JAMBI – Ketua DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Jambi, Dr. Ir. H. A.R. Sutan Adil Hendra, MM, atau SAH menegaskan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pengingat serius bagi banyak negara, termasuk Indonesia, tentang pentingnya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Berbicara di Jakarta, Senin, 9 Maret 2026 kemarin, Sutan Adil Hendra mengatakan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas rantai pasok pangan dunia. Ia menyebut perang dapat memicu kenaikan harga energi, pupuk, dan biaya logistik yang akhirnya mempengaruhi produksi pangan di berbagai negara.
“Perang AS dan Iran hari ini menjadi bukti nyata bahwa ketahanan pangan adalah isu strategis. Ketika konflik terjadi, rantai pasok global langsung terganggu, harga energi naik, pupuk mahal, dan ujungnya produksi pangan dunia ikut tertekan,” ujarnya.
Pria kerap dijuluki bapak beasiswa Jambi itu menjelaskan bahwa kawasan Teluk, khususnya jalur perdagangan seperti Selat Hormuz, merupakan jalur vital perdagangan energi dan bahan baku industri global. Gangguan di kawasan ini dapat berdampak pada lonjakan harga minyak dan pupuk yang menjadi input utama sektor pertanian.
Bahkan beberapa lembaga internasional memperingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan meningkatkan kerawanan pangan di banyak negara karena gangguan distribusi dan melonjaknya biaya produksi.
Karena itu, Sutan Adil Hendra menegaskan Indonesia harus menjadikan sektor pertanian sebagai pilar utama ketahanan nasional, bukan sekadar sektor ekonomi biasa.
“Pelajaran dari konflik global ini jelas: negara yang kuat adalah negara yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Ketika dunia terguncang oleh perang, negara dengan ketahanan pangan kuat akan tetap stabil,” katanya.
Ia mendorong pemerintah untuk mempercepat program swasembada pangan melalui peningkatan produksi domestik, penguatan cadangan pangan nasional, serta perlindungan terhadap petani sebagai produsen utama.
Selain itu, HKTI Jambi juga menilai daerah memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Dengan potensi lahan pertanian yang luas, Jambi dinilai mampu menjadi salah satu penyangga produksi pangan di Sumatera.
“Jambi punya peluang besar memperkuat sektor pangan, mulai dari padi, jagung hingga komoditas hortikultura. Jika dikelola serius, daerah bisa menjadi bagian penting dari sistem ketahanan pangan nasional,” tegasnya.
Sutan Adil Hendra menambahkan bahwa momentum ketegangan geopolitik global seharusnya menjadi alarm bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan impor pangan dan memperkuat kemandirian produksi dalam negeri.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal pertanian, tetapi soal kedaulatan bangsa,” tutupnya. (*)