HOT TOPICS:
#Nasional





Tambang, Sungai, dan Warga yang Dilupakan

Kamis, 27 November 2025 | 11:47:50 WIB


Oleh : Azira Novia Rizal, S.Sos., M.Si. (Pengamat Sosial)

26 November 2025

 

 

Di banyak tempat di negeri ini, sungai adalah halaman depan kehidupan. Ia bukan sekadar aliran air, melainkan ruang sosial, dapur, lahan penghidupan, tempat bermain anak, tempat mandi sore hari, hingga identitas budaya. Sungai adalah ibu yang memberi makan, merawat, dan menyatukan. Namun hari ini, sungai yang dulu menjadi sumber hidup justru berubah menjadi korban kerakusan manusia. Sungai Batanghari adalah salah satu contohnya. Aliran panjang yang dulu memberi kehidupan bagi ribuan keluarga, kini menanggung limbah tambang yang merusak. Ketika air menjadi keruh, ikan sulit ditangkap, dan warga harus membeli air bersih untuk minum dan memasak, di situlah lahir kemiskinan baru: kemiskinan yang lahir dari alam yang diperkosa atas nama “pembangunan”.

 

Tambang selalu datang membawa janji. Lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, peningkatan ekonomi daerah, bahkan ada yang meyakini tambang sebagai jalan pintas menuju “kemajuan”. Namun pertanyaannya: siapa sebenarnya yang menikmati kemajuan itu? Apa artinya bekerja di tambang jika tubuh pekerjanya harus menghirup polusi, kulitnya terpapar bahan beracun, dan keringatnya dibayar murah? Apa gunanya pembangunan jika air sungai tak lagi bisa diminum, sawah tak lagi subur, dan anak-anak tumbuh besar di tepi air beracun? Nyatanya, keuntungan besar lebih sering mengalir ke para pemodal dan elite, sementara perkampungan sekitar hanya mewarisi lubang-lubang bekas galian, sungai yang mati, dan masyarakat yang kehilangan sumber nafkah.

 

Kerusakan sungai bukan hanya merusak ekologi, tetapi juga meretakkan solidaritas sosial. Warga yang dulu menjaga lingkungan bersama, bergotong royong membersihkan sungai dan saling berbagi hasil tangkapan ikan, kini terpecah karena desakan hidup. Ada yang memilih bertahan sebagai nelayan tradisional meski hasil terus menurun, ada yang terpaksa bekerja di tambang demi menyambung hidup. Perdebatan tentang “mana penghidupan yang lebih benar” perlahan memecah keharmonisan warga. Di tengah kekacauan itu, negara dan perusahaan sering kali hadir terlambat atau bahkan absen. Seperti biasa, bencana lingkungan tidak pernah memukul semua orang secara adil. Mereka yang paling bergantung pada sungai justru yang paling menderita: nelayan sungai yang kehilangan tangkapan, ibu rumah tangga yang harus berjalan lebih jauh mencari air bersih untuk anak-anaknya, petani kecil yang lahannya tercemar, pedagang ikan yang dagangannya makin sedikit dan mahal.

 

Merekalah wajah pertama dari bencana yang jarang disebut dalam rapat-rapat pemerintah atau laporan-laporan perusahaan tambang. Nama mereka tak tercantum dalam neraca keuangan, meski mereka yang menanggung biaya paling besar. Ironisnya, mereka yang menikmati keuntungan tambang tidak mandi di air keruh, tidak memasak dengan air beracun, dan tidak tinggal di bantaran sungai yang rusak. Mereka hidup jauh dari masalah yang mereka ciptakan. Tak ada yang menyangkal bahwa sumber daya alam bisa menjadi berkah. Tetapi berkah itu hanya nyata bila dikelola dengan tanggung jawab, keberlanjutan, dan keadilan. Tanpa itu, sumber daya alam berubah menjadi kutukan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya: tanah yang retak, sungai yang mati, dan anak-anak yang tumbuh dalam lingkaran kemiskinan ekologis.

 

Pembangunan sejati bukan sekadar soal angka produksi dan pertumbuhan ekonomi di atas kertas. Pembangunan sejati adalah ketika manusia dapat hidup layak tanpa menghancurkan rumahnya sendiri. Menulis tentang tambang dan sungai berarti memberi suara kepada mereka yang jarang terdengar, yang hidupnya berubah diam-diam di balik euforia “investasi” dan “proyek strategis”. Sebab jika sungai mati, masyarakat pun ikut mati pelan-pelan. Bukan karena tenggelam, tetapi karena perlahan kehilangan tempat hidup, kehilangan kesehatan, kehilangan penghidupan, dan pada akhirnya kehilangan martabat sering kali tanpa pernah diakui sebagai korban.

 

Pada titik ini, pertanyaannya menjadi sangat sederhana namun tajam: benarkah kita sedang membangun kemajuan, atau justru sedang menghancurkan fondasinya sendiri baik itu sungai, manusia, dan masa depan?



Advertisement

Komentar Facebook