Beritajambi.co - Pilwako Kota Jambi, pasangan Maulana-Diza semakin memperkokoh posisinya sebagai kandidat yang sulit dikalahkan oleh pasangan HAR-Guntur. Pengamat komunikasi politik Jambi, Dedi Saputra menilai bahwa, terdapat beberapa faktor kunci yang membuat Maulana-Diza unggul, baik dari segi figur, program, maupun strategi komunikasi yang diterapkan.
Kekuatan Figur Maulana-Diza
Menurut Dedi, sosok Maulana, yang merupakan mantan wakil wali kota, telah memiliki rekam jejak yang solid di pemerintahan Kota Jambi. Ia dikenal sebagai sosok birokrat yang berpengalaman, menguasai medan politik lokal, dan memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat. Sementara itu, Diza Aljosha Hazrin, sebagai wakilnya, merupakan figur muda yang membawa energi baru serta memiliki koneksi dan jaringan nasional yang kuat. Kombinasi ini dianggap sebagai formula sempurna yang memadukan pengalaman birokrasi dan semangat inovatif anak muda, yang tidak dimiliki oleh pasangan HAR-Guntur.
Sebaliknya, Menurut Dedi Saputra, pasangan HAR-Guntur dinilai kurang menunjukkan sinergi kuat antara kandidat walikota dan wakilnya. Guntur Mukhtar dianggap belum memiliki daya tarik yang cukup kuat di kalangan pemilih muda Kota Jambi. Kehadirannya dinilai hanya membawa dukungan dari mesin politik tanpa menggarap basis elektoral yang signifikan, sehingga sulit menandingi soliditas pasangan Maulana-Diza.
Program yang Jelas dan Terukur
Selain aspek figur, Dedi Saputra juga memaparkan, pasangan Maulana-Diza juga unggul dari segi program. Dedi menyoroti bahwa pasangan ini menawarkan program-program yang lebih jelas, konkret, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Program mereka, terutama di bidang pembangunan infrastruktur, pendidikan, ekonomi kreatif dan kesehatan, dinilai realistis dan langsung menyasar isu-isu utama di Kota Jambi. Selain itu, visi Maulana yang telah diimplementasikan selama menjabat memperkuat kredibilitasnya di mata pemilih, yang melihat langsung dampak kebijakan yang diambil.
Di sisi lain, Dedi mencatat, HAR-Guntur dinilai belum mampu menawarkan program yang sefenomenal Maulana-Diza. Meskipun HAR merupakan figur yang berpengalaman, program yang disampaikan belum menyentuh langsung ke akar permasalahan masyarakat, serta terkesan hanya berupa janji tanpa roadmap yang jelas. Hal ini menjadi celah yang sulit ditutupi oleh HAR-Guntur dalam upaya mereka mengejar ketertinggalan dari Maulana-Diza.
Tagline yang Kuat dan Relevan
Tidak hanya dalam hal program, Dedi juga menilai bahwa, Maulana-Diza unggul dalam hal branding politik. Dengan tagline "Kota Jambi Bahagia" yang kuat dan mudah diingat, Maulana-Diza berhasil membangun citra yang relevan dengan aspirasi warga Kota Jambi. Tagline mereka mencerminkan harapan akan perubahan dan kesinambungan pembangunan yang telah dirintis, memberikan kesan positif dan optimisme bagi masyarakat.
Sementara itu, tagline dari pasangan HAR-Guntur dinilai tidak konsisten dan kurang mampu menarik perhatian masyarakat luas. Meskipun mereka mencoba memposisikan diri sebagai alternatif, branding politik yang mereka usung belum mampu menciptakan keterikatan emosional dengan pemilih.
Dari berbagai aspek tersebut, Dedi Saputra menyimpulkan, pasangan Maulana-Diza terlihat lebih unggul dibandingkan HAR-Guntur. Figur yang kuat, program yang jelas, serta branding yang tepat menjadi keunggulan utama yang sulit ditandingi. Jika pasangan HAR-Guntur tidak segera memperkuat strategi mereka dan menunjukkan program yang lebih konkret, peluang mereka untuk mengalahkan Maulana-Diza dalam Pilwako Kota Jambi semakin mengecil, namun demikian hal tersebut sulit dilakukan mengingat waktu hanya tersisa sedikit.(*)