktu pelaksanaannya masih tarik ulur antara KPU, DPR dan Pemerintah. Namun tema tulisan tentang politik nampaknya menarik minat banyak orang. Buktinya salah seorang teman Redaktur Media menyarankan saya untuk menulis tentang politik tapi yang berbau konstruk keilmuan yang lazim diperbincangkan di warung kopi, apalagi selain tulisan tentang PAE, Popularitas, Akseptabilitas dan Elektabilitas. Banyak yang membaca, kata Redaktur tadi.

 

Realitasnya, Faktor popularitas (terkenal), akseptabilitas (diterima) dan elektabilitas (dipilih) adalah modal amat sangat penting calon dalam tiap pemilihan (Election). Sekalipun berdiri sendiri, ketiga faktor itu terintegrasi jadi satu urutan gradasi nan tak terpisahkan. Itulah yang harus diraih para calon. Itu proses yang tak boleh ditinggalkan, artinya wajib dilakukan oleh para calon.

 

Popularitas adalah suatu fenomena sosial tentang persepsi kolektif masyarakat, yang menentukan siapa yang paling banyak dikenal orang. Sebagaimana fenomena sosial popularitas tidak menyentuh secara langsung aspek personal pemilih. Setelah dikenal ada upaya - upaya lain untuk itu. Istilahnya, lain bab nya.

 

Ada 2 macam popularitas, baik itu bersipat sosiometrik dan perceived. Popularitas sosiometrik muncul dari daya tarik individu, yang disukai karena berbagai sifat baiknya. Misalnya, karena dia memiliki kemampuan personal, memiliki empati dan sering membantu orang lain.

 

Sebaliknya, popularitas perceived terkenal tapi jarang disukai karena reputasinya yang kurang positif dan merugikan, Contohnya, terkenal karena kasus korupsinya, arogansinya dan perilaku minor lainnya.

 

Dalam ranah praktis, popularitas sosiometrik ini mengarah pada satu konstruk kesukaan atau akseptabilitas. Setelah popularitas sosiometrik, tahap berikutnya yang harus diraih adalah akseptabilitas.Dalam tahap akseptabilitas, pemilih menerima seorang calon. Penerimaan ini merupakan proses alam bawah sadar berbentuk persepsi yang terbangun.

 

Baik itu penerimaan akan kualitas, kompetensi, integritas, profesionalitas, personalitas, perilaku, prestasi, reputasi, kepemimpinan, visi dan lain-lain. Ada proses penilaian disini, dimana proses ini melahirkan penerimaan (akseptabilitas) pemilih terhadap calon. 

 

Karena begitu banyaknya aspek yang dipertimbangkan, maka pada hakekatnya prosedur menilai dan menerima itu adalah proses berfikir para pemilih. Proses akseptabilitas memerlukan waktu lebih lama dibandingkan popularitas dan akseptabilitas. 

 

Bagi setiap calon yang melalukan sosialisasi, tahap akseptabilitas menjadi moment crucial (paling penting) bagi kesuksesan calon. Disinilah nasib calon dipertaruhkan, berhasil atau gigit jari. Pada tahap ini pemilih mulai berfikir, siapa calon yang akan dielus. Agar berhasil melewatinya, calon harus berjuang ekstra keras.

Akseptabilitas merupakan kemampuan untuk menerima atau merespon intervensi atau perlakuan tertentu. Kemampuan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dimiliki baik secara faktual maupun potensial yang mampu menggerakkan individu untuk menerima suatu tindakan atau perlakuan. Lebih lanjut akseptabilitas sangat dipengaruhi oleh persepektif terhadap konteks, konten dan kualitas yang ada. 

 

Dalam tahap akseptabilitas, pemilih menerima seorang calon. Penerimaan ini merupakan proses alam bawah sadar berbentuk persepsi yang terbangun.

 

Baik itu penerimaan akan kualitas, kompetensi, integritas, profesionalitas, personalitas, perilaku, prestasi, reputasi, kepemimpinan, visi dan lain-lain. Ada proses penilaian disini, dimana proses ini melahirkan penerimaan (akseptabilitas) pemilih terhadap calon. 

 

Karena begitu banyaknya aspek yang dipertimbangkan, maka pada hakekatnya akseptabilitas garis yang mengubungkan antara popularitas dan elektabilitas, disini kunci proses berfikir para pemilih. Proses akseptabilitas memerlukan waktu lebih lama dibandingkan popularitas, bahkan untuk elektabilitas.

 

Bagaimana membentuk akseptabilitas ?

 

Jika membentuk popularitas bisa dilihat secara gamblang bahkan kasat mata, baik dengan sosialisasi, branding figur melalui iklan, tampilan gambar di ruang publik, media massa, sosial dan jaringan digital. Pembentukan akseptabilitas jauh lebih abstrak dibanding usaha - usaha pembentukan popularitas. 

 

Membentuk penerimaan seorang calon suatu usaha mempengaruhi alam sadar, bagaimana membuat orang suka, nyaman, senang, bahagia tolak ukurnya amat personal. Goalnya tentu bagaimana membuat orang mau memilih seorang calon. Disinilah akseptabilitas menjadi pintu masuknya, kesukaan yang kuat akan mengalahkan racun terkuat sekalipun, apa itu ? Pengaruh politik uang. Bukan sekali kita dengar, jika orang sudah suka, uang calon lain di ambil, tapi pilihan tetap pada mereka yang mereka sukai. 

 

Secara umum masyarakat suka akan kejeniusan seorang calon, tapi mereka lebih suka calon yang surplus empati, sehingga prasyarat pembentukan akseptabilitasnya empati yang meluas ke keterampilan interpersonalnya.

 

Membentuk akseptabilitas pemilih sangat menghargai calom yang memiliki banyak empati antarpribadi, bukan sekedar memiliki banyak empati terhadap umat manusia. 

 

Penelitian menunjukkan calon yang berempati dapat membuat sebagian besar masyarakat merasa suka dan terlibat dalam memilih. Dalam kompilasi survei pemilu di 34 negara demokrasi yang penulis lakukan, 61 persen responden sangat menyukai dengan calon pemimpin yang sangat berempati, dan mereka mengatakan memilihnya di TPS.9.

 

Seorang calon bisa saja membranding dirinya selama bertahun-tahun, tentang tema besar pendidikan, keagamaan, infrastruktur, layanan sosial dan bahkan bantuan sembako, namun pemilih mengharapkan lebih dari itu. Ini, yang terkadang tidak disadari antara Empati dan Interpersonal. Masyarakat ingin punya pemimpin layaknya teman, bukan sekedar visioner yang asosial.

 

Selain itu dalam politik akseptabilitas hal yang diterima secara personal, ini juga sering di sama - ratakan, oleh calon bahkan pengamat, padahal dalam penelitian tuah bersama akan kesukaan hanya dimiliki oleh pribadi - pribadi. Namun, sebaliknya, mudharat ketak sukaan bisa berimbas secara kelompok atau pasangan calon lain.

 

Penjelasan akan hal ini bisa dilihat dari berbagai kasus tidak linearnya Popularitas, Akseptabilitas dan Elektabilitas (PAE) antara Kepala dan wakilnya. Kasus yang dominan PAE proporsi terbesar tetaplah dimiliki kepala daerahnya, meski di waktu normal, PAE ini serasa proporsional, namun saat pemilihan PAE hanya di akui milik kepala daerah. Tidak percaya ? Studi di 34 negara termasuk di Indonesia membuktikannya.

 

Untuk mengantisipasi ini, strategi penetrasi ke pemilih wajib dilakukan. Calon harus memiliki kontak person sebagai jaringan yang bekerja di masyarakat. Jika tidak mereka akan membuang energi, arang habis besi binasa. Kesimpulannya, untuk Pilkada dan Pileg, bentuklah akseptabilitas pada pribadi, hubungan interpersonal, melalui jaringan dan tokoh kunci. 



Advertisement

Komentar Facebook